![Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]](https://asset.asean.biz.id/menjadi-dewa-di-kehidupan-kedua--s1-.webp)
Yeon-Jin tak bisa berkata-kata, ia menatap ke A Yeong lalu menatap dengan emosional ke Cia Changyi. Yeon-Jin tak berharap ia mendengar itu dari Cia Changyi.
"Aku tahu kau pasti melupakannya, ini pasti karena kau telah disucikan sebelumnya tapi kalian adalah pasangan yang sangat serasi saat dulu," ucap Cia Changyi berbisik ke telinga Yeon-Jin.
"Ehem, sepertinya itu tak perlu dibahas lagi tapi apa urusannya kau dengan ku? Aku rasa kau tak akan melakukan sesuatu yang tak berguna bagi mu," tanya A Yeong kepada Cia Changyi.
"Aku setelah tahu kau dalang dari tempat ini jadi ingin mendekatkan mu dengan Yeon. Dan juga aku ingin meminta kontribusi ilmu dan penelitian mu untuk membantu ku," ucap Cia Changyi mengutarakan maksudnya.
"Membantu? Dengar ini ya, aku punya prinsip yang aku junjung selama hidupku," ucap A Yeong, ia selama ini mendengar hal itu sebagai hal yang menyuruhnya bertindak kriminal.
"Tenanglah, jangan khawatir dengan ideologi mu itu. Aku tahu semua tentang mu, jadi aku rasa kau cocok untuk membantu ku mengalahkan iblis dan para pengikutnya," ucap Cia Changyi menenangkan A Yeong.
"Aku bingung mengapa kau bisa tahu tentang ku sekedemikian rupa. Kau ini siapa sih?" tanya A Yeong, ia sebenarnya ingin menyerang Cia Changyi tapi ia tak mau bertindak gegabah.
"Anggap saja aku sebagai ahli nujum. Jadi A Yeong, apakah kau mau menjadi adik ipar dan juga partner kita," ucap Cia Changyi.
"Apa maksudmu dengan adik ipar, kau pikir aku setuju jika harus menikah dengannya," ucap Yeon-Jin yang membuat A Yeong menjadi heran karena baru pertama kali ditolak oleh pria.
Jangan salah ya, kecantikan A Yeong ini tidak bisa dijelaskan. Intinya A Yeong itu memeliki wajah khas orang eropa dengan rambut pirang bahkan kulitnya sangat lembut melebihi bayi.
"Hei ini sudah ditakdirkan, hal ini sudah tertulis di batu takdir kalau kau dan A Yeong memang berjodoh," ucap Cia Changyi, ia cukup terkejut dengan sikap menolak dari Yeon-Jin.
__ADS_1
Padahal di dunia sebelumnya saat A Yeong dan Yeon-Jin bertemu, mereka saling jatuh cinta dan mereka memiliki hubungan romantis yang sangat toxic seperti Joker dan Harley Queen.
"Terserah dengan batu takdir itu. Nona, aku akan memberimu penawaran yang masuk akal. Jika kau mau membantu kami maka akan aku sempurnakan penelitian mu dengan darah ku," ucap Yeon-Jin.
Walaupun A Yeong dan Yeon-Jin punya darah yang sama tapi darah milik Yeon-Jin lebih stabil dibandingkan dengan darah A Yeong ditambah lagi darah Yeon-Jin telah disucikan.
"Kalau kau masih ragu maka aku juga bisa membantu mu menyucikan diri dari takdir iblis, aku sudah dimurnikan dari pengaruh iblis itu," ucap Yeon-Jin yang membuat A Yeon terkejut.
"Kau bagaimana bisa terlepas dari pengaruh iblis? Hal itu mustahil untuk dilakukan kalau tidak dengan berkat dewa agung, oh jangan-jangan kau sudah bertemu dia?" tanya A Yeong.
Yeon-Jin mengangguk, hal itu membuat A Yeong membelalakkan matanya sambil menutup mulutnya dengan tangan. Ia menampilkan ekspresi terkejut dan syok secara bersamaan.
A Yeong kemudian berlari dan memegang kedua tangan Yeon-Jin, yang tadinya ekspresinya terkejut dicampur syok namun sekarang ia malah tersenyum bahagia bahkan menitikan sedikit air mata.
Saat A Yeong menyentuh tangan Yeon-Jin. Ia menjadi emosional, ia merasa sangat dekat dan menginginkan Yeon-Jin untuk dirinya seorang. Ia rasa jika dia rela berkorban jiwa dan raga demi Yeon-Jin yang menurutnya pria tertampan di dunia.
Cia Changyi tersenyum melihat hal itu, ia jadi teringat hubungan mereka yang sangat romantis di dunia sebelumnya. Cia Changyi lebih suka melihat pasangan romantis daripada dirinya sendiri diposisi itu.
"Bisakah kau lepaskan, kau sangat berantusias dan langsung mempercayai ku padahal tadi kau sangat banyak tanya dengan Changyi. Kita bisa langsung saja mulai pemeriksaannya," ucap Yeon-Jin.
Yeon-Jin langsung menarik tangannya sehingga terlepas dari genggaman erat A Yeong. A Yeong pun jadi canggung lalu salah tingkah, ia pun langsung melakukan pemeriksaan ilmiah.
__ADS_1
"Oke kalau gitu aku akan menunggu diluar," ucap Cia Changyi, saat ia hendak beranjak pergi secara tiba-tiba Yeon-Jin memegang tangan Cia Changyi dengan erat dan tak membiarkannya pergi begitu saja.
"Aku ingin kau menemaniku, kita selalu bersama jadi untuk apa kau pergi. Pokoknya aku tak mau diperiksa jika tidak ditemani oleh mu di sisiku," ucap Yeon-Jin, ia merengek seperti anak kecil saja.
"Huh, baiklah. Kau tak keberatan kan A Yeong jika aku ikut melihat prosesnya," ucap Cia Changyi, A Yeong sendiri tak masalah dengan hal itu sehingga mereka pun mulai prosesnya.
"Tunggu, sebelum itu kita harus menunjukkan wujud asli kita kan kepada nona ini," ucap Yeon-Jin.
"Ya kau benar, ya ampun karena terlalu lama dengan tubuh ini sehingga lupa dengan wujud sendiri," ucap Cia Changyi.
Lalu mereka pun melepas pengaruh artefak pengubah wujud, sehingga tubuh dewasa yang tadi ada dihadapan A Yeong sekarang berubah menjadi wujud anak kecil berusia 10 tahunan yang imut dan tampan.
"Hah, kalian bisa berubah wujud tanpa aku ketahui. Benar-benar hebat, tapi aku tak menyangka jika kalian benar-benar masih sangat muda," ucap A Yeong.
"Ya inilah wujud asli kami. Sudahlah tak usah dipikirkan, walaupun tubuh Yeon-Jin masih anak-anak tapi mental dan tenaganya sangat cocok untuk kau jadikan suami," ucap Cia Changyi.
"Sudah-sudah, cepat nona ambil darah ku dan lakukan semua hal yang bisa menyempurnakan penelitian mu," ucap Yeon-Jin, ia tak suka mendengar hal seperti itu dari Cia Changyi.
Beberapa jam A Yeong melakukan penelitiannya untuk mencoba memahami darah dari Yeon-Jin, karena memang penelitiannya mendekati sempurna jadi ia hanya membutuhkan waktu beberapa jam untuk menyempurnakannya saat bahan terakhir yang dibutuhkan sudah ia dapatkan.
"Nona, sebenarnya apa yang kau mau buat? Aku sama sekali tak mengerti mengapa kau membutuhkan darah ku," tanya Yeon-Jin yang merasa penasaran karena jujur ia tak mengerti sama sekali.
__ADS_1
"Aku memang suka bereksperimen dengan beberapa tanaman dan rencananya aku mau membuat tanaman tipe tentara yang bisa membunuh seperti meriam," ucap A Yeong menjelaskan penelitiannya.