![Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]](https://asset.asean.biz.id/menjadi-dewa-di-kehidupan-kedua--s1-.webp)
Pagi yang cerah telah datang, Lee Anming sudah bangun dari tadi ia melihat Cia Changyi yang masih menggeliat tidur dengan nyaman. Pasti dia sudah lama tidak tidur nyenyak, pikir Lee Anming.
Ia pun membuka gorden dan hal itu membuat Cia Changyi terbangun karena silau, hal pertama yang dilihat oleh Cia Changyi adalah sosok siluet dari Lee Anming.
Bagaikan mimpi yang jadi kenyataan, Cia Changyi dapat melihat sosok yang selama ini ia rindukan dan ia mimpikan tiap tidurnya berharap keesokan paginya sosok yang ia sayangi berada di hadapannya.
"Changyi kau bersiaplah dulu, aku akan menyiapkan sarapan kita dan ingat untuk tidak mubazir air saat mandi," ucap Lee Anming, setelah mengatakan itu ia bergegas menuju dapur untuk masak.
Cia Changyi hanya mengangguk saja, ia bergegas bersiap dan segera menuju dapur karena perutnya sudah lapar ditambah aroma masakan Lee Anming yang menggiurkan memenuhi rumah.
"Makanlah ini untuk pertumbuhan mu, kau membutuhkan ini agar kekuatan tubuh mu kembali pulih," ucap Lee Anming sembari menyodorkan makanan dengan kekuatan spiritual.
Lee Anming bisa disebut juga koki spiritual yang mampu membuat masakan yang juga bisa membantu pendekar meningkatkan kekuatan walaupun tak signifikan tapi efeknya terasa saat latihan.
Di kehidupan sebelumnya Lee Anming selalu memasakan makanan spiritual kepada Cia Changyi sehingga walaupun Cia Changyi tidak belajar beladiri namun fisiknya juga lebih kuat dari manusia biasa.
Setelah selesai makan, Lee Anming pun mengetes kemampuan Cia Changyi mengenai pengetahuan umum dan hasilnya begitu menakjubkan.
Setidaknya Cia Changyi memiliki pengetahuan yang setara dengan para anak-anak bangsawan atau anak-anak dari pendekar hebat, ia merasa penasaran dengan pengetahuan Cia Changyi itu.
"Kau dari desa tapi pengetahuan mu begitu luas, apakah ada yang kau sembunyikan dari ku?" Lee Anming secara frontal mengatakan keheranannya kepada Cia Changyi.
"Kak, aku ini sangat suka membaca. Sejak usia 3 tahun aku bisa membaca dan orang tua ku rela membeli buku-buku mahal demi hobi membaca ku," Cia Changyi menjawab keheranan Lee Anming.
__ADS_1
Kalau dipikir kembali dengan pengamatannya selama ini memang Cia Changyi secara mental lebih kuat dari anak seusianya tapi ia tak menduga kalau Cia Changyi juga jenius.
"Kak, apakah di sini ada perpustakaan. Kau tahu aku sangat suka membaca buku yang disebut membosankan oleh orang di desa ku, aku bahkan di sebut kutu buku oleh mereka," ucap Cia Changyi.
Sebenarnya apa yang dikatakan Cia Changyi memang ada benarnya, dulu Cia Changyi sangat suka membaca dan juluki demikian untuk anak yang masih belia.
"Huh, aku seharusnya tak meremehkan mu, aku kira sebentar lagi juga kau akan berusia 7 tahun untuk dites akar spiritualnya sembari menunggu ada baiknya kau lanjutkan saja hobi mu itu," ucap Lee Anming.
Lee Anming berniat menitipkan Cia Changyi kepada temannya yang merupakan asisten penjaga perpustakaan, karena Lee Anming juga belum berpengalaman membimbing seorang murid.
Di perjalanan menuju perpustakaan mereka bertemu dengan seorang wanita muda yang sepertinya tertarik dengan Lee Anming, ia adalah Ling Cang salah satu murid dewan juga.
"Salam kakak seperjuangan, selamat atas keberhasilan mu menyelesaikan misi pertama mu, aku dengar kau mengangkat seorang adik dan ternyata rumor itu benar sepertinya," ucap Ling Cang.
Ling Cang menatap ke arah Cia Changyi yang berada di samping Lee Anming, Cia Changyi merasa kesal dengan keberadaan Ling Cang yang merupakan salah seorang dari musuhnya yang hendak mengambil mutiara cahaya dewa.
Ketika terjadi penyerangan yang membuat Lee Anming meninggal, Ling Cang yang memimpin penyerangan itu karena sudah menjadi orang dalam di sekte selama bertahun-tahun.
Semua gerak-gerik dan keadaan sekte cahaya pedang disampaikan oleh Ling Cang kepada sektenya sendiri selama bertahun-tahun tanpa ketahuan.
"Ah saudari Ling Cang kami pamit dulu karena masih ada urusan, sampai jumpa lagi," ucap Lee Anming kemudian segera membawa Cia Changyi ke perpustakaan.
Ling Cang melihat punggung keduanya, ia merasa curiga dengan Cia Changyi tapi ia merasa itu hanya perasaannya saja, toh Cia Changyi hanya anak yang malang, pikir Ling Cang.
__ADS_1
Di perpustakaan, Lee Anming mengantarkan Cia Changyi ke temannya yang bekerja di sana yakni Xie Annchi yang merupakan wanita yang terkenal dengan wawasannya yang luas di sekte ini.
"Hei, Lee Anming kau akhirnya kembali. Oh ini toh adik angkat mu sangat imut sekali, ah biar aku menyentuh pipi kenyal mu ini," ucap Xie Annchi, ia tak tahan dengan keimutan Cia Changyi.
Di kehidupan yang lalu pun hal ini terjadi dan Cia Changyi tak bisa menghindarinya, kalau dipikir-pikir saat ini Cia Changyi memiliki mental seorang pendekar berusia 118 tahun.
Karena hal itu lah membuat Cia Changyi menjadi canggung, melihat adiknya tak nyaman Lee Anming pun menghentikan Xie Annchi dan mengutarakan maskud kedatangannya kemari.
"Tentu saja boleh, akhirnya ada seseorang yang sefrekuensi dengan ku dan buku-buku ini, aku akan membimbing hobinya itu," ucap Xia Annchi menerima permintaan Cia Changyi.
"Baiklah, aku juga ada urusan dengan guru. Cia Changyi aku akan menjemputmu saat sore jangan jadi nakal dan patuhi apa yang dikatakan kak Annchi ya," ucap Lee Anming.
Sebelum pergi Lee Anming mengelus kepala Cia Changyi dan memberinya nasihat, setelah kepergiannya Cia Changyi mulai menatap rak-rak berisi buku-buku dari berbagai bidang.
"Buku itu akan aku segera pelajari," ucap Cia Changyi dalam hati. Ia tahu kalau ada kitab yang menyimpan rahasia dunia pendekar yang tersimpan di sini yang belum sempat ia pelajari sepenuhnya.
"Dik Changyi, apa buku yang kau suka biar aku carikan untuk mu," ucap Xie Annchi dengan antusias, bisa dibilang ia sudah hapal letak buku yang ada di perpustakaan ini.
"Aku ingin mencari sendiri saja, siapa tahu ada buku yang menarik perhatian ku sebaiknya kakak lanjutkan saja perkerjaan kakak," ucap Cia Changyi.
"Ah, kau memang anak pintar, kalau kau butuh apapun tinggal pencet tombol ini dan aku akan segera datang menolong mu," ucap Xie Annchi sembari memberi sebuah tombol kepada Cia Changyi.
Cia Changyi dengan ingatan di kehidupan sebelumnya berjalan menyusuri lorong buku yang sebagian sudah ia ketahui isinya, ia berhenti di sudut perpustakaan yang jarang dikunjungi.
__ADS_1
Sebuah buku berdebu dan cukup tua, buku itu menggunakan bahasa kuno yang tak ada yang tahu artinya di sekte ini. Tapi Changyi tahu jelas isi kitab ini.
Kitab ini adalah kitab dimensi cahaya.