Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]

Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]
Chp 86 : Menjadi Intel


__ADS_3

Putri Anastasya dan yang lain berada di depan istana, telah terjadi pencarian besar-besaran karena yang mulia putri telah dinyatakan hilang dan diberi tahu tanda lahir putri di tangannya.


Di depan pengawal istana, putri Anastasya memperlihatkan tanda lahirnya yang membuat para pengawal istana merasa terkejut lalu segera salah satu dari mereka memanggil kepala pelayan.


Segera seorang wanita paruh baya yang merupakan kepala pelayan di istana putih pun bergegas ke depan gerbang istana putih untuk mengecek apakah benar wanita itu adalah putri Anastasya.


"Ya benar ini adalah putri Anastasya! Cepat kalian bawa yang mulia putri masuk sebelum dilihat banyak orang disini," ucap kepala pelayan sambil menutupi wajah putri Anastasya.


"Mereka adalah penyelamat saya jadi saya perintahkan untuk memperlakukan mereka sebagai tamu kehormatan," ucap putri Anastasya yang kemudian dibawa masuk oleh beberapa pengawal.


"Ah rupanya kalian yang telah menyelamatkan yang mulia putri dari bahaya. Silakan masuk, pasti yang mulia raja akan sangat senang dengan kalian," ucap kepala pelayan ramah.


Bisa dilihat di sana yang mulia raja datang dan langsung memeluk tubuh putri Anastasya dan tak jauh dari sana ada ratu yang memasang wajah lega karena putri Anastasya selamat.


"Syukurlah kau bisa selamat, ayah pastikan penyerang itu akan mati secara mengenaskan di alun-alun kota," ucap sang raja merasa lega karena akhirnya putrinya bisa kembali dalam keadaan hidup.


"Ayah tak perlu melakukan itu karena hal itu sudah dilakukan oleh saudara Yeon-Jin dan saudari A Yeong," ucap putri Anastasya yang membuat raja melirik ke arah depan.


Sang raja kemudian melepaskan pelukannya, "Terimakasih kalian yang sudah menyelamatkan anak semata wayang saya ini, saya harap kalian bisa tinggal di sini beberapa hari sebagai terimakasih saya," ucap raja.


"Iya sama-sama, perkenalkan saya adalah Yeon-Jin, ini adalah istri saya A Yeong dan putri kami Lei Mei. Kami adalah pengelana dari negeri sebrang yang tak sengaja membantu tuan putri," ucap Yeon-Jin.


"Hahaha, bisa dilihat kalian telah bekerja keras untuk menyelamatkan putri ku dari marabahaya. Kepala pelayan, tolong bawa mereka sekeluarga ke kamar tamu dan layani mereka seperti kau melayani ku," ucap sang raja berantusias.


Yeon-Jin dan yang lain pun diantar oleh kepala pelayan ke kamar tamu, saat itulah sang ratu langsung memeluk putri Anastasya sambil menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Kau ini membuat ku sangat khawatir, syukurlah kau tak dibunuh oleh para pendekar hitam itu," ucap sang ratu sambil memeluk erat tubuh putri Anastasya.


"Tunggu ibu, kalau begitu apakah ada mata-mata yang membocorkan perjalanan ku?" tanya putri Anastasya.


"Tidak anak ku, setelah di selidiki dari pihak kita yang selamat dan juga dari beberapa pendekar hitam yang menyerangmu ternyata penyerangan itu terjadi secara random," ucap sang raja menjelaskan.


"Sekarang hal itu tak penting, yang terpenting saat ini adalah kau telah sampai ke istana ini dalam keadaan hidup. Sekarang kau harus mandi lalu dibawa ke dokter untuk diperiksa," ucap sang ratu.


Putri Anastasya kemudian mengangguk lalu dibawa oleh beberapa pelayannya ke kamar, nampak disana raja dan ratu sangat lega melihat putri Anastasya dalam keadaan hidup.


"Sekarang kita harus lebih ketat lagi menjaga Anastasya, jangan sampai kejadian tak profesional yang berbahaya ini terjadi lagi," ucap sang ratu.


"Kau benar, urusan keselamatan putri sebaiknya memang kau saja yang urus. Tolong berikan pengawal yang lebih hebat untuk menjaga anak kita," ucap sang raja yang sangat mempercayai ratu.


Sementara itu Yeon-Jin dan yang lainnya sudah membersihkan diri dan diobati dari luka yang mereka buat sendiri, saat ini mereka sedang duduk-duduk di kamar tamu.


"Wah bahkan kamar tamu saja sebesar dan sebagus ini apalagi kalau kamarnya tuan putri. Aku tak menyangka bisa masuk ke istana ini," ucap Lei Mei merasa takjub.


"Ya ampun kamu ini sama seperti ku dulu, aku juga sempat tinggal di istana namun hanya sekitar semingguan di sana," ucap A Yeong mengingat kenangan gelapnya.


"Wah memangnya kak A Yeong kenapa bisa disana? Apakah kakak memiliki teman seorang putri?" tanya Lei Mei dengan polosnya.


"Itu hal yang sangat buruk, aku dijadikan bahan penelitian karena darah ku. Kau tahukan aku punya darah sama seperti Yeon-Jin yang bisa beracun bedanya tidak bisa dibuat penawar," ucap A Yeong.


"Maaf ya kak, itu pasti adalah kenangan buruk yang kakak alami selama seminggu. Syukurlah kakak bisa kabur dari sana," ucap Lei Mei merasa tak enak.

__ADS_1


"Ya aku sudah menerima masa lalu ku dengan baik makanya aku baik-baik saja kalau membahas hal itu," ucap A Yeong yang semakin dewasa karena keadaan yang memaksa.


"Kita harus menunggu seperti ini terus, aku sangat bosan ingin bertemu dengan Changyi," ucap Yeon-Jin sambil merebahkan diri di kasur.


"Ya sabarlah Yeon, kau pasti cemberu karena Cia Changyi dan Wei Lan diluar sana dan berpetualang sedangkan kau disini bersama para wanita," ucap A Yeong.


Sementara itu diluar sana ada Cia Changyi dan Wei Lan yang telah berkamuflase menjadi pendatang biasa, mereka berbaur cukup baik untuk melihat kondisi di sekitar.


"Cia Changyi, sebenarnya bagaimana kita mencari mata-mata ratu? Mengapa kau sangat percaya kalau ratu menyebarkan mata-mata di sini?" tanya Wei Lan yang penasaran.


"Nanti juga kau akan tahu sendiri, yang terpenting sekarang adalah kau ikuti dulu rencanaku," ucap Cia Changyi yang sedang membeli lolipop.


"Apakah ini termasuk rencananya?" tanya Wei Lan berbisik ke telinga Cia Changyi.


"Tidak, sudahlah kita nikmati dulu di sini. Jangan terlalu tegang dan nikmati ini, anggap saja seperti kita sedang berjalan-jalan," ucap Cia Changyi.


Cia Changyi dan Wei Lan pun akhirnya bersenang-senang menjelajahi kota, Wei Lan yang memang punya keinginan tinggi untuk traveling pun merasa senang.


"Hah, hari ini sangat melelahkan ya. Baiklah sudah ada 5 mata-mata yang aku telah identifikasi," ucap Cia Changyi yang membuat Wei Lan terkejut mendengarnya.


"Tunggu, kau bilang tadi 5 mata-mata. Jadi daritadi kau melakukan identifikasi kepada para mata-mata yang juga sedang menyamar," ucap Wei Lan yang tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Nah itu dia tugasnya seorang intel. Bisa mencari dan mengindetifikasi tanpa dicurigai," ucap Cia Changyi lalu tersenyum.


"Ayolah tolong beritahu aku bagaimana kau bisa melakukannya," ucap Wei Lan, ia meminta penjelasan karena daritadi ia hanya bersenang-senang saja mengelilingi kota.

__ADS_1


__ADS_2