Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]

Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]
Chp 77 : Mata Panjang?


__ADS_3

"Wah, itu adalah ide yang bagus. Bisakah tolong kau jelaskan beberapa hal yang tak aku mengerti di sini," ucap Cia Changyi antusias.


"Iya, aku bisa saja melakukannya," ucap A Yeong, kemudian mereka pun mendiskusikan apa saja yang sudah diteliti oleh A Yeong.


Yeon-Jin seperti tak dianggap, mereka terlalu sibuk dengan hal-hal yang tak menarik hati Yeon-Jin. Akhirnya Yeon-Jin pun memutuskan untuk keluar saja.


Saat keluar Yeon-Jin bertemu dengan Qia dan Han Yu yang sedang memperhatikan tanaman yang ada di sini, mereka merasa takjub dengan apa yang telah dibuat oleh A Yeong.


Bagaimana tidak? A Yeong telah memodifikasi dengan sekedemikian rupa sampai membuat tanaman yang awalnya beracun menjadi memiliki khasiat pengobatan begitu juga sebaliknya.


Yeon-Jin keluar dari gedung itu, ia berjalan menyusuri sungai lalu duduk diatas batu yang cukup besar sambil menghirup udara yang cukup segar walaupun dipenuhi racun pasif.


"Apa Cia Changyi benar-benar yakin jika nona A Yeong adalah jodohku? Tapi aku sama sekali tak ingat, lagian aku tak tertarik dengan dia walaupun dia cantik," batin Yeon-Jin.


Yeon-Jin melihat ke sampingnya sudah ada Cia Changyi, ia tersenyum lalu mengambil tempat di samping Yeon-Jin.


"Kau sudah selesai dengan nona A Yeong itu? Bagaimana dengan hasil akhirnya?" tanya Yeon-Jin sambil menatap ikan-ikan yang ada di bawah air itu.


"Seperti dulu dia cukup menarik, kau beruntung punya jodoh seperti dia yang bisa membuat tanaman menjadi hal-hal yang tak terduga," ucap Cia Changyi nampaknya antusias.


"Kau bilang dia jodoh ku tapi aku sama sekali tak tertarik dengannya, lagian aku tak begitu mahir kalau urusan hati seperti itu," ucap Yeon-Jin sambil menatap Cia Changyi.


"Ya aku tak memaksa mu, itu semua adalah keputusan mu lagian yang namanya takdir bisa diubah. Bisa saja kau mengubah takdir jodohmu jika kau menyukai seseorang dengan tulus," ucap Cia Changyi.


"Ya. Kau memang benar dengan itu, aku harap seseorang yang cintai bisa membalas perasaan ku. Aku selalu mendengar kisah cinta dengan akhir bahagia tapi aku belum pernah mengalaminya," ucap Yeon-Jin.

__ADS_1


"A Yeong sudah menyukaimu sejak pandangan pertama kepada kau, aku rasa butuh waktu untuk mu menyukai balik A Yeong. Aku pastikan hubungan kalian akan menjadi akhir yang bahagia," batin Cia Changyi.


A Yeong berdiri tak jauh dari tempat Cia Changyi dan Yeon-Jin duduk, ia tersenyum. Entah mengapa ia bisa mulai mempercayai kedua orang itu karena instingnya yang kuat tentang mereka yang tak berbahaya.


"Aku tak menyangka bisa bertemu dengan mereka, baru kali ini aku merasa tidak berbahaya di dekat laki-laki justru merasa aman-aman saja," batin A Yeong sambil mendekati mereka.


"Bagaimana kedepannya?" tanya A Yeong yang ikut duduk diantara Cia Changyi dan Yeon-Jin.


"Ah, itu pastinya kau harus ikut dengan kami. Yeon pasti akan sangat senang jika kau bisa ikut," ucap Cia Changyi yang membuat Yeon-Jin memalingkan muka bukan karena malu.


Beberapa saat kemudian Han Yu dan Qia menghampiri mereka dengan tergesa-gesa karena mereka baru ingat dengan kompetisi yang diberikan oleh ratu siluman.


"Guru, bagaimana dengan kami? Diluar sana juga masih ada 2 murid lain mengikuti kompetisi dari ratu siluman," ucap Han Yu yang merasa panik.


"Apa? Jadi ini bukan kompetisi biasa tapi kompetisi untuk menjadi ratu siluman selanjutnya," ucap Qia, ia merasa terkejut karena tak memikirkan hal itu sebelumnya.


"Iya, tapi hanya yang ditakdirkan saja yang dapat. Itu bagus karena dengan menguasai tempat ini maka bisa memiliki akses memiliki sumber daya serta memerintah siluman di sini," ucap A Yeong menjelaskan.


"Yasudah kalau begitu, sekarang kita selesaikan saja tantangan dari ratu siluman itu. Toh dia paling sudah tahu siapa yang akan mewarisi tempatnya dan hanya main-main saja dengan kalian," ucap Yeon-Jin.


Lalu akhirnya mereka pun memutuskan ke tempat dimana Han Bao dan rekan satunya berada, berkat bantuan dari A Yeong akhirnya mereka bisa melacak keberadan mereka berdua.


"Wah, mereka akan menuju ke puncak gunung. Kira-kira butuh waktu 15 menit untuk sampai ke puncak gunung dari tempat mereka sekarang. Sebaiknya kalian ikuti aku, kebetulan aku punya alat teleportasi," ucap A Yeong.


Akhirnya mereka pun bersama-sama kembali ke gedung lalu menuju ke alat teleportasi yang dimaksud oleh A Yeong yang berupa bundaran besar berwarna-warni.

__ADS_1


Sedangkan ditempat lain.


Han Bao dan Vivi berjalan beriringan, mereka sama-sama terluka cukup parah dengan penyebab yang sama. Mereka sama-sama bisa melihat mereka semakin dekat dengan puncak gunung.


Namun rintangan yang mereka harus hadapi tak semudah itu usai, sudah ada monster berwujud aneh lagi yang mengelilingi mereka dengan beringasnya mata-mata mereka menatap Han Bao dan Vivi.


Han Bao dan Vivi menyadari kalau jalan yang mereka tempuh tak akan semulus ini jika diingat perjuangan mereka dari kaki gunung sampai berada di sini, mendekati puncak gunung.


Han Bao menatap Vivi, mereka menguatkan diri mereka masing-masing dan bersiap dengan serangan duo yang sudah terlatih karena pertarungan bersama yang mereka lalui sebelumnya.


Mata para monster itu memanjang dan mulai menyerang kaki dan tangan dari Han Bao dan Vivi, mereka berusaha menangkis berbagai serangan itu namun luka dari pertarungan mereka sebelumnya kembali terbuka.


Han Bao menendang mata dari monster itu dan menusukkan mata pedangnya tepat dibagian tengah dari mata monster itu tapi mata monster itu sangat lincah dan elaktis.


Urat mata yang panjang melilit tubuh Vivi, Han Bao yang panik pun langsung memutus urat itu. Setelah urat itu putus, membuat monster itu sekarang menargetkan ke Han Bao.


Para mata monster itu berjejer lalu menyebar ke segala arah, Han Bao dan Vivi langsung panik karena mereka akan di jerat dengan urat-urat mata yang sangat kuat itu.


Han Bao dan Vivi pun menyerang dari sisi yang berlawanan dan dengan gerakan 180 derajat mereka menyerang urat-urat itu dengan harapan bisa putus seperti sebelumnya.


Namun sepertinya itu agak sulit, Han Bao yang panik pun mendorong tubuh Vivi ke atas sehingga membuat Vivi melompat ke atas melewati urat-urat itu.


Bersamaan dengan itu, Han Bao juga ikut melompat namun urat-urat itu berhasil menangkap kaki kanan dari Han Bao dan menariknya. Vivi pun terjatuh lalu melihat ke belakang.


Vivi segera bangkit, ia memegang pedangnya ke depan. Mata pedangnya lurus ke depan lalu menghunuskan mata pedangnya ke mata monster terdekat.1

__ADS_1


__ADS_2