Menjadi Suami Bayaran

Menjadi Suami Bayaran
Bab 73 ~ Menjadi Suami Bayaran


__ADS_3

Keikhlasan seorang istri yang merelakan suaminya untuk wanita lain jika itu memang kebahagiaan untuk Kevin, lagi pula, mereka sudah menikah selama tiga tahun namun Kevin tidak bisa melupakan wanita yang dia cinta.


Namira berfikir sejenak, saat kakaknya menjadi istri Kevin Amira juga merasakan hal yang sama seperti dirinya.


Amira sangat kuat dan tabah menjalani hari-hari "Maaf, aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu juga kakakmu, aku telah bersalah. Dulu aku gagal menjadi suami untuk Amira hingga dia meninggal, dan sekarang aku menyia-nyiakan adiknya. Aku juga gagal untuk menjadi suami adiknya,"


"Mas, ini semua bukan kesalahan mu! Tapi, kamu salah memilih pasangan. Aku yakin, jika kamu menikah dengan Tammy wanita yang kamu cinta, kamu tidak akan pernah gagal menjadi suami apalagi menjadi ayah!"


Kevin menggelengkan kepalanya "Tidak,"


"Kevin, Namira sudah waktunya kita melakukan upacara pemakaman terkahir untuk mama kamu,"


belum selesai Kevin berbicara, mereka sudah di panggil untuk mengikuti pemakaman mamanya untuk terakhir kali.


*********************************


*********************************


Tammy pulang kerumah dengan isakan tangis, apakah sehina itu menjadi wanita? Pernikahan pertamanya gagal, lalu ia menikah dengan Devano yang merupakan suami saudara kembarnya. Dan sekarang? Ia di cap sebagai perusak rumah tangga orang lain padahal dirinya sendiri tak menginginkan atau mencintai Kevin.


"Aku sudah berusaha menjadi orang baik, namun mengapa orang-orang semakin menginjak-injak harga diri ku? Apa kesalahan ku? Mengapa aku tak bisa bahagia dan tenang dengan Bintang!"


Yang paling membuat Tammy hancur, saat papanya Kevin mengatakan dirinya wanita pembawa sial, pembawa masalah dan juga penyebab kematian mamanya Kevin padahal ia tak pernah melakukan apapun


Drrt....! Drt....!


Suara ponsel Tammy bergetar, yang menghubunginya adalah Devano, segera Tammy mengangkatnya untuk pertama kali


Panggilan terhubung


"A-ada apa?" tanyanya dengan nada yang datar. Tammy menghapus air matanya, tatapannya kosong dan begitu tajam seakan sifat jahatnya kembali muncul


"Tammy, apakah kamu baik-baik saja? Tammy maaf aku mengganggu mu, tetapi perasaan ku tak enak. Dan mengapa kau mengangkat panggilan ku?"


Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh Devano dalam seberang saja dalam telepon. Tammy pun menjawab dengan singkat


"Jangan membuat waktu ku, katakan apa yang kau ingin katakan!"


"Tammy, tolong dengarkan aku! Kau wanita cantik baik dalam atau pun dari luar! Aku mohon, apapun masalah dan sesulit apapun masalah yang kamu hadapi. Tetap lah menjadi orang baik, jangan pernah beranggapan jika menjadi orang baik itu melelahkan! Jangan bangunkan jiwa jahat kamu! Ingat tujuan kamu! Fokus lah bahagia dengan Bintang agar kamu damai!"


Tammy menitikan air matanya, terdengar jelas suara sesenggukan dari telepon "Tammy, aku yakin kamu kuat! Kalau kamu lelah, aku akan ada di sisi kamu! Aku mohon, tetaplah menjadi wanita dan menjadi ibu yang baik untuk anak kamu!"


"Jangan menangis Tammy! Kimmy di sini sudah memaafkan kamu, dia juga merindukan kamu! Jangan membuatnya kecewa lagi, jangan rusak kepercayaannya lagi!


Tammy mematikan panggilan, tentu saja membuat telepon terputus. Ia pun menjatuhkan teleponnya ke lantai dan berteriak sekerasnya


Hidup terlalu pahit dan kejam bagi orang-orang lemah sepertinya


Kenapa takdir tak adil? Apa kesalahan ku?


Tammy berteriak, sesekali membanting barang yang ada di hadapannya! Ia mencari sesuatu di dalam lagi, lalu dengan gemetar memakan pil penenang itu.

__ADS_1


Hanya pil itu yang mampu membuatnya melupakan semua rasa sakit walau hanya sejenak!


Tammy ingin menelan beberapa butir lagi, ia ingin mengakhiri hidupnya namun suara tangisan Bintang membuatnya langsung tersadar, ia pun membuang pil itu hingga berjatuhan di lantai!


"B-bintang ana-anak ku!" Tammy bangkit perlahan, mendekati Bintang dan tertidur di atas tempat tidur. Segera ia menggendong Bintang, menangis dan meminta maaf


"Maafin mama sayang! Mama tak memikirkan bagaimana masa depan kamu jika mama meninggalkan dunia ini hiks," Tammy mencium pipi Bintang beberapa kali, dan terus meminta maaf kepada Bintang


"Maaf! Maaf! Maaf!"


Tammy menyanyikan lagu untuk menenangkan anaknya


***************************************************


Sayang ku sayang! Anakku sayang! Tidur lah sayang, jangan menangis! Hari sudah gelap, tidur lah sayang! Maafkan mama, mama mu ini! Sayang ku Bintang! Yang selalu menerangi kehidupan mama, tidur lah sayang. Jangan lah menangis! Anakku Bintang, kesayangan mama! Tidur lah sayang! Jangan menangis! Bintang ku sayang, kelak kau akan menjadi arjuna kehidupan ku, menerangi hidup ku! Bintang ku sayang!


*******************************


Tammy menciptakan lagu tidur untuk anaknya sendiri, ia pun membaringkan Bintang ke atas tempat tidur saat anaknya sudah terlelap, lalu ia tertidur di samping Bintang. Tak jarang, Tammy terus meminta maaf kepada anaknya, obat penenang itu membuatnya terlelap tidak membutuhkan waktu yang lama.


Sesekali isakan tangisnya masih terdengar, orang-orang selalu menganggap dia wanita yang jahat tanpa mereka sadari Tammy berjuang melawan dirinya sendiri agar tetap waras.


***************


"Sayang, kamu habis telepon dengan siapa?" tanya Kimmy yang baru masuk ke dalam kamar, melihat suaminya meneteskan air mata setelah menerima panggilan dari orang tersebut


"Tidak, ini hanya rekan kerja!"


"B-bukan, maksudnya iya! Aku menangis karena merindukan mama dan papa!" Kimmy pun mengangguk, Devano berpamitan kepada Kimmy untuk ke toilet, ia meletakkan ponselnya diatas meja.


Setelah memastikan Devano masuk ke dalam kamar mandi, Kimmy menatap ke arah ponsel suaminya


"Apakah aku harus mengambil dan memeriksanya? Namun, apakah ini tidak melanggar privasinya?"


Kimmy takut, namun ia juga penasaran. Kimmy tak percaya jika Devano berhubungan dengan rekan kerja apalagi sampai membuat suaminya menangis.


Bukannya itu alasan yang tak masuk akal? Tanpa ragu, ia mengambil ponsel suaminya untuk saja ponsel itu tak terkunci.


Kimmy melihat panggilan keluar, dan terlihat jelas nama Tammy


Kimmy lemas, ia berusaha tenang


"Dia berbohong? Kenapa dia harus berbohong?" Kimmy meneteskan air mata, ia tak marah jika suaminya mengubungi Tammy apalagi mereka pernah menjadi suami istri. Dan bagaimana pun saat ini Devano dan Tammy sudah menjadi orang tua angkat dari Bintang, keduanya bertanggungjawab penuh atas Bintang. Namun mengapa suaminya harus berbohong?


"Mengapa dia berbohong? Menjaga perasaan ku? Tapi apa dia tidak tau jika hal ini lebih menyakitkan perasaan ku jika aku tau semuanya sendiri?"


Ia juga membaca pesan yang dikirimkan suaminya untuk Tammy, begitu banyak pesan yang mengatakan semua kerinduan Devano kepada Tammy namun saudara kembarnya itu tak pernah menjawab bahkan dari Tammy dan Devano Reski berpisah.


Pintu kamar mandi terbuka,


Kimmy langsung meletakan ponsel suaminya ke tempat semula "Sayang, kamu masih di sini?" Kimmy tersenyum dan mengangguk

__ADS_1


"I-iya, tadinya mau tidur di ranjang tapi aku kesulitan gerak makanya diam dulu di sini,"


Devano mendekati Kimmy, ia ingin membantu istrinya untuk ke arah ranjang namun Kimmy menolak "T-tidak Van! Aku bisa sendiri, lagi pula aku harus bisa terbiasa sendiri,"


"Sayang, apa yang kamu katakan? Aku ini suami kamu, dan aku berhak untuk menjaga dan melindungi kamu. Aku enggak mau kamu melakukan apapun sendirian,"


"Van, gimana kalau kamu pergi? Aku harus terbiasa mengerjakan apapun sendiri kan?"


"Sayang, kamu bicara apa sih? Aku enggak suka dengar kamu mengatakan hal yang enggak masuk akal. Enggak mungkin aku pergi dan meninggalkan kamu sendiri,"


"Iya mungkin aja!" jawab Kimmy dengan nada yang sedikit keras, Devano melihat kearahnya


"Gimana kalau kamu pergi ke kantor, aku harus melakukan apapun sendirian kan?"


Devano menggelengkan kepalanya, Kimmy berjalan pelan-pelan menuju ranjang. Ia duduk perlahan, lalu membaringkan tubuhnya


"Udah biar aku sendiri!" Kimmy kembali menolak bantuan yang diberikan oleh suaminya


"Kamu kenapa Kimmy?"


Kimmy tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala dan tersenyum. Devano merasa aneh dengan sikap istirnya yang tiba-tiba berubah.


Namun Devano tak mau memperpanjang masalah lagi, baginya keselamatan dan kesehatan Kimmy yang paling penting


"Sayang, kamu istirahat saja ya? Aku harus mengerjakan pekerjaan, kalau ada apa-apa kamu bilang sama aku ya?"


Kimmy mengangguk, Devano mau mengecup kening Kimmy namun wanita itu menghindar. Devano merasa bingung dengan Kimmy, namun ia tau bukan waktunya untuk berdebat apalagi dalam masalah hal kecil.


Hormon ibu hamil susah di tebak, dan Devano hanya berusaha untuk memakluminya saja


"Ya sudah sayang! Kamu tidur ya? Aku pergi dulu,"


Devano segera meninggalkan Kimmy di kamar, setelah Devano pergi. Kimmy membaringkan tubuhnya, ia pun menangis agar suara tangisannya tak terdengar Kimmy menutup mulutnya dengan selimut.


Walau Tammy sudah pergi jauh, namun bayang-bayang saudara kembarnya itu masih ada dalam rumah tangganya.


"Apakah ini salah? Apakah sebaiknya aku saja yang mengalah dan mundur! Aku saja yang pergi dari kehidupan Devano! Bukanya Tammy!"


Kimmy tak tau entah sampai semua ini akan berakhir, entah sampai kapan suaminya bisa melupakan Tammy. Ia juga tak menyalahkan Tammy, karena terlihat jelas dari pesan WhatsApp tersebut jika Devano yang selalu berusaha menghubungi Tammy dan Tammy selalu mengabaikannya!


Namun yang membuat Kimmy bingung, mengapa Tammy akhirnya mengangkat panggilan dari Devano sementara selama ini Tammy selalu menghindar.


"Aku berharap, Tammy benar-benar memegang ucapannya dan tak berubah pikiran! Entah apa yang akan terjadi jika Tammy berubah pikiran dan mengambil Devano dari ku lagi! Apa yang akan terjadi kepada anakku? Apakah aku harus mengikhlaskan Tammy dengan Devano?"


Kimmy sudah mulai menyerah, namun ia mengingat masa depan anaknya "Tidak! Tak akan aku biarkan anakku lahir dan tumbuh tanpa sosok papa. Hanya karena demi anak dari panti asuhan itu! Bagaimana pun, anak yang aku kandung adalah darah dagingnya Devano! Yang lebih berhak atas Devano adalah anakku! Darah dagingnya sendiri bukan Bintang, anak yang di adopsi dari panti asuhan!"


Sebagai seorang ibu, Kimmy memang egois demi masa depan anak-anaknya. Ia mau yang terbaik untuk anaknya, dan ibu mana yang rela melihat anaknya menderita, tumbuh tanpa sosok ayah. Dan setiap detiknya akan selalu di hina oleh teman-temannya sekolahnya, teman rumahnya dan juga masyarakat karena anaknya tumbuh tanpa sosok ayah.


"Tidak! Demi anakku! Aku tidak akan menyerah, aku enggak akan melepaskan Devano! Aku dan anakku lebih berhak atas Devano bukan Tammy dan juga anak angkatnya!"


Kimmy berfikir, bagaimana pun darah lebih kental dari apapun! Jadi, sampai kapan pun anaknya lah yang akan menjadi pemenangnya! Dan demi masa depan anaknya. Kimmy tak akan mengalah walau itu untuk saudara kembarnya sendiri!

__ADS_1


__ADS_2