![Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]](https://asset.asean.biz.id/menjadi-dewa-di-kehidupan-kedua--s1-.webp)
"Kau tak perlu tahu siapa aku tapi yang jelas kau harus menjadi tutor yang baik itu Lei Mei," ucap Cia Changyi lalu menjentikkan jarinya ke kening Lei Mei.
Mata Lei Mei pun perlahan menutup dan ia jatuh pingsan, Cia Changyi pun menggendong Lei Mei dari belakang. Melihat itu membuat Yeon-Jin penasaran.
"Changyi sebenarnya mengapa Lei Mei bisa memiliki kekuatan ilusi? Mengapa dia punya kemampuan langka dan aku bisa merasakan kekuatan aneh di tubuhnya tadi," tanya Yeon-Jin yang penasaran.
"Tidak ada masalah tentang itu, yang kau perlu tahu kalau kekuatan pendekar bunga dahlia akan lebih kuat dari terakhir kali di kehidupan sebelumnya," ucap Cia Changyi.
Yeon-Jin memandang Cia Changyi, Cia Changyi memiliki banyak rahasia yang tertutup rapat dan itu bisa dimengerti oleh Yeon-Jin karena sebagai pendekar hal itu sudah lumrah.
"Sekarang aku tebak tujuan kita ke gunung api," tebak Yeon-Jin yang melihat samar-samar sebuah gunung berwarna merah.
"Iya kau benar, aku sampai hampir mati ketika di sana saat aku bertarung dengan monster disana. Bukan hanya satu tapi banyak sekali, untung aku bisa kabur," ucap Cia Changyi.
"Aku juga, saat aku hendak bertarung dengan penguasa gunung api aku bahkan tidak sempat melihat rupanya dan sudah terpental ke pinggir gunung," ucap Yeon-Jin.
Cia Changyi dan Yeon-Jin pun menceritakan pengalaman bertarung mereka di gunung api itu sampai Lei Mei pun terbangun dari pingsannya dan turun dari gendongan Cia Changyi.
"Terima kasih senior Changyi dan senior Yeon atas bantuannya dan juga baju baru yang indah ini," ucap Lei Mei dengan bersemangat.
"Kau tak usah memikirkan itu, sekarang apa kau siap untuk perjalanan kita ke gunung itu," ucap Yeon-Jin sambil menunjuk gunung api yang menjulang tinggi sampai ke awan itu.
"Iya, aku akan melakukan yang terbaik untuk ibuku," ucap Lei Mei sambil mengingat pesan ibunya untuk menjadi kuat sehingga bisa melindungi ibunya dari orang jahat keluarga Lei itu.
"Bagus, sekarang aku akan mengajari mu berlatih fisik," ucap Cia Changyi kepada Lei Mei.
__ADS_1
Selama perjalanan Cia Changyi memberi beberapa pelatihan fisik yang cukup berat untuk Lei Mei, mereka melalui jalur yang jarang orang tahu dan monster yang berlalu lalang.
Lei Mei harus dapat mengimbangi lari Yeon-Jin lalu dapat juga berlari dengan beban dengan berat tertentu yang meningkat seiring latihan yang intens.
Walau berat tapi Lei Mei memaksakan dirinya, walau begitu tapi staminanya tak terlalu terkuras habis berkat ramuan dari Cia Changyi yang sangat mujarab.
"Lei Mei aku rasa kau sudah cukup kuat untuk belajar pedang, sekarang kau pakai pedang lama ku dan cobalah kuda-kuda dan beberapa gerakan dasar," ucap Cia Changyi.
Mereka menggunakan waktu istirahat untuk mengajari gerakan dasar kepada Lei Mei lalu mengganti istirahat mereka dengan ramuan dari Cia Changyi.
Sebenarnya tak baik untuk bergantung kepada ramuan Cia Changyi namun apa boleh buat untung saja Cia Changyi dapat meringankan efek samping dari penggunaan jangka panjang.
"Ah aku capek, bisakah kita benar-benar istirahat," ucap Lei Mei yang memelas kepada Cia Changyi dan Yeon-Jin, ia ingin merasakan istirahat yang sebenarnya tidak dengan minum ramuan stamina.
"Baiklah kita istirahat, kalian carilah tempat teduh dan aku akan memasak untuk kalian," ucap Cia Changyi yang juga melihat kalau hari sudah mulai sore menuju malam.
Saat malam tiba mereka makan makanan yang dibuat oleh Cia Changyi dengan lahap terutama Lei Mei, ia memuji rasa kenikmatan dari makanan buatan Cia Changyi.
"Ini enak sekali sangat berbeda dengan makanan sisa keluarga Lei. Apa ibu juga bisa makan makanan enak di sana seperti aku ya?" ucap Lei Mei yang meningat tentang ibunya.
"Sudahlah kau jangan bersedih seperti itu. Bagaimana kalau setelah ini kau akan aku tunjukkan hiburan dari seorang pendekar," ucap Cia Changyi untuk menghibur Lei Mei.
Lei Mei pun antusias mendengar itu, ia penasaran apa hiburan bagi seorang pendekar. Namun antusiasnya menjadi perasaan takut ketika melihat monster yang menurutnya cukup menakutkan.
"Ini adalah hiburannya, tenanglah kita akan mengawasi dari atas sini dan bunuhlah monster jelek itu," ucap Cia Changyi yang berada di atas pohon bersama Yeon-Jin.
__ADS_1
Melihat itu Lei Mei cukup gugup melihat monster tingkat rendah itu, namun ia segera berusaha menenangkan diri dengan intruksi dari kakak yang ada di dalam tubuhnya.
Lei Mei memasang kuda-kuda yang ia telah pelajari, walau ia masih agak gugup sehingga membuat tubuhnya sedikit gemetar tapi Lei Mei memaksakan dirinya.
Lei Mei mulai mendekati monster itu, monster itu adalah kijang yang baru berumur 2 tahun. Kijang itu memiliki kekuatan yang bisa dibilang rendah yang cocok untuk latihan pemula.
Kijang itu merasakan keberadaan Lei Mei lalu segera ia tangkis serangan pedang Lei Mei dengan tanduknya yang kuat dan kokoh, Lei Mei berusaha menahan dengan kakinya namun pada akhirnya ia mundur ke belakang.
Kijang itu yang merasa bahaya dari Lei Mei hendak kabur namun dihalangi oleh Lei Mei, Lei Mei dengan gesit menghadang kijang itu lalu kembali menyerang.
Kijang itu tak punya pilihan lain, ia melompat ke atas Lei Mei yang menebas pedangnya ke depan. Dengan cepat kijang itu berada di atas tubuh Lei Mei.
Lei Mei pun tak mau kalah, ia menggerakan pedangnya memutar untuk menyerang kedua kaki kijang, bukannya melelaskan kijang itu malah marah dan menginjak tubuh Lei Mei.
Lei Mei yang kesakitan pun melihat ke arah Cia Changyi dan Yeon-Jin yang tak bereaksi sama sekali, benar kata ibunya kalau dunia pendekar itu kejam dimana yang lemah akan berada dibawah.
Sekuat tenaga Lei Mei mengumpulkan kekuatannya, ia menatap intens kijang itu dan dengan sedikit ilusi yang ia pelajari diam-diam dari dewi yang ada di dalam tubuhnya ia pun berhasil menggoyahkan kijang itu.
Celah itu tak disia-siakan oleh Lei Mei, ia pun menebaskan pedangnya ke tubuh kijang itu yang kemudian membuat kijang itu mundur ke belakang.
Segera setelah bangkit Lei Mei diserang dengan tanduk dari kijang itu, Lei Mei berusaha menahan serangan tanduk kijang yang sangat kuat itu.
Ia sampai terhimpit di pohon terdekat, Lei Mei mulai sesak karena himpitan itu. Lei Mei dengan berani mendorong pedang yang ada di genggamannya.
Ketika jarak antara Lei Mei dan kijang itu mulai sedikit merenggang Lei Mei pun memberanikan diri memukul tanduk kijang itu dengan tangan kosong.
__ADS_1