Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]

Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]
Chp 54 : Kesepakatan


__ADS_3

"Apa yang kau perbuat kepada ku sampai aku tak berdaya seperti ini?" tanya Wei Lan yang merasa tubuhnya mulai melemah, ia tak dapat menghirup aroma bunga matahari.


"Aku menemukan bunga ini dari wilayah ku, kau tahu bunga ini kelihatan cantik dan bersinar seperti penampilan mu yang tadi," ucap Cia Changyi menggoda Wei Lan.


Wei Lan menggigit bibirnya karena kesal, ia tadi telah dilecehkan oleh para pendekar bayangan itu dan sekarang ia hendak di lecehkan juga oleh sosok pemuda di hadapannya, pikir Wei Lan.


"Kau tahu tubuh mu sangat lemah dengan bunga matahari ini tapi ini juga akan menjadi sumber kekuatan terbesar mu," ucap Cia Changyi yang kemudian membuang bunga matahari ke belakang.


Dalam jarak itu membuat Wei Lan mulai dapat kembali bernapas lega, matanya berkilau dan hendak menyerang Cia Changyi namun sebelum itu ia telah dikunci oleh Cia Changyi.


"Ah sakit, lepaskan aku," teriak Wei Lan, teriakannya cukup keras sampai pendekar bayangan yang ada diluar terkejut dan memerah pipi mereka karena membayangkan adegan panas di kamar itu.


"Jangan teriak atau kau mau yang lain jadi salah paham tentang kita di kamar ini. Dengar aku mau kita bicara baik-baik oke," ucap Cia Changyi kepada Wei Lan.


Brakk


Pintu kamar terbuka menampilkan sosok Yeon-Jin, ia langsung melongo melihat pemandangan dihadapannya, kuncian yang dilakukan secara reflkes oleh Cia Changyi terlihat cukup intim.


"Apa yang kalian lakukan?!!!" teriak Yeon-Jin dengan perasaan marah yang menggebu-gebu, para pendekar bayangan yang diluar melihat itu seperti pertunjukan drama.


Beberapa saat kemudian.


Cia Changyi dan Wei Lan duduk berdua dan dihadapan mereka ada sosok Yeon-Jin, mereka nampak seperti baru saja terciduk kumpul kebo oleh warga.

__ADS_1


"Changyi sebenarnya apa yang terjadi, kau meminta ku keluar untuk mengencani pria ini. Apa kau sudah tak normal lagi?" tanya Yeon-Jin merasa kesal.


"Yeon, kenalkan ini adalah Wei Lan teman ku. Tadi hanya salam pertemuan karena sudah lama tak bertemu, benarkan Wei Lan temanku," ucap Cia Changyi sambil merangkul bahu Wei Lan.


"Eh, iya iya. Kita sudah lama tidak bertemu, hehehe," ucap Wei Lan, dalam hati ia tak mau melakukan ini tapi entah mengapa ia tak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.


"Sudahlah Yeon, kau tak usah cemas. Dia ini pria bukan wanita yang selalu membuat mu paranoid, aku mau mengobrol dengan teman lama ku jadi aku mohon pengertiannya," ucap Cia Changyi.


"Jadi kau mau mengusirku, tidak. Kau tahu kan kalau aku harus selalu berada di sisi mu, tadi itu kau berbohong kan dengan memberiku tugas yang dapat menyelamatkan Han Yu," ucap Yeon-Jin.


"Aku menyuruh mu membawakan ramuan kepada Han Yu karena dia membutuhkannya, kau tahukan kalau dia baru pertama kali berlatih jurus jadi butuh banyak energi pengganti, benarkan sobat," ucap Cia Changyi.


"Ah iya benar, aku mohon bisa kah aku mengobrol berdua saja dengan Changyi, kami sudah lama tak bertemu," ucap Wei Lan, ia mengumpat dalam hati karena tubuhnya dikendalikan oleh Cia Changyi.


Yeon-Jin berpikiran aneh namun ia merasa kalau sosok teman lama Cia Changyi itu ia pernah tahu tapi ia tak bisa mengingatnya entah mengapa, ia juga masih kesal sehingga memutuskan keluar untuk menenangkan diri.


Ketika Yeon-Jin keluar dari kamar, Cia Changyi langsung melepas ilusi yang mengontrol tubuh Wei Lan, hal itu jelas membuat Wei Lan menghela nafas berat dan lumayan pusing.


"Sial, apa yang telah kau lakukan kepada ku?" tanya Wei Lan yang merasa pusing dan sempoyongan saat hendak berdiri.


"Sudah sekarang kau minum dulu supaya efek ilusinya hilang, aku minta maaf ya tapi hal ini aku lakukan karena darurat, dia tadi Yeon-Jin teman ku juga," ucap Cia Changyi.


Wei Lan langsung dicekoki ramuan, tanpa bisa ia melawan ia telah di buat minum ramuan oleh Cia Changyi. Wei Lan ingin memuntahkannya namun segera dibuat menelan oleh Cia Changyi.

__ADS_1


Perlahan kondisi Wei Lan mulai membaik, ia sama sekali tak menyangka akan ditaklukan oleh sosok pemuda di hadapannya ini, benar kata Xi Li kalau pendekar ini sangat hebat, pikir Wei Lan.


"Jadi aku besok akan masuk ke makam leluhur, apa kau tak mau ikut aku tahu kau juga mau menemui ayahmu kan," ucap Cia Changyi kepada Wei Lan yang mulai membaik.


"Kau bisa tahu semua tentang ku, aku tak mau menyinggung mu tapi aku rasa kau memata-matai ku," ucap Wei Lan.


"Dengar ini Wei Lan, aku tahu kau mungkin sekarang tak mempercayai mu tapi alasan kenapa aku mau masuk ke makam leluhur bukan hanya tentang harta peninggalan tapi juga jiwa leluhur disana, aku yakin ada jiwa ayahmu disana," ucap Cia Changyi.


Kata jiwa ayahnya membuat Wei Lan terdiam, ia sempat membaca di buku peninggalan di perpustakaan tentang jiwa leluhur pada makam-makam kuno di dunia, tapi ia masih tak berani mencoba memasuki makam itu.


"Di sana memang berbahaya tapi ada satu hal yang harus kau pertahankan, niat dan hati yang bersih akan membawa mu ke kebenaran sejati," ucap Cia Changyi mengatakan pepatah yang ia buat sendiri.


"Untuk apa aku mempercayai orang asing seperti mu? Aku rasa kau memang bukan pendekar biasa tapi dari gerak gerik mu sangat mencurigakan dan aku akan sangat bodoh kalau aku mempercayai mu," ucap Wei Lan.


"Tak apa kau tak percaya tapi aku mau tanya kepada mu, apa kau tak mau bertemu dengan jiwa ayahmu di makam leluhur? Aku bisa menjamin keselamatan mu disana," ucap Cia Changyi.


Cia Changyi berusaha menyakinkan Wei Lan, ia sudah menjadi temannya selama hampir sepuluh tahun dan sangat dekat sehingga tau luar dalam sosok Wei Lan.


Sedangkan Yeon-Jin yang berada di luar berusaha menangkan diri tapi ia tetap mengingat kejadian yang terjadi tadi di kamar, ia merasa paranoid dengan wanita karena di kehidupan sebelumnya ia trauma dengan wanita.


Tapi sepertinya Cia Changyi membuatnya paranoid dengan pria juga yang mendekat, ia menganggap Cia Changyi sebagai saudara dan ia tak mau Cia Changyi terluka.


"Aku harap aku bisa melakukan tugas dari dewa agung dengan baik, aku harus menjadi teman seperjuangan yang baik dengan begitu satu per satu kebahagiaan ku akan terbuka," ucap Yeon-Jin.

__ADS_1


__ADS_2