Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 48


__ADS_3

Sebulan telah berlalu pernikahan Adira dan David masih berjalan dengan baik-baik saja walaupun Aura setiap hari datang ke rumah untuk menemui David.


Namun David selalu menghindar karena dia menjaga perasaan istrinya dan agar rumah tangganya selalu dalam keadaan baik-baik saja.


Hingga saat ini Adira masih bekerja di rumah Hani dan hubungan mereka berdua semakin dekat bukan hanya sebagai seorang majikan dan pembantu tetapi lebih ke hubungan antara Ibu dan anak perempuannya.


Semenjak Adira bekerja di rumahnya, Hani sudah tidak lagi merasa kesepian apalagi semenjak dia mengikuti kata-kata Adira untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.


Walaupun Hani belum memakai hijab tetapi setidaknya dia selalu menjalankan sholat lima waktu dan sudah tidak pernah lagi meninggalkannya.


Setiap kali menghubungi putranya Hani pasti selalu banyak bercerita tentang Adira dan hal itu membuat putranya penasaran akan sosok seorang Adira Farhana yang sudah berhasil merubah Mamanya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sebagai seorang anak sudah tentu dia merasa bersyukur dengan perubahan yang dialami Mamanya saat ini.


Apalagi semenjak adanya Adira di rumah Mamanya sudah tidak pernah lagi meminta dia untuk kembali pulang ke Medan. Biasanya sebelum adanya Adira di rumah, setiap hari Mamanya pasti selalu meminta dia untuk pulang ke Medan dan hal itu cukup mengganggu mengingat pekerjaannya di Jakarta amat sangat banyak sekali.


Hari ini adalah hari di mana saatnya Adira menerima gaji setelah 1 bulan lamanya dia bekerja di rumah Hani. Seperti biasanya tepat saat adzan Ashar berkumandang Adira akan pamit dengan Hani untuk kembali pulang ke rumah.


" Ibu Adira permisi pulang dulu ya? " pamit Adira setelah mereka baru saja kembali dari acara pengajian yang ada di masjid yang letaknya tidak jauh dari kediaman Hani.


" Tunggu sebentar Adira apa kamu lupa jika hari ini sudah saatnya kamu gajian? " ujar Hani mengingatkan.


" Masa sih Bu? perasaan baru kemarin deh Adira kerja di sini. " sahut Adira dan Hani pun tersenyum.


" Kamu ini ada-ada saja kan hari ini tepat satu bulan kamu bekerja di rumah saya, makanya kamu tunggu sebentar di sini saya ambilkan dulu uang gaji kamu. " tutur Hani.


" Baik bu Adira akan tunggu di sini. " ucap Adira yang sedang berdiri di depan teras rumah mewah milik Hani.


Hani pun segera masuk ke dalam rumahnya lalu melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya yang berada di lantai 2, sampai di dalam kamar Hani langsung menuju ke brankas lalu mengambil uang senilai Rp.10.000.000 untuk membayar gaji Adira bulan ini.

__ADS_1


" Semoga uang ini bisa bermanfaat untuk Adira. " ucap Hani sambil memasukkan uang tersebut ke dalam sebuah amplop coklat.


Setelah mengambil uang, Hani segera berlalu dari dalam kamarnya menuruni anak tangga menuju ke teras di mana Adira yang masih setia menunggu sambil berdiri.


" Maaf ya Adira sudah membuat kamu menunggu lama? " ucap Hani saat dia sudah berada di teras rumahnya.


" Iya bu tidak apa-apa kok lagi pula belum terlalu lama. " sahut Adira tersenyum.


" Oh iya Adira ini uang gaji kamu bulan ini ya? " ucap Hani sambil menyerahkan amplop coklat yang tadi di bawanya.


" Terimakasih banyak Bu? " sahut Adira sambil menerima amplop tersebut.


Kedua alis Adira langsung berkerut saat tangannya memegang amplop yang sangat tebal, demi menjawab rasa penasarannya Adira membuka amplop tersebut dan matanya langsung membulat dengan sempurna saat melihat segepok uang merah yang ada di dalam amplop yang sedang dipegangnya.


" MasyaAllah ini banyak sekali Bu, Ibu nggak salah kasih? " ucap Andira yang benar-benar sangat terkejut.


" MasyaAllah Bu tapi apa yang Adira lakukan bukanlah sesuatu hal yang besar jadi Ibu tidak perlu memberikan Adira uang sebanyak ini. " ujar Adira dengan kedua tangan yang bergetar karena ini kali pertama dia memegang uang sebanyak itu.


" Tidak apa-apa Adira ini rezeki untuk kamu dan rezeki itu tidak boleh ditolak ya? " ucap Hani.


" MasyaAllah, terimakasih banyak Bu? Dan baru kali ini Adira memegang uang sebanyak ini. " ujar Adira.


" Sama-sama Adira semoga uang ini bermanfaat untuk kamu ya. " tutur Hani tersenyum.


" Uang ini pasti akan sangat bermanfaat untuk Adira, kalau begitu Adira permisi pulang dulu ya Bu, Assalamualaikum. " pamit Adira sembari mencium punggung tangan Hani.


" Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan ya Adira. " ucap Hani dan Adira pun mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


Sebelum melangkahkan kakinya Adira menyimpan amplop tersebut ke dalam tas yang sedang di bawanya, setelah itu Adira segera berlalu dari rumah Hani menyusuri jalan yang biasanya dia lewati untuk menuju ke rumahnya.


Sepanjangan jalan Adira terus mengembangkan senyumnya dan dia masih tidak percaya jika dia bisa mendapatkan gaji sebanyak itu.


" Terimakasih banyak ya Allah rezeki yang engkau berikan sangat-sangat jauh di atas ekspektasi Adira ya Allah. " ucap Adira yang bersyukur di dalam hati.


Adira terus melangkahkan kakinya hingga dia tiba di rumah. Namun sebelum sampai di rumah Adira terlihat celingukan melihat apakah Aura ada di rumahnya atau tidak, karena biasanya selepas Adira pulang bekerja Aura sudah ada di rumah bersama sang ibu mertua.


" Assalamualaikum. " ucap Adira saat masuk ke dalam rumah tapi seperti biasa tidak ada yang menjawab salam dari Adira.


Setelah menutup pintunya kembali Adira segera melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar, namun saat tangannya masih memegang gagang pintu suara Ibu mertuanya menginstrupsi Adira.


" Mana gaji kamu bulan ini. " pinta Nuryati yang langsung menadahkan tangannya ke hadapan Adira.


" Maksudnya apa Bu? " tanya Adira sambil menatap bingung.


" Tidak usaha pura-pura tidak mengerti dengan maksud Ibu Adira, berikan gaji kamu bulan ini pada ibu semua? biar ibu yang menyimpannya. " pinta Nuryati yang masih tetap menandakan tangannya ke hadapan Adira.


" Baik Bu tapi setengahnya saja ya? jangan semua Adira kan juga butuh uang Bu. " ucap Adira sambil mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya.


Tanpa banyak basa-basi Nuryati langsung merampas amplop tersebut dari tangan Adira.


" Jangan diambil semua dong Bu. " protes Adira yang ingin mengambil kembali amplop tersebut.


" Udah biar Ibu aja yang pegang uangnya kamu jangan pelit jadi orang. " ucap Nuryati yang langsung membuka amplop coklat tersebut.


Kedua mata Nuryati langsung melotot saat melihat segepok uang merah yang ada di dalam amplop tersebut.

__ADS_1


__ADS_2