![Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]](https://asset.asean.biz.id/menjadi-dewa-di-kehidupan-kedua--s1-.webp)
Suasan sekte cukup sibuk karena mengatur kompetisi yang akan dilangsungkan, nampak ada banyak pelayan lalu lalang untuk menyambut tamu undangan.
Sebagian besar tamu adalah wali dari para murid dan juga ada beberapa tamu kehormatan seperti pejabat negara yang berpangkat tinggi yang anaknya menjadi murid sekte ini.
Para murid pun juga ada yang percaya diri dan ada juga yang merasa gugup takut kalau sampai mereka kalah akan membuat malu keluarga mereka di depan banyak orang.
Tapi jelas mereka sudah mempersiapkan ini dan bisa dibilang tujuan pembelajaran mereka selama ini dapat dikatakan berhasil kalau masuk peringkat di kompetisi ini.
Wei Yang memperhatikan sekte, ia melihat ada banyak perubahan yang terjadi selama ia pergi ke makam leluhur 10 tahun lalu. Ia tahu kalau dirinya tak boleh berlarut-larut dengan penyesalan dan segera bangkit.
Wei Lan datang dari arah belakang, ia ingin menghampiri ayahnya yang ia lihat berada di atas tebing dan memperhatikan persiapan kompetisi hari ini. Ia baru saja sarapan bersama Cia Changyi.
"Kau ini seperti anak kecil saja, lihat bibir mu masih berlepotan dengan saus," ucap Wei Yang, ia menahan tawa melihat anaknya yang terlihat seperti anak kecil yang baru belajar makan.
"Ayah tadi aku habis makan lalu aku melihat ayah dan berada di sinu. Jadi belum sempat membersihkannya," ucap Wei Lan sedikit malu dengan ayahnya.
"Hahahaha, sudahlah Wei Lan. Kau tetaplah putra ku yang tampan dan pemberani, dulu kau sempat mengutarakan keinginan mu untuk bisa berpetualang di luar sana dan menjelahi dunia kan?" tanya Wei Yang, ia mengingat cita-cita anaknya itu.
"Ah ayah, itu kan cita-cita masa kecil ku jadi masih bisa berubah. Lagian kan ayah menginginkan ku menjadi penerus ayah untuk menjadi ketua sekte selanjutnya," ucap Wei Lan.
"Dengar nak, untuk menjadi ketua sekte perlu ketulusan untuk mengabdikan hidup untuk kepentingan sekte gunung pedang yang sudah berdiri sejak zaman dulu. Ayah merasa kau punya potensi lebih dari ayah makanya dulu ayah menginginkan mu menjadi pengganti ayah, tapi sepertinya itu sudah berubah," ucap Wei Yang.
"Apakah aku telah mengecewakan ayah, apa selama ini aku sudah gagal mempertahankan gelar anak kebanggaan ayah," ucap Wei Lan yang merasa sedih.
__ADS_1
"Tidak nak, kau masih menjadi anak kebanggan ayah karena kau adalah putra satu-satu ku. Setiap anak punya potensi dan kesempatan, ayah ingin memberi kesempatan kepada potensi besar mu," ucap Wei Yang.
"Maksud ayah apa?" tanya Wei Lan yang bingung dengan perkataan ayahnya itu. Ia bahkan belum mengerti pontensinya seperti apa.
"Aku melihat kau cukup dekat dengan pendekar pengelana itu, apa kau tak mau ikut bersama mereka untuk berkeliling dunia?" tanya Wei Yang.
"Ah, itu sebenarnya..." ucap Wei Lan.
"Aku anggap itu jawaban iya. Baiklah setelah ini pokoknya kau harus ikut mereka dan jadilah pendekar hebat di luar sana," ucap Wei Yang, ia kemudian beranjak pergi.
Wei Lan yang mendengar itu pun bercampur aduk perasaannya antara harus senang karena mimpinya bisa jadi kenyataan atau sedih karena harus berjauhan dengan ayahnya.
Sedangakan Cia Changyi bersama Yeon-Jin menemui Han Yu untuk melihat persiapannya, dapat dilihat kalau Han Yu bersemangat walaupun beberapa tahun terakhir ia selalu gagal.
"Changyi kau tak usah memanjakan dia, nanti dia malah bisa menjadi perempuan beban yang hanya bergantung dengan kekuatan pria," ucap Yeon-Jin menanggapi perkataan Cia Changyi.
"Guru, kalian jangan khawatir karena aku akan berjuang keras untuk dapat memasuki peringkat teratas di dalam kompetisi ini. Aku yakin bimbingan kalian bisa membuat ku dan adik ku bisa menang," ucap Han Yu.
"Oh iya dimana adik mu Han Bao, aku tak melihatnya dari tadi pagi," tanya Cia Changyi kepada Han Yu.
"Oh adik ku dibantu oleh saudari Lei Mei sedang mempersiapkan diri untuk kompetisi ini, maklum adik ku kurang percaya diri dan dia sepertinya lebih membutuhkan dukungan saudari Lei Mei," ucap Han Yu.
Sedangkan di tempat lain.
__ADS_1
"Bagaimana persiapan mu? Siap untuk menjadi peringkat pertama dalam kompetisi ini?" tanya seorang murid sekte gunung pedang bernama Kia.
"Ah kau memang pandai memuji saudari Kia, aku pasti bisa menjadi yang pertama apalagi dengan bantuan yang selama ini aku dapatkan," ucap Xixi sambil menatap sebuah jarum.
"Ya, saudari Xixi memang sangat pintar dalam hal tipu muslihat. Aku yakin dengan jarum itu anda bisa menjadi peringkat pertama lagi diantara murid perempuan," ucap Kia sambil tersenyum.
"Kau memang tidak kapok-kapok ya memakai cara curang untuk menjadi pemenang, apa kau masih bisa berbangga diri kalau itu bukan benar-benar kerja keras mu," ucap Qia.
"Sudahlah kau tak usah ikut campur, apa kau lupa aku memiliki akses untuk melukai orang tua mu. Salahkan orang tua mu yang berhutang banyak kepada orang tua ku jadinya kau harus menjadi pelayan ku," ucap Xixi.
Qia hanya bisa menahan perasaan kesalnya, ia memang salah satu dari murid di sekte gunung pedang tapi ia harus menekan potensinya karena tekanan dari Xixi yang menjadikannya pelayan.
"Iya benar kata saudari Xixi, kau mau apa orang tua mu diperlakukan sebagai budak seperti mu disini? Masih untung Xixi dan orang tuanya masih berbaik hati pada dirimu dan keluargamu," ucap Kia.
Qia yang kesal pun langsung saja pergi dari sana, ia kesal dan juga sedih dengan kondisinya saat ini yang tak berdaya oleh orang licik seperti Xixi.
"Dasar pelayan rendahan, dia masih berani bersikap begitu padahal tahu kalau keluarganya bisa saja dalam bahaya," ucap Kia yang menatap Qia dengan pandangan merendahkan.
"Tenang saja saudari Kia, nanti setelah aku menjadi pemenangnya maka aku akan menamparnya dengan piala yang akan aku dapatkan," ucap Xixi yang juga kesal tapi bisa menahan diri.
"Wah, saudari Xixi memang baik. Aku harap piala itu tidak akan lecet sedikit pun setelah dibenturkan ke wajah tebal wanita itu," ucap Kia yang berusaha menjilat Xixi.
Tak terasa waktu pertandingan di mulai, para penonton sudah duduk di tempat mereka masing-masing dan antusias melihat anak-anak mereka akan bertarung.
__ADS_1
Semua murid dikumpulkan dan yang ikut telah di filter dan dari masing-masing gunung di kirim 25 murid terbaik yang akan saling beradu. Nampak seorang guru membacakan peraturan dan giliran bertanding tiap murid antar gunung.