Menjadi Suami Bayaran

Menjadi Suami Bayaran
Bab 54 ~ Menjadi Suami Bayaran


__ADS_3

Kedatangan Psikolog Clara


Wanita cantik berjalan ke arah koridor rumah sakit, bertemu dengan dokter senior yang selama ini menangani Kimmy.


Clara memperkenalkan dirinya, sebenarnya Devano dan Zaskia sudah mengenal wanita itu, dia adalah mantan kekasih Devano sebelum ia berpacaran dengan mantan kekasih yang dulu mengkhianatinya.


"Selamat siang, saya Clara!"


Clara bersikap profesional dalam perkerjaannya, Devano membatalkan kerjasama dengan Clara untuk menangani Kimmy


"Maaf, tapi seperti saya akan mencari psikolog yang lain,"


Devano berlalu pergi


"Maaf dokter, saya akan kembali!" Zaskia meminta izin kepada Clara dan dokter senior.


Zaskia mengejar kakaknya "Kak tunggu!"


"Ada apa Zaskia? Jika kamu mengejar kakak agar kakak mau menerima Clara sebagai psikolog pribadi untuk kakak ipar mu jangan! Kakak tidak akan mengizinkannya!"


"Kak, dengar kan Zaskia dulu!"


"Ada apa lagi Zaskia?"


"Kak, kakak harus mendengarkan aku!"


Zaskia meminta kakaknya untuk mengerti keadaan "Kak, ini bukan hanya tentang kakak dan masa lalu kakak! Tapi ini tentang masa depan kak Kimmy dan anak kalian! Jangan egois dong kak, jangan karena masa lalu kakak menolak kak Clara untuk menangani kak Kimmy,"


Devano tak mau berurusan dengan masa lalu, ia takut masa lalu akan merusak pernikahannya


"Kita bisa mencari psikolog terbaik yang lainnya, bukan hanya dia yang ada di dunia ini! Masih banyak yang bisa membantu Kimmy,"


"Kak, tapi kakak dengar kan kak Clara yang di rekomendasi menjadi psikolog terbaik oleh dokter yang selama ini menangani kak Kimmy,"


"Sudah lah Zaskia! Kakak tidak ingin berdebat!"


"Namun demi masa depan kakak ipar dan juga keponakan aku. Aku akan selalu berdebat dengan kakak tentang masalah ini!"


Zaskia memang keras kepala, ia terus meminta kakaknya untuk setuju. Devano pun mengusap kepalanya dengan gusar.


"Baik lah!"


Zaskia tersenyum, memeluk kakaknya "Makasih kak, kakak udah memahami segalanya!"


Keduanya pun kembali menemui Clara dan dokter senior itu


"Maaf dokter, tadi kakak saja sedikit bingung dan cemas. Makanya mengatakan hal yang asal, saya meminta maaf atas nama kakak saya!"


"Maaf dokter Arnold. Namun sepertinya saya yang tidak bisa! Saya sudah datang jauh-jauh ke Indonesia karena saya sangat menghormati anda. Namun, sesampai di sini saya justru mendapatkan perilaku yang kurang mengenakan,"


"Tidak masalah jika anda tidak mau menangani istri saya, kami akan mencari psikolog terbaik,"


"Kakak!"


Zaskia memarahi kakaknya, ia pun memohon kepada Clara "Maaf dokter Clara, kakak saya tidak bermaksud menyakiti anda. Namun saya mohon! Kakak ipar saya butuh bantuan, dan anda orang yang tepat!"

__ADS_1


Zaskia memohon kepada Clara agar mau menangani kakak iparnya.


"Sudah lah Zaskia! Jangan memaksakan kehendak! Kita bisa mencari psikolog yang lain!"


"Kakak diam lah! Jangan banyak bicara, biar ini menjadi urusan Zaskia!"


Devano bungkam, membiarkan adiknya yang menyelesaikan segalanya. Sebenarnya, ia malas jika Clara yang harus menangani istrinya namun demi kebaikan dia hanya mengalah saja.


****************


Setelah bersusah payah meyakinkan Clara, akhirnya wanita itu pun mau untuk menjadi psikolog untuk Kimmy


"Terimakasih banyak dokter! Sungguh, saya tidak mengerti bagaimana lagi mengungkapkan terimakasih ini. Namun saya sangat, sangat berterimakasih karena dokter sudah mau membantu menyembuhkan kakak ipar saya!"


Clara mengangguk, dia wanita baik dan sangat profesional hanya saja sikap Devano tadi sangat menyakiti hatinya! Mengapa Devano tak bisa bersikap profesional? Dahulu, yang menyakiti dan menyelingkuhi Clara adalah Devano.


Lalu, mengapa pria itu bersikap seolah-olah Clara lah yang sudah menyakiti hatinya.


************


Namira menyiapkan sarapan untuk suaminya


"Mas makan lah!"


Kevin pun sarapan bersama anaknya Tammy


"Tammy sayang, kita pergi yuk sama papa?"


"Mau kemana mas?"


Kevin menatap istrinya "Apakah membawa anak ku sendiri harus mendapatkan izin dan memberitahunya secara detail?"


"Dia anakku, dan terarah aku mau kemana membawanya Namira!"


"Iya mas dia anak kamu, tapi apakah aku enggak mempunyai hak untuk mengetahui kemana suami dan anak aku pergi? Beberapa hari ini, kamu selalu pergi berdua dengan Tammy ada apa mas? Biasanya kamu paling malas membawa Tammy? Apa karena teman lama kamu itu? Kamu mau kesana dengan alasan bermain atau kasian dengan Kisha hidupnya?"


"Kalau memang iya kenapa?"


"Kamu kasihan sama dia, tapi kamu enggak kasihan sama aku? Aku ini istri kamu mas, bukan hanya pajangan kamu saja!"


Namira mengatakan dengan nada gemetar, menahan tangis "Namira, aku enggak mau ribut sama kamu. Kamu kenapa mencari masalah terus sama aku?"


"Aku tidak pernah mencari masalah sama siapapun mas! Aku hanya bertanya, kamu mau kemana dengan Tammy?"


"Aku ingin mengajak anak ku jalan-jalan!"


Keduanya berdebat, Namira menatap suaminya "Aku ikut!"


Spontan Kevin menatapnya "Kenapa? Apa harus kamu terkejut dan kesal dulu dengan aku baru kamu mau menatap mata aku mas?"


"Aku capek berdebat dengan mu!"


Kevin menggendong anaknya, ia ingin membawa Tammy pergi "Kalau kamu pergi, aku akan menghubungi mama dan papa! Aku akan memberitahu ini kepada mereka biar mereka tahu bagaimana kelakuan anaknya!"


Sepertinya, Namira sudah tak tahan lagi! Suaminya sudah membuatnya merasa sakit dan hancur

__ADS_1


"Terserah kamu mau mengadu atau tidak! Kalau kamu enggak tahan lagi dengan aku, kamu tau kan di mana kantor pengadilan agama?"


Kevin pergi, Namira terduduk lemas dengan ucapan suaminya. Apakah perannya tak berarti bagi Kevin?


Namira tau, pernikahan mereka bukan karena cinta namun Namira selalu berusaha menjadi istri yang baik, namun mengapa Kevin tak pernah menganggap ia ada?


Ucapan Namira yang mengatakan ingin mengadu kepada mertuanya itu hanya sebuah gertakan saja.


**************


Ting....tung!


Suara bel rumah Tammy berbunyi, ia membuka pintunya dan melihat ada Kevin dan Tammy kecil yang datang.


"Hai anak cantik!" Tammy mempersilahkan Kevin dan anaknya untuk masuk.


"Maaf kalau aku datang sepagi ini,"


"Oh enggak apa-apa kak, aku juga lagi enggak sibuk kok. Udah siapan juga, Bintang juga udah tidur lagi,"


Kevin memberikan bungkusan makanan yang sebelumnya ia beli


"Ini tadi ga sengaja lewat, jadi aku inisiatif beli takut kamu enggak sempat sarapan karena sibuk mengurus Bintang,"


Tammy mengambil bungkusan itu, dan tersenyum tak lupa ia mengucapkan terimakasih


"Terimakasih banyak kak, maaf telah merepotkan!"


"Enggak kok, aku juga sengaja membelikan ini,"


Kevin meminta Tammy untuk sarapan, tubuh wanita itu terlihat sangat kurus.


"Kamu pasti lelah mengurus Bintang sendirian, lihat tubuh kamu sangat kurus!"


Tammy tersenyum "Ini juga udah gemuk-an kak! Kemarin aku lebih kurus tau! Ya gimana enggak kurus, beberapa bulan aku depresi kak!"


Kevin merasa sedih "Kamu enggak pantas di sakiti Tammy!"


"Ya gimana kak, udah jalan hidup aku begini! Aku udah ikhlas dengan semua yang terjadi kok,"


Tammy membuka makanan itu, lalu ia menyantapnya. Tammy juga menyuapi anaknya Kevin


"Sepertinya dia menyukai kamu,"


"Mama, mama!"


"Lihat, dia sangat suka dengan kamu sepertinya. Semenjak bertemu selalu memanggil kamu mama,"


"Aku maklum kak, apalagi sejak kecil dia kurang sosok ibu. Aku prihatin dengannya,"


Tammy tidak tau jika sebenarnya pria itu sudah menipu dirinya. Ia sudah memiliki istri


Bel apartemen Tammy berbunyi,


Ia merasa bingung, karena tak pernah memesan makanan apapun dari luar.

__ADS_1


"Sebentar ya kak? Aku buka dulu mau lihat siapa yang datang,"


Kevin mengangguk, tidak ada merasa curiga dengan siapapun.


__ADS_2