![Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]](https://asset.asean.biz.id/menjadi-dewa-di-kehidupan-kedua--s1-.webp)
Han Yu tak bisa tinggal diam di gua ini, dirinya bisa mati kelaparan kalau terlalu lama di sini dan tak ada jaminan kalau ratu siluman itu akan menyelamatkannya.
Han Yu nekad, ia sambil memapah tubuh Qia yang tak sadarkan diri entah berapa lama sambil memegang pedang miliknya yang ia baluti dengan elemen api miliknya.
Gua ini cukup lembab dan juga Han Yu pikir kalau gua ini dulunya bisa saja adalah penghubung mata air di gunung dengan daerah di kaki gunung, untung sekarang belum musim hujan.
Semakin Han Yu melangkah menyelusuri gua itu ia bisa merasakan suara air samar-samar, air adalah tanda kehidupan jadi Han Yu memutuskan untuk mempercepat langkahnya.
Namun walau sudah lama berjalan tetap saja Han Yu belum sampai juga ke sumber suara air itu, ia pikir pasti sumber air itu sudah semakin dekat dengannya.
Han Yu menarik napas lalu membuangnya, ia berusaha menguatkan diri untuk segera ke sumber air itu. Rasanya sangat jauh walaupun terdengar dekat.
Han Yu berlari mengikuti cahaya di depannya yang semakin terang ketika Han Yu semakin mendekatinya, napasnya terasa terhenti dan kakinya menjadi lemas.
Di bayangannya akan ada setidaknya cahaya matahari dan juga sungai yang bisa setidaknya bisa dijadikan tempat istirahat, tapi Han Yu malah mendapati hal yang berbeda.
Ada kunang-kunang yang berukuran lebih besar dari yang ada di dunia luar yang cukup banyak dan juga air sungai berwarna hitam pekat yang dari sini sudah tercium bau busuk.
Han Yu dapat melihat kondisi sekitar tak mendukung apalagi kunang-kunang di sini sepertinya mengawasi mereka, Han Yu pun bergegas ke dalam gua lagi.
Han Yu menjadi merasa frustasi, dirinya bagaikan berada di antara dua tempat yang berbahaya. Di saat dirinya kebingungan, secara tiba-tiba cincin yang diberikan oleh Cia Changyi bercahaya.
__ADS_1
Cahaya dari cincin itu keluar lalu menjadi seperti kelereng yang terbang lalu bergerak ke sisi lain dari gua ini, dengan instingnya Han Yu pun mengikuti cahaya itu berpikir kalau itu pasti bantuan Cia Changyi.
Ada sisi lain dari gua ini yang tertutupi oleh tanaman rambat, Han Yu pun membuka tanaman rambat itu setelah cahaya itu menembusnya lalu sebuah pemandangan dilihat oleh Han Yu.
Han Yu merasa lega, untung saja ia menerima bantuan dari gurunya sehingga ia bisa ditunjukkan tempat yang benar di gua ini. Tapi Han Yu tetap waspada karena ini masih area gunung.
Han Yu mendudukkan Qia di bawah pohon sedangkan Han Yu menuju ke sungai, setelah dirasa yakin kalau air sungai itu tak berbahaya membuat Han Yu memutuskan untuk mandi di sana.
Selepas mandi ia pun mengganti pakaiannya, saat Han Yu berbalik ia sudah mendapati Qia yang mulai sadar. Han Yu pun mendekati Qia untuk menanyakan kabarnya.
"Bagaimana kabar mu? Kau tadi pingsan selama berjam-jam kau pasti lapar," ucap Han Yu, ia pun menyodorkan semangkuk sup yang dibuat oleh Han Yu dari bahan alam sekitar.
Qia yang baru sadar dari pingsannya pun langsung menerima sup itu dari Han Yu tanpa pikir panjang, ia juga merasa sangat lapar dan membutuhkan asupan untuk saat ini.
"Terima kasih karena kau sudah menolong ku? Aku heran kenapa kau mau menolong ku padahal kalau kau membiarkan ku maka kau bisa saja memenangkan kompetisi ini," ucap Qia merasa heran.
"Itu tidak sederhana itu, ratu siluman membuat kelompok pasti karena monster di wilayah gunung ini yang bersifat parasit makanya kita harus membangun kerja sama di babak ini. Lagian aku tak tertarik dengan kompetisi ini, aku hanya tidak ingin didiskualifikasi di kompetisi sekte karena dibunuh," jelas Han Yu.
Qia tak bisa berkata-kata lagi, dirinya paham akan maksud dari Han Yu. Qia bingung harus berbuat apa karena dirinya juga tidak bisa memiliki kalung kehidupan walaupun dia memenangkan kompetisi dari ratu siluman.
"Aku rasa harus membantu gadis ini, hitung-hitung sebagai balas budi," batin Qia yang menatap sosok Han Yu yang sudah menyelamatkannya.
__ADS_1
Walaupun Qia tidak mati walaupun dibunuh oleh monster-monster tadi tapi tetap saja rasanya menyakitkan tadi dan sekarang tubuhnya lebih baik dan pakaiannya sudah berganti.
"Eh, maaf tadi baju mu compang camping makanya aku ganti menggunakan baju ku, tenang saja itu baju baru yang aku beli kemaren malam jadi belum aku kenakan," ucap Han Yu.
"Ya terima kasih, nanti akan aku cucikan lalu aku kembalikan kepada mu, kau dari gunung bulan kan," ucap Qia yang diangguki oleh Han Yu.
"Baiklah, sekarang kita harus melewati jalan ini. Kita harus lebih berhati-hati lagi karena parasit yang berada di gunung ini sangatlah berbahaya," ucap Han Yu.
"Iya, aku rasa kita harus ke sana. Kebetulan aku sering naik turun gunung jadi aku tahu beberapa tanda alam," ucap Qia yang kemudian memandu Han Yu menuju ke puncak gunung.
Akhirnya mereka pun menyusuri sungai, sesekali mereka melawan monster tapi tidak seberbahaya seperti di awal tadi membuat Han Yu dan Qia merasa bingung.
Misalnya ada sekelompok goblin yang dapat dengan mudah ditebas oleh pedang, melihat ini Han Yu tetap tak mengurangi kewaspadaan karena rasa aman ini bisa jadi adalah kepalsuan.
Ada sebuah gubuk di tepi sungai, melihat itu membuat Han Yu merasa tertarik untuk masuk ke dalam. Qia pun hanya mengikuti Han Yu saja walaupun perasaannya tak enak.
"Ini sepertinya gubuk terbengkalai, aku rasa dulu ini adalah tempat tinggal golbin yang kita bunuh tadi," ucap Qia yang melihat kondisi gubuk yang sangat sesuai dengan tempat tinggal goblin.
"Aneh, aku mencium sesuatu yang tak biasa dari kuali ini. Sepertinya ini racun," ucap Han Yu, entah mengapa ia berpikir demikian. Qia yang memperhatikan kuali itu pun menyadari sesuatu.
"Oh aku tahu, sepanjang jalan aku melihat tanaman yang aku kenal beracun di dunia luar aku tak menyangka di alam ini sama-sama beracun tapi lebih kuat. Aku rasa monster di sini memakan tanaman bukan hanya daging sehingga menyebabkan mereka menjadi lemah," ucap Qia.
__ADS_1
"Rasanya aneh kenapa ada tanaman beracun yang dimakan oleh para monster di sini, mungkin saja ini alasan mengapa kondisi alam di sini berbeda dengan saat tadi kita di kaki gunung," ucap Han Yu.
Walau merasa curiga tapi mereka tak punya penjelasan sama sekali.