Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]

Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]
Chp 40 : Mandi


__ADS_3

Lei Mei dapat menggunakan kedua tangannya dengan baik, ia menggunakan tangan kirinya untuk memukul sekuat tenaga tanduk kijang itu sedangkan tangan kanannya berusaha mengambil kembali pedangnya di udara.


Namun Lei Mei kurang cepat, kijang itu keburu mengibaskan tanduknya ke Lei Mei sehingga membuat Lei Mei terpental ke belakang dan kali ini cukup jauh.


Lei Mei merintih kesakitan, ia melihat pedangnya yang berada di dekat kijang itu jauh dari jangkauannya. Perkiraannya salah, pikir Lei Mei.


Kijang itu memandang Lei Mei dengan tatapan benci, ia pun berlari menuju ke arah Lei Mei dengan tanduk yang kuat dan kokoh itu bersiap untuk menyerang tubuh Lei Mei.


Lei Mei tak bergerak, ia tak segera bangkit dan hanya bisa menatap kijang itu yang semakin dekat dan saat jarak mereka hampir dekat Lei Mei mulai beraksi.


Kakinya ia putar ke arah kepala bagian samping kijang itu dengan kekuatan yang tersisa ditubuhnya, kijang itu pun terjatuh karena serangan itu.


Tebakannya benar kalau pipi kijang adalah kelemahannya, dulu ia sempat memasak daging kijang dan merasakan kalau tekstur pipinya sangat rapuh dan lembek.


Lei Mei tak menyia-nyiakan hal itu, ia segera berlari menuju ke pedangnya dan saat berbalik ia segera menebaskan pedangnya ke arah kijang yang mendekatinya.


Setelah serangan itu Lei Mei langsung melompat lalu menghunuskan pedangnya ke kepala kijang itu, darah segar pun muncrat ke wajah Lei Mei dan juga pakaiannya.


Lei Mei menghela nafas lalu langsung jatuh pingsan, hal terakhir yang ia lihat sebelum tak sadarkan diri adalah sosok Cia Changyi dan Yeon-Jin yang menghampirinya.


"Yeon kau urus kijang itu, aku akan mengurus Lei Mei," ucap Cia Changyi yang segera mengangkat tubuh Lei Mei menuju ke tempat yang lebih nyaman baginya.


Yeon-Jin hanya mengangguk, ia pun segera memutilasi tubuh kijang itu untuk stok makanan mereka kedepannya.


"Apa Changyi akan menggendongku kalau aku jatuh pingsan?" gumam Yeon-Jin mengingat Cia Changyi yang membawa Lei Mei pergi.

__ADS_1


Tak lama Cia Changyi berada di sungai, ia segera membasuh wajah dan pakaian Lei Mei sampai bersih lalu kemudian ia transfer energi mutiara cahaya dewa ke tubuh Lei Mei.


Hal itu Cia Changyi lakukan untuk memulihkan tubuh Lei Mei setelah pertarungan itu, walaupun Cia Changyi harus menahan sakit karena mentrasfer energinya bahkan sampai ia berkeringat dingin.


Segera setelah selesai Cia Changyi langsung terjatuh di samping Lei Mei, ia masih dalam keadaan sadar hanya saja lemas karena mentransfer energi cukup banyak.


Beberapa saat kemudian Yeon-Jin pun datang sambil membawa daging kijang itu yang ia masukkan kedalam karung, ia langsung melihat pemandangan yang membuatnya kesal.


Yeon-Jin langsung melempar karung berisi daging kijang itu ke tubuh Cia Changyi, karena mendadak membuat Cia Changyi terkejut lalu terjatuh ke bawah bersama karung itu.


"Yeon kau sangat nakal ya, aduh sakit tahu gak," ucap Cia Changyi yang merasa sakit di tubuhnya bertambah, ia pun segera meminum ramuan untuk memulihkan tubuhnya.


"Bagaimana keadaan Lei Mei, kenapa dia basah dan lagi kau tidur di sampingnya. Jangan-jangan kau ambil kesempatan dalam kesempitan ya," ucap Yeon-Jin curiga.


"Oh, begitu. Syukurlah kalau kau tak melecehkan Lei Mei," ucap Yeon-Jin yang merasa malu.


"Itu tidak mungkin aku melecehkan Lei Mei, aku ini pendekar putih sejati jadi tidak mungkin melakukan perbuatan bejad itu," ucap Cia Changyi membela diri.


Tak lama kemudian Lei Mei pun bangun, ia pun segera di dekati oleh Cia Changyi yang menyadari duluan kalau Lei Mei sudah bangun.


"Lei Mei kau tak apa kan? Selamat ya kau berhasil membunuh kijang itu dan sebagai hadiahnya aku akan memasakkan mu daging kijang yang enak hasil buruan mu," ucap Cia Changyi.


"Ah iya terima kasih senior, tapi tadi aku pingsan berarti aku lemah kan bagaimana kalau aku bertarung melawan lebih banyak musuh bisa-bisa aku terbunuh," ucap Lei Mei murung.


"Hei tenanglah, aku juga dulu seperti mu malah lebih parah aku harus ditolong seseorang sedangkan kau dapat membunuh kijang itu tanpa bantuan kami jadi kau lebih hebat," ucap Yeon-Jin menyemangati.

__ADS_1


"Baiklah karena kita sudah berada di dekat sungai berarti kita bisa mandi, Lei Mei ini cincin penyimpanan aku telah memindahkan barang mu ke sini dari cincin ku dan sekarang kau bisa mandi tapi jangan jauh-jauh," ucap Cia Changyi.


Lei Mei pun mengambil cincin itu kemudian beterima kasih lalu ia pun menuju ke bagian sungai yang cukup tertutup oleh batu-batu besar menghalangi.


"Ayo kita mandi bersama, sudah lama aku tak mandi di sungai di wilayah utara rasanya pasti sejuk," ucap Cia Changyi dengan semangat kepada Yeon-Jin.


"Tidak aku akan mandi terpisah," ucap Yeon-Jin yang panik, ia pun bergegas menuju bagian lain dari sungai itu untuk segera mandi.


"Ada apa dengan Yeon, masa sih dia malu kan kita sama-sama laki-laki?" pikir Cia Changyi dalam hati namun ia menepis itu kemudian segera mandi.


Air sungai di wilayah utara memanglah sejuk, mereka mandi cukup lama karena memang seorang pengelana jarang mandi jadi mereka hanya memakai wewangian untuk menutupi bau badan mereka.


Seusai mandi mereka pun menghabiskan malam dengan menyantap makanan hasil buruan Lei Mei, daging kijang itu menjadi beberapa makanan yang dibuat oleh Cia Changyi.


"Memang makanan buatan senior Changyi paling mantap, aku sangat senang bisa setiap hari makan makanan enak. Pasti sangat beruntung yang menjadi istri senior," ucap Lei Mei.


"Iya kau sangat pandai memuji," ucap Cia Changyi sambil mengelus rambut Lei Mei.


"Ehem sepertinya sudah dengan saling rayunya. Changyi apakah kita akan singgah di kota terdekat atau langsung menuju ke gunung api?" tanya Yeon-Jin yang sudah selesai makan.


"Ya kita akan singgah dulu pastinya, kita juga tidak sedang buru-buru jadi kita bisa liburan juga," ucap Cia Changyi yang membuat Lei Mei bersemangat mendengar kata liburan.


"Yeay kita liburan. Aku pikir kita hanya akan membunuh monster saja," ucap Lei Mei bersemangat yang membuat Cia Changyi tersenyum.


"Lei Mei sebelum kita ke kota terdekat ada yang harus kami tunjukkan kepadamu," ucap Yeon-Jin dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2