![Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]](https://asset.asean.biz.id/menjadi-dewa-di-kehidupan-kedua--s1-.webp)
"Kau pikir aku kelihatan seperti orang licik di mata mu, ini adalah cincin yang bisa membantu mu mengendalikan energi api yang ada di dalam tubuh mu," ucap Cia Changyi menjelaskan.
"Maksudnya? Aku tak mengerti hubungan antara cincin ini dan kekuatan api di dalam tubuh ku," ucap Han Yu yang bingung dengan penjelasan dari Cia Changyi.
"Ini adalah artefak kuno yang berisi salah satu keturunan dari dewa api yang bisa membantu mu, ini sama seperti senjata pedang yang juga bisa menyerang," ucap Cia Changyi.
Han Yu bisa dibilang baru tahu kalau ada aksesoris yang bisa menjadi senjata, umumnya cincin dipakai untuk menunjukkan status seseorang sudah ada yang punya.
"Sudah, kau percaya kan kepada guru mu ini. Nanti kau akan tahu sendiri kegunaan sebenarnya dari cincin ini tapi aku dapat pastikan kalau kau tidak akan curang dengan ini," ucap Cia Changyi.
Han Yu tak bisa membantah orang yang ia panggil guru itu, tangan Han Yu dipegang oleh Cia Changyi lalu ditarik kemudian jari manis Han Yu dipasangkan cincin itu.
"Bagaimana cantik kan?" tanya Cia Changyi lalu tersenyum manis, hal itu membuat Han Yu berasa seperti burung yang sedang terbang tinggi.
Tak terasa wajah Cia Changyi memerah karena malu, ia baru pertama kali diperlakukan seperti ini oleh seorang pria apalagi sosok seperti Cia Changyi.
"Eh, wajah mu merah. Apa kau terasa panas karena efek cincin ini? Tapi tenang efeknya akan hilang bersamaan dengan menyatunya cincin itu dengan kekuatan mu," ucap Cia Changyi.
"Tidak, aku tak apa-apa guru. Sebaiknya kita kembali saja, mereka pasti sudah selesai berbelanjanya," ucap Han Yu memalingkan muka sambil menahan rasa malu.
Cia Changyi yang memang pada dasarnya tak berpengalaman masalah wanita tak mengerti sikap Han Yu pun mengikuti Han Yu dari belakang, tanpa mereka sadari ada yang memperhatikan mereka sedari tadi.
__ADS_1
"Hei, kalian kemana saja. Lihat kak aku sudah beli beberapa barang juga untuk kakak, ah akhirnya aku bisa belanja setelah sekian lama," ucap Han Bao bersemangat.
"Sudah-sudah ayo kita pulang, besok kita juga sudah harus bangun pagi untuk kompetisi lanjutan," ucap Han Yu, ia berusaha menutupi cincin yang ada di jari manisnya.
"Ya ampun, cantik banget cincinnya. Kamu barusan beli dimana?" tanya Lei Mei, matanya yang jeli bisa melihat cincin yang berusaha ditutupi oleh Han Yu.
"Ih ya ampun kak, kamu punya pacar rahasia ya," ucap Han Bao, ia merasa terkejut melihat Han Yu memakai cincin yang sepertinya dari permata itu.
"Eh, aku tak punya pacar. Sudah-sudah, lihat guru sudah menunggu kita untuk pulang," ucap Han Yu, ia berusaha menghindari topik itu dari Han Bao untuk sekarang.
Han Bao berusaha membujuk Han Yu untuk memberi tahu namun selalu ditepis oleh Han Yu, melihat itu Cia Changyi tak mengerti tapi ia pikir mungkin Han Yu akan menjadikannya senjata rahasia dulu.
"Itu cincin dari mu ya, aku bisa merasakan hawa keberadaan keturunan dewa api di sana," ucap Yeon-Jin yang melihat cincin yang dikenakan oleh Han Yu kepada Cia Changyi.
"Oh kau juga menyertakan penyadap di cincin itu, memang dasar kau itu licik ya," ucap Yeon-Jin, ia tersenyum mendengar kelakuan temannya itu.
"Itu namanya pintar bukan licik, lagian kita bisa tahu juga kondisi alam hutan gaib yang misterius. Kalau ada kesempatan kita juga harus ke sana," ucap Cia Changyi.
Akhirnya mereka pun balik ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat untuk hari esok yang pasti akan sangat melelahkan dan panjang, namun sepertinya Han Yu tak bisa tidur.
"Ah, jangan berpikir yang macam-macam Han Yu. Ingat kalau dia itu guru mu, jangan kebawa perasaan dengan guru yang memperhatikan muridnya," ucap Han Yu tapi matanya tetap melirik cincin di tangannya.
__ADS_1
Tanpa ia sadari mulutnya tersenyum ketika mengingat kejadian tadi, ia pun akhirnya tertidur setelah beberapa kali berusaha melupakan kejadian tadi dan bersikap itu hal normal untuk guru kepada murid.
Keesokan harinya adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh 25 murid yang akan memperbutkan 10 peringkat tertinggi selama setahun yang akan mendatang. Ini juga merupakan sebuah kehormatan yang harus mereka raih.
"Baiklah murid-murid, ingat kalian akan masuk ke dalam alam hutan gaib yang disana kalian harus menjaga stabilitas tubuh kalian tidak boleh kurang dari 50% kalau tidak kalian akan terlempar keluar,"
"Dan perlu diingat bahwa penentuan pemenang adalah yang dapat bertahan selama satu hari di sana dengan jumlah buruan yang terbanyak, ingat untuk jangan curang kalau tidak mau didiskualifikasi,"
Beberapa guru mulai menjelaskan peraturan kompetisi, walau sebagian besar sudah tahu peraturannya tapi tetap saja merupakan kebiasaan hal ini dilakukan setiap tahun.
Sebuah portal muncul, 25 murid perempuan masuk ke dalam untuk memperebutkan 10 besar. Kalau untuk murid laki-laki juga sama tapi ada mekanisme tertentu sehingga antara laki-laki dan perempuan tidak akan bertemu.
Han Yu masuk ke dalam bersama dengan yang lain, saat ia membuka matanya ia bisa melihat suasana hutan seperti biasa namun bedanya dengan hutan biasa hutan ini adalah alam gaib.
Dapat dirasakan hawa monster gaib yang memiliki rupa yang menjijikan sangat banyak disini, di atas kepala Han Yu ada angka 100 yang menunjukkan ketahanan tubuhnya.
"Sekarang mulai dulu dengan membunuh para goblin itu," ucap Han Yu, ia melakukan kuda-kuda lalu segera menebaskannya ke arah kawanan goblin.
Ada dua yang terkena lalu muncul angka dua diatas kepala Han Yu, goblin yang lain pun yang tahu kawannya di bunuh oleh Han Yu pun marah dan meningkatkan kewaspadaan lalu menyerang Han Yu.
Tiga goblin yang masih hidup memukulkan palu milik mereka ke arah Han Yu, walau tak punya akal tapi nulari bertarung goblin di sini sangat tinggi. Untung Han Yu dapat mengimbangi kecepatan tiga goblin itu.
__ADS_1
Tak ingin berlama-lama Han Yu langsung mengeluarkan gerakan dasar yang ia beri sedikit kekuatan api, percikan api keluar dari pedang Han Yu kemudian membakar ketiga goblin itu sekaligus.
"Ini baru monster tingkat rendah tapi punya kecepatan yang tinggi, aku harap Han Bao di sana bisa melewatinya, ini kali pertama baginya," ucap Han Yu, kemudian ia pun melanjutkan perjalanannya untuk sekalian mencari adiknya itu.