Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]

Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]
Chp 60 : Burung Pipit atau Garuda


__ADS_3

Cia Changyi mendekatkan wajahnya ke wajah Yeon-Jin lalu membisikkan sesuatu di dekat telinga Yeon-Jin, hal itu membuat bulu kuduk Yeon-Jin merinding.


"Kau tahu, tubuh mu itu mungkin saja sudah hancur setelah aku kuburkan," ucap Cia Changyi setelahnya. Ia pun kembali menatap hamparan rumput penuh nisan.


Yeon-Jin menatap Cia Changyi, ia percaya kalau tubuhnya dimakamkan secara layak oleh Cia Changyi di kehidupan sebelumnya. Ia semakin mempercayai dewa agung.


Tak lama kemudian Wei Lan dan Wei Yang menghampiri mereka, nampak wajah mereka tersenyum bahagia. Cia Changyi baru pertama kali ini melihat kebahagiaan seperti ini dari Wei Lan dari kehidupan sebelumnya.


"Terima kasih Cia Changyi, kau memang benar-benar baik," ucap Wei Lan sambil merekahkan senyumnya dan menggenggam tangan Cia Changyi dengan antusias.


"Iya sama-sama. Kau sangat antusias sekali, sangat berbeda dari sebelumnya yang menggoda," ucap Cia Changyi mengejek kejadian tadi malam ketika Wei Lan memakai pakaian pelayan.


"Kau! Padahal aku sudah senang tadi tapi kau malah mengingatkan kejadian memalukkan itu, kalau sampai kau membocorkannya maka kau akan habis oleh ku," ucap Wei Lan mengancam dengan kesal.


Wei Yang dapat melihat kedekatan anaknya dengan Cia Changyi tersenyum, ia bersyukur kalau anaknya dapat menemukan seseorang pria baik yang bisa menjadi teman seperjuangan.


"Sudahlah Wei Lan, kita harus berterima kasih dengan benar. Nak Changyi, terima kasih sudah mau menyelamatkan kami," ucap Wei Yang memberi hormat kepada Cia Changyi walau usia mereka berbeda jauh.


"Tak apa paman, ini juga harus aku lakukan sebagai teman seperjuangan Wei Lan," ucap Cia Changyi, ia senang bisa mewujudkan keinginan Wei Lan di kehidupan sebelumnya.


Yeon-Jin hanya bisa memperhatikan, ia membuang muka melihat interaksi antara Cia Changyi dan Wei Lan. "Huh, emang aku ini tidak dianggap temannya apa? Selalu saja mengatakan itu kepada Wei Lan," gumam Yeon-Jin di dalam hati.

__ADS_1


Tak lama kemudian Dewi Saras pun datang menghampiri mereka setelah sekian lama ia menelepon keluarganya. Mata Dewi Saras sampai agak basah karena setelah sekian lama mendegar suara keluarganya.


"Selamat bagi kalian telah berhasil menaklukan makam leluhur ini dan juga membuka segel leluhur terutama bagi mu Cia Changyi. Sekarang dengan wewenang baru ku aku memberi berkat kepada kalian," ucap Dewi Saras.


Dewi Saras mengangkat trisula miliknya tinggi-tinggi ke atas langit untuk menerima kekuatan yang telah ayahnya kirimkan, dari trisula itu muncul 4 warna berbeda yang masuk ke tubuh masing-masing satu.


Tubuh mereka langsung memancarkan cahaya yang berbeda-beda, seketika terjadi gejolak energi yang kuat yang mengubah kondisi fisik pendekar mereka.


Proses itu berlangsung tak begitu lama, Cia Changyi yang pertama menyelesaikan proses itu disusul oleh Yeon-Jin, Wei Yang, kemudian yang terakhir adalah Wei Lan.


"Cia Changyi, aku telah menceritakan tentang mu oleh ayah ku dan beliau sangat ingin bertemu dengan mu, apakah kau mau bertemu ayah ku?" tanya Dewi Saras.


"Maaf Dewi Saras, aku tak bisa dulu mengunjungi ayah mu karena aku belum siap untuk pernikahan," ucap Cia Changyi memasang wajah pura-pura malu.


"Hahahaha, maaf Dewi Saras aku hanya bercanda. Aku akan bertemu dengan ayah mu kalau aku sudah menjadi dewa, aku harap kau tak memiliki kekasih sebelum aku ke kahyangan," ucap Cia Changyi menggoda Dewi Saras.


"Huh dasar bocah kecil, sudahlah aku maafkan kelancangan mu karena suasana hati ku sedang membaik," ucap Dewi Saras walau sebenarnya ia cukup tertarik dengan sosok pendekar hebat seperti Cia Changyi yang cukup tampan.


Cia Changyi tersenyum, ia hanya iseng menggoda sosok Dewi seperti Dewi Saras karena sangat jarang bertemu dengan sosok kahyangan ini. Cia Changyi tak merasa kalau tindakannya membuat sang Dewi kebawa perasaan.


Tak lama kemudian yang lain telah menyelesaikan proses pemberian berkat mereka. Dapat dilihat dari luar tubuh mereka lebih mencolok terutama Cia Changyi dan Yeon-Jin.

__ADS_1


"Baiklah aku sudah menyelesaikan tugas ku, Wei Yang kau dan yang lain dari sekte gunung pedang mulai sekarang bisa memasuki makam ini dan menggunakan sumber daya di sini. Aku harap keserakahan tak menghancurkan kesucian tempat ini kalau tidak maka petir kehancuran akan membinasakan," ucap Dewi Saras.


Wei Yang menerima titah itu dari sosok Dewi Saras yang merupakan anak perempuan dari sosok Dewa yang merupakan pembuat 4 gunung pedang tempat sekte gunung pedang berdiri.


Tak lama kemudian ada portal yang muncul, setelah berpamitan dengan Dewi Saras mereka pun masuk ke portal untuk kembali ke sekte gunung pedang.


"Aku menunggu mu menjadi dewa Cia Changyi. Ayah sepertinya putri mu jatuh hati dengan seorang pria,"ucap Dewi Saras merasa tersanjung dengan sosok Cia Changyi.


Mereka keluar dari portal, dapat dilihat kalau di sana masih ada Xi Li yang baru saja mau pergi ketika melihat Yeon-Jin menyelinap masuk ke portal. Hal itu jelas membuat Xi Li terkejut.


"Tunggu kalian cepat sekali datangnya... Ah, tuan ketua sekte Wei kau masih hidup. Salam kehidupan untuk anda," ucap Xi Li yang kemudian berlutut hormat ketika melihat sosok Wei Yang.


"Ya ampun nona Xi Li, kau tak usah memberiku penghormatan formal itu. Dari Wei Lan aku tahu kau menjadi ketua sekte sementara, aku tahu penilaian ku memang tak salah," ucap Wei Yang.


Diketahui pengaturan perbedaan waktu di makam leluhur berubah-ubah dan sebelumnya Dewi Saras berinisiatif menyetting pengaturan waktu yang tetap untuk makam leluhur sebelum pergi.


Kejadian ini jelas mengguncangkan sekte gunung pedang setelah pemberontakan yang sebelumnya terjadi. Pertemuan tertutup pun dilakukan dan secara langsung Wei Yang melakukan rapat.


"Kau masih ingin menjadi ketua sekte, aku yakin kedatangan mu kemarin kepada ku punya tujuan tertentu," ucap Cia Changyi kepada Wei Lan.


"Kau memang pandai menebak ya, setelah ayah ku kembali aku jadi tak berminat menjadi ketua sekte lagian pekerjaan itu akan sangat sibuk dan tidak sebebas dirimu," ucap Wei Lan.

__ADS_1


"Ya kau benar, burung itu lebih baik terbang bebas daripada terkurung di sangkar emas. Tinggal kau pilih kau mau menjadi burung pipit atau garuda," ucap Cia Changyi.


"Ya jelas aku adalah garuda. Sosok burung gagah berani yang berbakti kepada ibunya," ucap Wei Lan yang membuat Cia Changyi tertawa. Mereka langsung menjadi lebih akrab seiring berjalannya percakapan diantara mereka.


__ADS_2