Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 7


__ADS_3

Tidak terasa satu minggu telah berlalu, Adira dan suaminya David sangat menikmati kebersamaan mereka saat tinggal di rumah kedua orang tua Adira.


Dan hari ini sudah waktunya bagi Adira untuk pindah dari rumah kedua orang tuanya untuk ikut suaminya tinggal di rumah sang ibu mertua.


" Ibu, Ayah Adira pamit ya? ibu dan Ayah baik-baik di sini dan selalu lalu jaga kesehatan. " ucap Adira seraya memeluk kedua orangtuanya dengan erat.


" Iya nak, kamu jangan khawatir Ibu dan Ayah pasti akan selalu baik-baik saja di sini. " sahut Khadijah sembari tersenyum lembut.


" Jadilah istri dan menantu yang baik untuk suami dan juga untuk ibu mertuamu, anggaplah dia sama seperti Ibu kandungmu sendiri. " tutur Abdullah sembari terus memeluk putrinya.


Adira menangis di dalam pelukan kedua orang tuanya, karena sejujurnya sangat berat bagi Adira untuk tinggal terpisah dan berjauhan dari ibu dan ayahnya.


Tetapi Adira sadar jika dirinya sekarang sudah menjadi seorang istri dan sudah menjadi kewajibannya untuk ikut tinggal bersama sang suami di manapun itu.


" Sudah jangan menangis lagi memangnya kamu nggak malu dilihat sama suami kamu. " ujar Abdullah yang melerai pelukan mereka lalu menghapus air mata yang mengalir di pipi putrinya Adira.


Sejujurnya Abdullah dan Khadijah pun merasakan hal yang sama dengan putrinya, tetapi mereka tidak ingin memperlihatkan wajah sedihnya saat melepas kepergian sang putri untuk ikut suaminya.


Berat bagi Abdullah dan Khadijah untuk tinggal berjauhan dengan Adira, tetapi Adira bukan lagi putri kecil mereka Adira yang sekarang sudah menjadi seorang wanita bersuami yang harus ikut suaminya pergi kemanapun itu.


" Ayah ibu David pamit ya? David izin membawa Adira untuk tinggal bersama David, David janji akan selalu menjaga Adira, ibu dan ayah tidak perlu khawatir karena David pasti akan selalu membahagiakan Adira. " ucap David saat berpamitan dengan kedua orangtua istrinya.


" Iya nak David Ayah percaya padamu, kalian hati-hati di jalan semoga selamat sampai tujuan. " ucap Abdullah sambil menepuk bahu David dengan lembut.


Selesai berpamitan David segera mencium punggung tangan kedua orang tua Adira secara bergantian. Setelah itu David membawakan tas baju milik istrinya lalu mereka berdua segera melangkahkan kakinya menuju ke taksi online yang sudah David pesan sebelumnya.

__ADS_1


" Ayo masuk sayang. " ucap David sambil membukakan pintu mobil untuk istrinya.


dengan langkah kaki yang berat Adira segera masuk ke dalam mobil kemudian disusul oleh David yang segera menutup pintu mobilnya


Dari dalam mobil Adira masih dapat melihat kedua orangtuanya yang melambaikan tangan ke arah mereka sambil terus mengembangkan senyumnya. Saat sudah berada di dalam mobil pun Adira kembali meneteskan air matanya saat sang sopir taksi online dengan perlahan mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah kedua orangtua nya.


" Jangan menangis sayang, jika Mas libur bekerja nanti kita akan datang menjenguk ibu dan ayah ya? " ucap David yang berusaha untuk menghibur istrinya.


" Mas janji ya? " sahut Adira yang masih tetap menangis.


" Iya Mas janji, tapi kamu jangan menangis lagi, Mas tidak mau melihat istri cantiknya Mas bersedih seperti ini. " tutur David sambil menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi istrinya.


Setelah mobil yang membawa anak dan menantunya pergi menjauh dan menghilang dari pandangan mata, tangis Khadijah langsung pecah saat itu juga. Khadijah langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat.


Abdullah yang mengerti dengan perasaan istrinya hanya diam saja sambil mengusap lembut punggung istrinya yang masih bergetar.


" Ibu jangan menangis lagi, Adira sudah ada yang menjaga lagi pula tempat tinggal mereka tidak terlalu jauh hanya di pusat kota Medan saja, jika Ibu rindu dengan Adira kita bisa datang menjenguknya atau kita bisa meminta Adira dan David untuk menjenguk kita di sini. " ucap Abdullah dengan lembut.


" Tapi ada hal lain yang ibu khawatirkan yah. " tutur Khadijah dengan suara yang parau.


" Memangnya gak apa yang Ibu khawatirkan? " ujar Abdullah bertanya.


" Ibu mengkhawatirkan nasib Adira di sana yah, seperti yang Ayah tahu sendiri bagaimana Perangai Nuryati, Ibu hanya khawatir Nuryati akan menyakiti putri kita ayah! " tutur Khadijah menyampaikan rasa kekhawatirannya.


" Jangan berburuk sangka Bu, mungkin saja saat acara kemarin Nuryati sedang banyak pikiran makanya emosinya gampang meledak. " ucap Abdullah menenangkan istrinya.

__ADS_1


" Semoga saja Apa yang ayah ucapkan itu benar, jika tidak Ibu tidak bisa membayangkan bagaimana nasib putri kita yang harus hidup satu rumah dengan ibu mertuanya. "


" Ibu kan sudah Ayah katakan jangan dulu berburuk sangka, kita sama-sama berdoa saja semoga kehidupan Adira di sana jauh lebih bahagia, sekarang lebih baik kita masuk ke dalam lalu Ibu istirahat supaya pikirannya jauh lebih tenang. " tutur Abdullah yang menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke dalam rumah.


Sedangkan di sebuah rumah yang tidak terlalu besar yang berada di pusat kota Medan, Nuryati sedang berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumahnya sambil terus menggerutu karena putranya David tak kunjung pulang ke rumah.


" Sudah dong Bu jangan mondar-mandir terus Kepalaku pusing melihatnya, lagi pula David kan sudah bilang jika hari ini dia akan pulang. " ucap Sinta yang sedang duduk di sofa tamu sambil melihat ke arah ibunya.


" Iya Ibu tahu tapi kenapa dia lama sekali sih sampainya. " jawab Nuryati sambil terus berjalan mondar-mandir.


" Ya Allah Mbak Yati, dari tadi masih mondar-mandir terus apa nggak capek kakinya? " ucap Laila yang baru saja masuk ke dalam rumah kakaknya.


" dari pada kamu berisik, lebih baik kamu telepon David segera tanyakan sudah sampai di mana dia! " titah Nuryati.


" Sudahlah Mbak tadi kan David sudah menghubungi, dia berkata bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sini jadi sebaiknya Mbak duduk aku juga pusing melihatnya. " sahut Laila yang mendudukkan dirinya di samping Sinta.


" Kenapa kalian bisa setenang itu sih? Apa kalian tidak khawatir David tidak akan kembali ke rumah ini? " ucap Nuryati yang mulai mendudukkan dirinya di depan Laila dan Sinta


" Kenapa kami harus khawatir Mbak? toh David kan sudah menikah sudah memiliki istri kalaupun dia memilih untuk tinggal terpisah dari Mbak aku rasa wajar-wajar saja mungkin mereka ingin hidup mandiri. " Laila menjawab sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


" Iya tidak bisa seperti itu sampai kapanpun Mbak tidak akan pernah mengizinkan David untuk tinggal terpisah dari Mbak, dia memiliki tanggung jawab penuh atas diri Mbak setelah kematian Masmu jadi sudah seharusnya dia tetap tinggal di sini. "


" Lagi pula apa dia tega membiarkan ibunya tinggal sendirian di rumah ini? " ucap Nuryati lagi.


" Astaga Mbak Yati siapa bilang Mbak sendiri? di sini kan ada aku yang bisa menemani Mbak rumah kita kan bersebelahan lagi pula rumah Sinta juga tidak terlalu jauh hanya berbeda beberapa rumah saja. "

__ADS_1


" Ah sudahlah lebih baik kamu diam percuma berbicara dengan orang yang tidak sepemikiran dengan mbak hanya buang-buang waktu saja. " sambung Nuryati yang segera bangkit dari duduknya lalu pergi menuju ke teras rumah menanti putranya David kembali.


__ADS_2