
Zaskia ingin mengantarkan minuman itu kepada kakak iparnya namun Devano mengatakan jika dirinya yang akan mengantarkannya secara langsung.
"Kakak saja yang memberikannya kepada kakak ipar mu,"
Zaskia pun memberikan segelas bandrek tersebut kepada Devano. Segera pria itu masuk ke dalam kamar.
Ceklek!
Pintu ia buka dengan pelan, terlihat Kimmy sedang duduk dengan pandangan yang kosong, Devano berjalan mendekati Kimmy
"Sayang, ini pesanan kamu!" Kimmy pun terpecah dari lamunannya. Menatap Devano, wanita itu mengucapkan terimakasih
"Makasih sayang,"
"Iya sayang,"
Keduanya memiliki hubungan yang semakin hangat, Devano selalu memberikan kekuatan kepada Kimmy agar keduanya akan melewati badai itu secara bersama-sama.
Kimmy meneguk minumannya sedikit, lalu memberikan gelas itu kepada Devano. Pria itu meletakan gelasnya di atas meja.
"Maaf," ujar Kimmy yang menatap suaminya dengan sendu, Devano merasa bingung
"Ada apa sayang?"
"Maaf, karena aku kamu menjadi seperti ini. Aku gagal menjadi istri, seharusnya aku yang mengurus kamu bukan sebaliknya,"
Kimmy merasa gagal menjadi istri, gagal menjadi ibu. Ia merasa tidak berguna. Devano memegang kedua pipinya dengan gemas, keduanya menatap satu sama lain dengan begitu dalam dan teduh
"Sayang, kamu itu sangat berguna buat aku! Tugas suami istri itu saling jaga, saling sayang, saling cinta dan saling melindungi satu sama lain kan?"
Devano mengusap air mata Kimmy, saat pipi wanita itu basah oleh air mata Kimmy
"Jangan menangis! Melindungi dan menjaga kamu itu tugasnya aku sayang!"
Dengan sesenggukan Kimmy mengangguk "T-tapi aku merasa sangat gagal,"
"Kamu enggak gagal! Dan ingat, ada anak yang menanti kelahirannya, untuk sekarang kamu enggak apa sedih-sedihnya, kamu berduka. Namun sayang aku mohon! Saat anak kita datang ke dunia ini maka kebahagiaan kamu juga harus terlahir kembali, buang lah semua kesedihan kamu. Sekarang, aku bisa menerima kamu abai dengan aku dan Zaskia. Namun, aku enggak bisa menerima kalau nantinya kamu abai dengan anak kita, dia juga punya hak untuk bahagia. Punya hak untuk mendapatkan cinta, perhatian dan kasih sayang ibunya dengan layak! Tak perduli apakah dia laki-laki atau perempuan. Dia tetap anak kita,"
"Tapi aku ingin ia menjadi seperti Kayla!"
Devano menatap istrinya "Sayang, dia bukan Kayla. Dia anak kita, dia adiknya Kayla! Kamu enggak bisa memintanya dan memaksanya menjadi Kayla. Itu namanya kamu merenggut haknya menjadi anak,"
Devano berbicara dengan sangat lembut, memberikan pengertian tanpa adanya kemarahan atau kekasaran.
"Sungguh, aku minta maaf! Jika nantinya kamu merenggut hak itu dari anak kita, kamu mengabaikan anak kita. Kamu enggak sayang dia atau bahkan memaksanya untuk tidak menjadi diri sendiri. Aku akan pergi membawa Zaskia dan anak kita ini, karena aku papanya. Dan tidak ada satu pun papa di dunia ini yang menerima melihat anaknya di perlakukan dengan tidak adil, walau yang melakukannya itu adalah wanita yang sudah melahirkan anaknya,"
Mata Devano berkaca-kaca, sungguh ia takut dan mengkhawatirkan tentang masa depan anaknya kelak. Ia takut, jika Kimmy tak bisa menjadi ibu yang utuh untuk anak-anaknya. Ia takut jika Kimmy mengubah anak-anak menjadi orang lain, ia takut anaknya tak bisa menjadi diri sendiri. Dan kasih sayang Kimmy tidak ada untuk anak-anaknya
__ADS_1
"Bagaimana kamu mengintai, memberikan perhatian, pengertian, kasih sayang, dan hak-hak kepada Kayla. Kamu berikan kepada anak kita tanpa membanding-bandingkan anak kita dengan Kayla! Sayang, aku juga sangat mencintai Kayla, aku menyayanginya, aku juga terluka dengan kematian Kayla. Namun, hidup harus terus berjalan,"
Kimmy terdiam "Tolong berjanji lah kepada ku! Sungguh, tak masalah jika sekarang kamu belum bisa menerima semuanya. Aku akan mengerti! Namun, saat anak kita lahir, kamu juga harus bisa melupakan semua kesedihan kamu, jadilah ibu untuk anak-anak kita tanpa adanya bayang-bayang kesedihan atas kehilangan Kayla!"
Devano tak meminta kepada Kimmy untuk melupakan anak sulung mereka yang telah meninggal dunia karena Rama. Namun, ia ingin Kimmy kembali bangkit dan bisa kembali menjadi seorang ibu.
"Apakah kamu sudah melupakan Kayla, Van?"
Devano menggelengkan kepalanya "Enggak sayang! Aku belum melupakannya, bahkan sakit ini akan kehilangannya masih sangat terasa," Devano memegang jantungnya
"Rasanya sakit sekali, tapi kita juga harus memikirkan tentang masa depan anak kita yang lainnya,"
"Van, aku bisa menerima anak ini jika dia wanita. Namun tidak lelaki!"
"Itu tidak adil Kimmy! Jika kamu enggak bisa menerima anak kita aku minta maaf kalau nantinya aku akan pergi membawa anak kita,"
Devano memeluk istrinya, ia berharap agar Kimmy bisa kembali bangkit dan keluar dari situasi kesedihan yang tak kunjung kembali
**************
Zaskia di dapur, memikirkan tentang kesedihan kakaknya
"Kak Tammy sudah pergi, namun tetap saja kak Devano enggak bisa melupakan mereka. Walau kak Devano tak mengatakan apapun, tapi aku yakin! Aku sangat yakin kalau sebenarnya kak Devano juga memiliki perasaan dengan kak Tammy!"
Sebagai adik, naluri Zaskia untuk kakaknya sangat kuat. Ia bisa memahami kakaknya walau kakaknya tak memberitahu apapun.
"Aku bingung dengan semua yang terjadi, namun ku harap semuanya akan baik-baik saja,"
Tammy dengan sendiri mengurus anak di negara orang lain, Kimmy yang kehilangan anak dan Devano yang harus bisa menjauh dari salah satu anaknya.
"Kenapa cinta serumit ini?"
Rasanya, Zaskia tak ada niat untuk menikah! Karena cinta dan rumah tangga sangat rumit baginya.
"Untung saja, aku tak menikah. Jadi tak harus pusing dan sakit jika berada di situasi yang sulit seperti ini!"
Walau dia tak menjalaninya namun melihat masalah dalam rumah tangga kakaknya sudah membuatnya trauma dalam sebuah pernikahan.
Umurnya sudah memasuki dua puluh tujuh tahun, namun Zaskia tak berminat untuk mengintai seseorang setelah cintanya dahulu di khianati hanya karena dirinya jatuh miskin.
Ting..!!!
Suara bel di rumahnya berbunyi,
Zaskia segera melihat siapa yang datang, namun pelayan terlebih dahulu yang membukanya. Ia kaget melihat siapa yang datang.
"Paman, Bibi?"
__ADS_1
Ternyata itu adalah paman dan bibinya, orang yang sudah mengambil harta kedua orang tua Zaskia dan Devano. Dan mereka lah penyebab keduanya tinggal di kolong jembatan.
"Ada apa kalian ke sini?"
Zaskia meminta pengawal untuk tak membiarkan mereka masuk
"Nak, tolong bibi mau berbicara dengan kamu juga kakak kamu,"
Namun Zaskia tak ingin "Kami tidak ada waktu, pergi lah!"
Rasa sakit itu membuat Zaskia tak mau terlibat lagi dengan paman dan bibinya.
"Paman dan Bibi itu orang jahat! Kalian yang membuat makam mama dan papa ku hampir di bongkar! Aku enggak bisa menerima kalian!"
Luka masa lalu kembali terbuka di hatinya Zaskia. Ia tak masalah jika kedua orang tuanya di ambil namun yang membuatnya kecewa mengapa Paman dan Bibinya tega membiarkan makam kedua orang tuanya mau di bongkar?
"Nak, paman dan bibi datang ke sini mau meminta maaf kepada kamu dan kakak kamu! Kami sangat menyesal!"
"Pergi lah kalian! Bawa saja rasa penyesalan kalian itu sampai mati! Aku tak akan pernah memaafkan kalian dan jangan ganggu kami!"
Suara teriakan Zaskia membuat Devano dan Kimmy melihatnya
"Ada apa Zaskia?"
Devano dan Kimmy melihat keluarga Devano dan Zaskia
"Kak, suruh mereka pergi dari sini!"
"Tenang lah Zaskia!"
Kimmy menghampiri Zaskia dan berusaha membuat adik iparnya tenang.
"Gimana aku tenang kak? Untuk apa mereka ked ini? Bukannya mereka sudah bahagia dengan mengambil harta kedua orang tua kami? Mengambil hak anak yatim piatu seperti kami?"
Zaskia berteriak kesal, meminta pengawal untuk mengusir mereka.
"Devano, tolong izinkan kami bicara selama lima menit saja nak!"
Devano meminta pengawalnya untuk melepaskan paman dan bibinya.
"Kak, apa yang kakak lakukan?"
"Zaskia, biar kan mereka menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan, paman dan bibi masuk lah!"
Devano meminta paman dan bibinya untuk masuk, namun Zaskia masih tak terima
"Zaskia, kamu bisa masuk kamar kalau enggak bisa menerima semuanya!"
__ADS_1
Zaskia pun ingin masuk namun paman dan bibi meminta Zaskia untuk mendengarkannya sebentar saja.
"Zaskia sayang! Tolong dengarkan paman dan bibi sebentar saja nak. Kami ingin menyampaikan ini kepada kalian,"