
"Kakak enggak mau ya kalau Zaskia sering kesini?"
Kimmy menyangkal ucapan adik iparnya "Bukan begitu Zaskia! Namun, kamu kan akan menikah dan menjadi istri orang lain tidak bisa selalu dengan kakak!"
Zaskia sedih, wajahnya cemberut Kimmy memeluk adik iparnya itu "Jangan cemberut begitu! Nanti cantiknya hilang lagi,"
"Kak, bagaimana menjadi istri yang baik?"
Zaskia ingin belajar menjadi lebih baik, namun ia ragu apakah dirinya bisa atau tidak?
"Percaya saja, asal niat kita baik semuanya akan baik,"
Kimmy mengatakan jika dirinya dulu juga tak pernah berpikir akan menikah "Dulu, kakak juga tidak menyangka akan menikah dengan kakak mu, semuanya terjadi begitu cepat. Kakak meminta kakakmu untuk menikah dengan ku, namun kakak belum siap menjadi istri. Begitu juga dengan Devano! Tapi, kami berusaha untuk menghargai pernikahan kami,"
"Kak, tapi bagaimana jika nantinya Vero akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh kakak ku? Menikah dengan wanita lain yang menjadi pilihannya. Apakah Zaskia siap menerima semua itu? Pernikahan kami bukan di dasarkan cinta bahkan sampai sekarang kami tidak pernah bertemu sama sekali. Bagaimana Zaskia harus menghadapi semua ini?"
Kimmy terdiam, ia pun tak bisa menjawab pertanyaan dari Zaskia "Kakak juga enggak tau harus bilang apa, saat kakak mu menikah dengan saudara kembar ku sendiri rasanya dunia ku membingungkan, semuanya seperti simalakama apapun yang kakak lakukan salah,""
Mengingat kejadian itu, Kimmy meneteskan air matanya. Zaskia meminta maaf kepada kakak iparnya itu "Kak, maafkan Zaskia! Bukan maksud Zaskia menyakiti hati kakak. Sungguh, Zaskia enggak bermaksud melakukan itu. Zaskia hanya merasa khawatir dengan pernikahan ku sendiri. Kata orang, anak atau adik perempuan akan mendapatkan karma dari perlakuan ayah dan kakak lelakinya,"
Kimmy tersenyum, meminta kepada Zaskia untuk tidak memikirkan hal yang aneh-aneh
"Sudah lah Zaskia! Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh, Devano itu lelaki yang baik! Dan kita tau alasannya menikah dengan Tammy itu kan? Jadi, jangan memikirkan hal yang aneh-aneh lagi ya?""
Zaskia mengangguk,
Keduanya berpelukan
"Kak, kapan kakak pulang?"
"Tadi,"
"Lalu bagaimana dengan Bintang? Sudah tumbuh besar dia kak?" Kimmy mengambil ponsel di tasnya, ia pun menunjukkan video dan picture Bintang yang menggemaskan
Zaskia merasa gemas dengan pertumbuhan Bintang "Kak, menggemaskan sekali Bintang sekarang ya?"
Kimmy tersenyum, Zaskia mengatakan jika Bintang di sini, ia pasti akan menjaga dan menyayangi Bintang
Kimmy senyumannya memudar "Untung saja Bintang tak ada disini, jika ada pasti kasih sayang anakku akan terbagi!"
Kimmy pun mengatakan dalam hati,
"Kak, kapan kak Tammy dan Bintang kembali ke sini?"
Kimmy menggelengkan kepalanya "Tidak tau, sepertinya dia tak akan datang kesini, Tammy memutuskan untuk tidak akan kembali lagi kesini,"
Seperti yang Tammy katakan, jika dirinya tak akan pernah kembali ke tanah air "Kenapa kak Tammy harus pergi dan menjauh kak? Apakah kak Tammy memiliki perasaan dengan kak Devano dan berusaha untuk melupakan kakak Devano?"
__ADS_1
Kimmy menatap adik iparnya, apa yang dikatakan oleh Zaskia memang benar?
"Kak?"
Lamunan Kimmy memecah, menatap Zaskia "Enggak mungkin Zaskia! Tammy sudah mengatakan kepada kakak kalau dirinya tidak pernah mencintai Devano! Dia pergi dari negeri ini dan menjauh karena untuk menebus rasa bersalahnya kepada kakak,"
"Kakak percaya?"
Zaskia menatap kakak iparnya, rasanya mustahil jika Tammy tak memiliki perasaan apapun kepada Devano "Kakak akan berusaha mempercayai ucapannya, dan melihat Tammy yang sekarang kakak benar-benar yakin jika dia memang berubah!"
Zaskia berharap jika Tammy mengatakan yang sebenarnya, karena ia selalu berdoa untuk kebahagiaan rumah tangga kakaknya
***************************************************
Di sisi lain,
Keluarga Kevin dan Namira masih berduka sudah beberapa hari kepergian mama Kevin. Namun suasana itu masih menyelimuti duka keluarga mereka
Pagi ini,
Namira membuatkan sarapan untuk suami dan ayah mertuanya biasanya mama mertuanya Namira selalu memuji masakan Namira.
"Pa, mas! Saya tau ini enggak mudah untuk kita semua. Tapi kita harus bangkit dari keterpurukan ini, dan saya juga yakin jika mama akan sedih jika melihat kita terus saja sedih!"
Namira mengatakan dengan nada yang gemetar, menahan tangisnya. Ia berusaha tegar untuk keluarganya
Kevin menoleh ke arah papanya "Cukup pa! Kenapa papa menyalahkan Tammy? Ini bukan kesalahan Tammy!"
"Saya tidak menyalahkan wanita itu, namun kamu lah yang harus di salahkan! Kenapa kamu tidak bisa menahan diri untuk tidak menemuinya! Jika kamu tidak menemuinya, istri mu tak akan terluka!"
Suasana di meja makan semakin memanas,
Namira tidak tau harus melakukan apa lagi, keharmonisan di keluarganya dulu kini telah lenyap, pergi menjauh bersama dengan kematian ibu mertuanya.
"Memangnya kalau mas Kevin dan papa bertengkar mama akan kembali dengan kita? Tidak kan? Mama juga akan sedih melihat suami dan anaknya terus saja bertengkar seperti ini! Tolong dong mas, tolong dong pa! Stop! Jangan terus berdebat dan menyalahkan seperti ini! Kepergian mama itu sudah takdir dan jika ada yang harus di salahkan itu adalah saya!"
Namira akhirnya tak kuasa, ia menangis mengatakan semuanya
"Jika saja saya bisa mengendalikan diri dan tidak marah-marah tentu saja mama tidak harus tau kebenarannya kan?"
Papa mertuanya tetap membela Namira "Tidak nak! Ini bukan kesalahan kamu, kamu adalah korban dari keserakahan suami mu!"
Kevin terdiam, dia memang sadar dengan kesalahannya
"Saya memang bersalah," Kevin mengatakan dengan nada yang bersalah
__ADS_1
Namira menggelengkan kepalanya
"Sudah, waktunya kita makan!" Namira berusaha tersenyum dan ceria seperti semula, ia tak mau terus larut dalam kesedihan. Semuanya sudah cukup membuat mereka sedih, Namira enggak mau keluarganya terus dihantui oleh rasa duka dan rasa bersalah
"Kamu lihat! Istri mu sangat mulia dan memaafkan semua dosa yang sudah kamu lakukan! Tapi kamu? Tidak tau diri dan tak mau di salahkan!"
Papanya terus saja mencaci Kevin "Kenapa papa selalu menyalahkan saya?" Kevin memukul meja dengan kesal, ia tau kesalahannya namun dia sendiri pun tak mau semuanya terjadi "Karena kamu saya kehilangan istri yang saya cintai!"
"Pa, mas! Tolong cukup!"
Namira merasa sangat pusing, hingga pandangannya kabur.
Bruak!
Namira!
Kevin dan papanya berteriak, menuju ke arah Namira yang jatuh lunglai di atas lantai
Kevin menggendong istrinya, membawanya ke kamar
"Ini semua karena kamu!"
Papanya masih saja menyalahkan Kevin, namun pria itu tak menggubris ucapan papanya. Ia membawa Namira ke kamar.
Lalu menghubungi dokter memeriksa keadaan Namira.
"Ini semua karena kamu!"
"Pa maaf! Tapi lebih baik papa pulang di antar oleh supir," dengan lembut, Kevin mengusir papanya.
"Kamu mengusir saya?"
"Baik! Saya akan pergi, dan saya tak akan sudi menginjakkan kaki saya di rumah kamu!"
Kevin tak bermaksud mengusir papanya, namun ia kesal karena papanya selalu saja menyalahkan dirinya.
Kevin juga tak mau kehilangan mamanya, dan andai waktu bisa diputar kembali ia akan mengubah semua kesalahannya. Namun setiap detik di pohokkan oleh papanya membuat Kevin kesal.
Ia menatap kepergian papanya "Maafkan Kevin pa! Kevin enggak bermaksud mengusir papa! Tapi keluarga Kevin juga membutuhkan ketenangan saat ini! Kevin berjanji, akan menyuruh orang suruhan Kevin untuk memantau selalu keadaan papa, Kevin enggak akan lepas tanggung jawab dari papa!"
Tak lama,
Dokter datang ke apartemen Kevin, memeriksa keadaan Namira. Mengatakan jika Namira sedikit tertekan dan butuh istirahat
Keadaan yang terjadi beberapa hari ini membuat Namira merasa stres, dan juga tertekan. Kevin semakin merasa bersalah, ia pun mengantar dokter itu keluar setelah selesai memeriksa istrinya.
Dokter menyarankan kepada Kevin agar Namira jangan terlalu banyak pikiran, itu akan membuat kesehatannya menurun. Dan jika terus terjadi, akan menyebabkan hal yang fatal
__ADS_1
Terkadang, kematian tidak selamanya terjadi karena kecelakaan, dan juga sakit. Namun, karena pikiran. Itu sebabnya, kita tidak boleh memendam masalah sendirian. Dan harus membutuhkan pertolongan psikiater terlihat sepele namun itu lah yang terjadi.
Kevin mengusap wajahnya dengan kasar, ini semua memang kesalahannya! Ia selalu membuat Namira merasa tertekan dengan sikapnya!