![Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]](https://asset.asean.biz.id/menjadi-dewa-di-kehidupan-kedua--s1-.webp)
"Selamat Yeon kau berhasil, rupanya kau bisa menganalisa titik buta monster itu ya," ucap Cia Changyi memuji Yeon-Jin sambil bertepuk tangan, ia juga tersenyum hangat.
"Ya dong aku kan sang mata iblis," ucap Yeon-Jin, julukan itu ia dapatkan dari kehidupan yang lalu. Ia masih ingat dulu matanya dicongkel lalu diganti dengan mata iblis.
"Tapi sekarang kau sudah tak punya mata iblis, lagian mata itu sangat menyebalkan. Aku sampai kehilangan jimat terkuat ku demi memurnikannya," ucap Cia Changyi.
Setelah berbincang mereka memutuskan untuk menguliti beruang salju, bagian seperti daging mereka jadikan stok makanan dan selebihnya mereka tak terlalu membutuhkannya jadi mereka tinggalkan begitu saja.
"Yeon, sebenarnya kita akan menuju tempat yang merupakan salah satu faktor aku bisa menjadi pendekar yang hebat, kita bisa membaginya nanti," ucap Cia Changyi menjelaskan kepada Yeon-Jin.
"Kau tak mau menguasainya sendiri? Dengan itu maka kau akan menjadi sangat kuat bahkan melebihi dirimu dari kehidupan sebelumnya," tanya Yeon-Jin yang tak mengerti jalan pikiran Cia Changyi.
"Aku tak mau jadi serakah, dulu aku diburu oleh banyak pendekar ahli yang mengincar harta dariku, aku bisa melihat keserakahan yang menggerogoti diri mereka. Aku tak mau seperti mereka," jelas Cia Changyi.
Mendengar itu Yeon-Jin pun mengerti, ia juga penasaran mengenai harta apa yang bisa menghasilkan Cia Changyi yang merupakan pendekar teratas di kehidupan sebelumnya.
Gunung salju ini memiliki segudang misteri, legenda mengatakan kalau wilayah ini terkutuk jadi tak ada yang mau ke sini. Pernah ada yang mencoba ke sana namun ditemukan di sekitar gunung sudah tak bernyawa.
Kejadian tersebut terus terjadi pada orang-orang yang nekad sehingga gunung salju ini menjadi salah satu tempat terlarang yang merupakan tiket kematian bagi yang memasukinya.
Di kehidupan yang lalu Cia Changyi mengikuti rombongan pendekar yang nekad masuk ke dalam gunung salju untuk ekspedisi, Cia Changyi yang polos saat itu tak tahu kalau ia dijadikan perisai manusia.
Cia Changyi dan Yeon-Jin beberapa kali menemui monster, namun tak ada pertarungan yang berarti karena Cia Changyi langsung mengeluarkan jimat serangan yang cukup kuat untuk membuat monster itu tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Kenapa kita tak membunuhnya saja? Kau bukannya malah boros dengan jimat itu," tanya Yeon-Jin yang tak mengerti dengan tindakan dari Cia Changyi.
"Aku tak mau membuang waktu dengan membunuh mereka, aku juga ingin kita cukup kuat untuk menghadapi raja di gunung salju ini," ucap Cia Changyi.
Beberapa kali mereka juga harus menggunakan sedikit kekuatan mereka namun tetap ditangani dengan jimat dari Cia Changyi, jimat itu Cia Changyi buat dengan darah Yeon-Jin dan energi murni mutiara cahaya dewa.
Tak terasa perjalanan mereka sudah sampai setengah perjalanan, mereka memutuskan istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Karena cuaca dingin membuat pergerakan mereka tak segesit biasanya.
Api unggun yang mereka buat menyala membuat sedikit kehangantan, nampak keluar asap putih dari mulut Cia Changyi karena udara dingin begitu juga dengan Yeon-Jin.
Cia Changyi merasakan keberadaan seseorang di sekitar mereka, aneh pikir Cia Changyi. Siapa yang datang ke sini? Apakah itu pendekar ahli yang mau melakukan ekspedisi?
Yeon-Jin juga merasakan hal yang sama, tak jauh dari tempat mereka berada ada sekelompok orang yang sedang mendekat. Mereka pun saling menatap kemudian mengangguk bersamaan.
"Kakak kapan kita sampainya? Aku kedinginan dan ingin makan sup hangat," rengek seorang gadis berusia 15 tahun yang diketahui sebagai Lie Kaili.
"Tenanglah dik, sebentar lagi kita akan sampai. Ketika kita mendapatkan bunga beku kita akan bisa meningkat pesat dan menjadi pendekar kuat di daerah utara," ucap Lie Heng yang lebih tua 3 tahun dari Lei Kaili.
Mereka adalah anak-anak keluarga Lie yang ingin mengambil bunga beku, ada rumor yang mengatakan kalau seseorang melihat bunga beku disana. Orang itu cukup beruntung bisa lolos dari maut.
Di sekeliling mereka terdapat sekitar 20 pendekar yang kuat dari keluarga Lie, mereka cukup terlatih sehingga dipercayakan untuk menjaga anak-anak keluarga Lie ke gunung salju.
Namun di antara para pengawal ada sosok gadis kecil berusia 13 tahun yang kedinginan, ia adalah Lei Mei yang merupakan anak diluar nikah keluarga Lie yang dipaksa ikut oleh kakak-kakaknya.
__ADS_1
Baju yang Lie Mei kenakan tak setebal milik kakak-kakaknya, ia tak bisa mengeluh dan hanya bisa berada di antara para pengawal agar tak terlalu kedinginan.
Seperti rumor yang beredar, ada sebanyak 5 tangkai bunga beku yang berada di pinggir jurang. Mereka bisa melihatnya dijaga oleh ular yang sedang tertidur.
"Kak, aku bisa melihat bunga beku itu. Ah aku ingin rasanya langsung mengkonsumsinya, kak cepat kita ambil," ucap Lei Kaili sambil menarik-narik baju Lei Heng.
"Tenanglah dik, ada 5 tangkai disana. Tapi sebelum itu kita harus mengorbankan seseorang dulu," ucap Lei Heng sambil melirik Lei Mei yang takut melihat ular besar itu.
Lei Mei ditarik oleh beberapa pengawal, ia ingin memberontak tapi mulutnya keburu disumpal oleh tangan salah seorang pengawal. Ia ditarik ke hadapan kakak-kakaknya.
"Saudari Lei Mei, kau harus membantu kami menjadi makanan ular itu dengan begitu kami bisa menjadi kuat dengan mengkonsumsi bunga beku itu," ucap Lei Heng.
"Kak tak usah memanggilnya saudari, sampah keluarga Lei yang terhormat telah tercoreng dengan kelahirannya dari rahim wanita panggilan itu. Seharusnya kau senang karena diakhir hidupmu kau berguna bagi kami," ucap Lei Kaili.
Mendengar itu membuat Lei Mei ketakutan setengah mati, ia tak menyangka kalau kakak-kakaknya sangat kejam kepadanya. Ia mengingat ibunya yang menunggu di rumah.
Beberapa pengawal mendekati ular itu, mereka mulai bertarung sengit untuk mengalihkan perhatian ular itu agar Lei Heng dan Lei Kaili bisa mengambil bunga beku.
Lei Mei dibawa oleh para prajurit, mereka menjadikan Lei Mei sebagai umpan. Mereka mendorong Lei Mei untuk dimakan oleh ular itu dan bersamaan mereka juga menyerang ular itu bersamaan.
Semua nampak sesuai rencana mereka namun ada hal yang merusak rencana mereka. Hal yang tak mereka ketahui adalah setelah Lei Heng mencabut bunga beku tiba-tiba terjadi gempa.
Sosok ular lain muncul dari tanah, ia dengan cepat melilit tubuh Lei Heng yang dengan berani mengambil bunga beku. Ular yang diserang oleh para pengawal itu pun mendekati Lei Heng juga dan membuat pengawal yang menghadangnya terhempas.
__ADS_1
Lei Kaili pun berteriak ketakutan, pengawal lainnya langsung berusaha membunuh ular itu untuk menyelamatkan Lei Heng namun sayang kekuatan kedua ular itu lebih kuat dari bayangan mereka.