
Selesai sholat mereka langsung keluar dari dalam kamar untuk makan malam bersama.
" Maaf ya Bu kita terlambat? " ucap David saat mereka tiba di meja makan.
" Iya gak apa-apa nak lagi pula ibu juga baru saja duduk kok. " jawab Nuryati dengan tersenyum saat berbicara dengan putranya.
Adira dan David duduk bersisian sementara Nuryati duduk dihadapan mereka. Baru saja Adira ingin menyendokkan nasi untuk suaminya tangannya terlebih dahulu ditepis oleh ibu mertuanya.
" Nggak usah biar Ibu saja.. " ucap Nuryati dengan Ketus.
" Iya Bu. " jawab Adira yang kembali duduk ke kursinya.
Nuryati hanya menyendokkan masih nasi untuk dirinya dan untuk putranya saja.
" Loh bu Adira kok enggak diambilkan juga? " ujar David bertanya.
" Nggak usah, dia bisa ambil makanan untuk dirinya sendiri. " jawab Nuryati yang lanjut mengambilkan ayam penyet, sambal dan lalapan untuk putranya.
" Tapi Bu. " sahut David yang ucapannya menggantung karena dipotong oleh istrinya Adira.
" Sudah tidak apa-apa Mas, Adira bisa ambil makanan sendiri . " ujar Adira seraya tersenyum lembut.
" Tapi sayang. " lagi lagi ucapan David dipotong oleh istrinya.
" Sudah tidak apa-apa Mas sebaiknya Mas langsung makan saja. " ucap Adira sambil menggenggam lembut tangan kiri suaminya.
" Tuh kamu dengar sendiri kan Adira nya saja tidak apa-apa, sudah kamu makan saja. " tutur Nuryati yang mulai menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.
Adira segera menyendokkan nasi untuk dirinya sendiri kemudian mengambil lauk beserta kawan-kawannya. Setelah itu Adira mulai menyantap makan malamnya bersama suami dan ibu mertuanya.
Selesai makan malam Adira segera merapikan meja makan seorang diri karena Nuryati sama sekali tidak mau membantu menantunya. Setelah itu Adira segera mencuci piring dan gelas kotor lalu menyusunnya kembali dengan rapi.
Selesai mencuci piring Adira segera berlalu dari area dapur menuju ke ruang keluarga bergabung bersama suami dan ibu mertuanya, namun baru saja Adila ingin mendudukkan diri di samping suaminya suara Nuryati menginstrupsi Adira untuk kembali berdiri.
" Mana teh manis hangatnya? " ucap Nuryati dengan suara yang sedikit membentak.
" Maaf Bu, ibu kan tidak ada berpesan pada Adira untuk membuat teh manis hangat! " sahut Adira yang tetap memperlihatkan senyum manisnya.
" Ya seharusnya kamu punya inisiatif dong jangan apa-apa itu harus nunggu disuruh. " Ujar Nuryati dengan suara yang lebih meninggi.
Sementara itu David yang mengetahui istrinya dibentak oleh ibunya hanya diam saja karena dia menganggap itu adalah hal yang biasa.
__ADS_1
" Udah buruan sana bikin teh manis hangatnya jangan diam saja kayak orang bego. " ucap Nuryati dengan kasar.
" Astagfirullah. " Adira sampai beristighfar mendengar ucapan kasar dari ibu mertuanya.
" Ayo buruan buatkan teh manis hangatnya sayang, jangan buat Ibu marah . " ucap David.
Dengan segera Adira melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk membuatkan dua cangkir teh manis hangat untuk suami dan ibu mertuanya. Setelah teh manis hangatnya jadi Adira kembali membawanya ke ruang keluarga.
" Silakan diminum teh manis hangatnya Ibu, Mas David. " ucap Adira sambil meletakkan nya di atas meja
" Terima kasih sayang. " sahut David yang langsung mengambil cangkir tersebut dan meminum sedikit teh hangatnya.
" Manis, persis seperti yang membuat. " ucap David merayu membuat kedua pipi Adira bersemu merah.
" Ciiih dimana-mana yang namanya teh manis ya pasti manis David. " timpal Nuryati yang terlihat tidak suka jika David memuji istrinya.
Mendengar hal itu Adira hanya bisa diam, mencoba memaklumi dan mencoba beradaptasi dengan ibu mertuanya yang selalu berbicara dengan kasar.
Setelah itu baru saja Adira ingin mendudukkan dirinya di samping suaminya, lagi-lagi suara Nuryati menginstrupsi Adira untuk kembali berdiri.
" Cuma teh aja nih, cemilannya mana . " ucap Nuryati tetap dengan nada yang sedikit membentak.
" Di belakang tidak ada cemilan apa-apa Bu. " Adira menjawab tetap dengan suara lembutnya.
Dengan sabarnya Adira kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil uang lalu keluar dari rumah menuju ke kedai (warung) Susi.
" Assalamualaikum Mbak Susi. " ucap Adira saat dirinya masuk ke dalam kedai (Warung) susi.
" Waalaikumsalam eh Adira mau beli apa? " jawab Susi yang baru saja keluar dari dalam rumahnya.
" Ada roti kering (biskuit) enggak Mbak? " tanya Adira.
" Ada mau yang mana Adira? " ujar Susi menjawab sembari menunjukkan deretan roti kering (biskuit) yang dia jual.
" Yang merk penyanyi itu dong Mbak . " pinta Adira.
" Ini Adira harganya jadi Rp10.000 ya. " ujar Susi
" Ini Mbak Susi uangnya. " sahut Adira sambil memberikan uang pecahan Rp10.000 kepada Susi.
Setelah itu Adira segera berlalu dari kedai (warung) Susi kembali ke rumahnya.
__ADS_1
" Assalamualaikum. " ucap Adira saat masuk ke dalam rumah.
Sayang baik suami ataupun Ibu mertuanya tidak ada yang menjawab salam dari Adira karena terlalu fokus menonton televisi.
" Ini Bu roti keringnya (biskuit) " ucap Adira yang meletakkan satu bungkus roti kering (biskuit) merk penyanyi tersebut di atas meja
" Astaga kamu dapat istri dari mana sih David bodoh banget. " ucap Nuryati dengan kasar.
" Ibu bicaranya jangan begitu dong kasihan Adira Bu, dari tadi ibu suruh suruh terus. " sahut David yang membela istrinya.
" Iya Maaf David Ibu hanya kesal seharusnya kan roti kering (biskuit) itu dibuka lalu letakkan di atas piring baru diberikan kan pada ibu bukannya masih di dalam bungkusan seperti itu. " tutur Nuryati menjelaskan.
" Tapi tidak harus berkata kasar seperti itu Bu, bagaimanapun juga Adira itu istriku sebagai seorang suami tentu aku sedikit tersinggung saat ibu mengatakan istriku bodoh. " ujar David.
" Maafin ibu ya David? Ibu lost control? " ucap Nuryati yang memasang wajah sedih.
" Maafin ibu ya Adira? Ibu tidak sengaja berkata kasar padamu? " ucap Nuryati yang meminta maaf pada Adira tetapi hanya di mulut saja.
" Iya Ibu tidak apa-apa kok, Adira sudah memaafkan. " jawab Adira seraya tersenyum.
" Ya sudah lain kali ibu kalau berbicara harus lebih dijaga ya Bu kasihan istriku. " Ucap David.
" Iya David ibu kan sudah minta maaf sama Adira. " sahut Nuryati.
" Kalau begitu Adira ke belakang dulu ya Mas . " pamit Adira sambil membawa roti kering (biskuit) tadi menuju ke dapur.
Setelah meletakkan roti kering (biskuit) itu di atas piring Adira kembali ke ruang keluarga lalu meletakkannya di atas meja. Dan untuk yang kali ini Adira baru bisa benar-benar mendudukkan dirinya di samping sang suami.
Mereka pun menonton televisi bersama hingga adzan isya berkumandang.
" Bu aku dan Adira permisi mau sholat sebentar nanti kami pasti kembali lagi. " ucap David berpamitan.
" Ya sudah kalian jangan lama-lama ya Ibu tunggu di sini. " sahut Nuryati.
" Ibu enggak ikutan sholat? " ujar Adira bertanya.
" Kalian saja yang sholat Ibu sedang berhalangan. " jawab nuryati yang kembali memfokuskan dirinya pada siaran televisi.
Mereka berdua segera berlalu dari ruang televisi menuju ke kamar untuk melaksanakan salat Isya berjamaah seperti biasanya.
Selesai salat Adira mencium punggung tangan suaminya sedangkan David mencium kening istrinya dengan mesra. Namun baru saja David ingin bangkit berdiri Adira mencekal tangan suaminya untuk kembali duduk.
__ADS_1
" Mas bisa tunggu sebentar nggak Ada yang ingin Adira sampaikan. " ucap Adira dengan ekspresi wajah yang serius.