Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 83


__ADS_3

Sebelum memberikan jawabannya, Adira membaca bismillah di dalam hati terlebih dahulu.


" Semoga ini yang terbaik. " Batin Adira berdoa di dalam hati.


" Bagaimana Adira apa jawaban kamu? Kamu mau gak menjadi istriku? " Sekali lagi Rendra mengulang pertanyaannya.


" Bismillahirrahmanirrahim Adira mau jadi istri Mas Rendra. " Adira menjawab dengan pipi yang memerah malu.


" Alhamdulillah. " Rendra dan Hani sama-sama mengucap syukur.


Rendra merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa, baru kali ini dia benar-benar merasa sebahagia ini dan bahagianya tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.


" Jadi kapan keluarga kami bisa datang untuk meminang kamu secara resmi Adira? " Hani bertanya dengan senyum yang mengembang karena dirinya merasakan kebahagiaan yang sama dengan putranya.


" Kalau Adira sih terserah Ibu dan Mas Rendra saja. " Adira menjawab tetap dengan tutur katanya yang lembut.


" Bagaimana kalau besok lusa? " usul Rendra yang memang benar-benar sudah tidak sabar ingin segera menjadikan Adira sebagai Istrinya.


" Kamu ini buru-buru sekali Rendra. " Timpal Hani sambil tertawa geli saat melihat ke arah putranya.


" Hehehe niat baik itu harus di segerakan Ma, gak boleh di tunda-tunda, bener gak Adira sayang? " Balas Rendra meminta dukungan Adira sambil menaikkan turunkan kedua alisnya.


Adira langsung menunduk malu di panggil sayang oleh Rendra untuk yang pertama kalinya.


Plaaakkk...

__ADS_1


" Aduh sakit Ma, kenapa aku di pukul sih? " Rendra bertanya sambil mengusap bahunya yang di pukul oleh Mamanya.


" Kamu ini belum sah gak boleh genit-genit. " jawab Hani sambil menutup mata Rendra dengan kedua tangannya.


" Mama ini apa-apaan sih Adira itukan calon istriku jadi boleh dong kalau aku panggil sayang? Lagi pula goda dikitkan gak apa-apa. " Tutur Rendra dengan gampangnya membuat Hani langsung naik darah di buatnya.


" Astaga Rendra kamu gak nikah-nikah Mama khawatir takut kamu jeruk makan jeruk, sekalinya mau nikah Mama lebih khawatir ternyata kamu genit banget jadi laki-laki. " ujar Hani sambil menepuk dahinya sendiri.


" Ah Mama ini, aku genit kan sama calon istriku sendiri kalau sama orang lain mah ogah. " jawab Rendra membuat Hani tersenyum lega.


" Awas saja kalau kamu sampai ketahuan genit sama wanita lain gak akan Mama kasih pwarisan kamu nanti. " ancam Hani sambil menunjuk wajah putranya.


" Astaga Mama, kalau aku udah nikah sama Adira nanti Mama buat aja deh surat wasiat kalau seluruh harta kita untuk Istriku yang paling sholehah ini, biar Mama yakin dan percaya kalau aku gak akan macam-macam. " usul Rendra yang ternyata langsung di setujui oleh Hani.


" Bener juga usul kamu Ren, kalau kamu kere kan gak ada tuh para ulat bulu pencinta rupiah yang akan mendekati kamu. " Sahut Hani yang langsung mendapatkan penolakan dari Adira.


" Gak apa-apa Adira saya percaya kamu bukan wanita matre yang hanya mengincar harta Rendra saja lagi pula ada benarnya di buat seperti ini agar Rendra tidak macam-macam, karena saya tidak mau ada yang menyakiti kamu lagi walau pun itu anak kandung saya sendiri. " tutur Hani sambil menatap tajam kearah putranya.


" Mama sudah aku katakan aku tidak akan menyakiti istriku, tidak percayaan banget sih. " gerutu Rendra yang sedikit kesal dengan Mamanya.


Hani tidak lagi menjawab ucapan putranya, namun sekarang Hani menatap wajah Adira dalam-dalam sambil memegang kedua tangannya dengan lembut untuk menyalurkan energi kasih sayang yang dia miliki.


" Adira dengarkan saya, saya memang bukan Ibu kandung kamu tapi saya menyayangi kamu sama seperti saya menyayangi anak kandung saya sendiri, saya tidak rela dan tidak ikhlas jika kamu di sakiti lagi, yang saya mau kamu selalu bahagia, tersenyum, tertawa dan saya yakin Rendra mampu untuk membahagiakan kamu karena saya tau dia bukan tipe lelaki brengsek yang sering sekali menyakiti hati wanita. " Hani berbicara dengan mata yang berkaca-kaca karena entah mengapa dia bisa se sayang itu dengan Adira.


Mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Hani membuat Adira terharu hingga ikut menitikkan air matanya juga.

__ADS_1


" Terima kasih Bu, Adira sangat beruntung bisa bertemu bahkan di sayangi oleh orang yang sangat baik seperti Ibu. " Adira langsung berhambur memeluk Hani dan Hani pun membalas pelukan Adira.


Di tempatnya Rendra mengucap syukur karena calon istrinya bisa sedekat itu dengan Ibu kandungnya, secara otomatis senyum langsung menghiasi wajah tampan Rendra.


Setelah itu mereka lanjut berdiskusi dan jadilah acara lamaran yang akan di laksanakan tiga hari lagi. Sesuai dengan pembicaraan mereka tadi malam, hari ini Adira kembali pulang ke desanya di antar oleh seorang supir yang khusus Rendra pekerjakan untuk mengantar Adira kemana pun.


Adira sudah menolak karena merasa ini sangat berlebihan, namun Rendra tetap memaksa karena dia tidak ingin calon istrinya harus panas-panasan naik angkutan umum. Karena di paksa dan ini sebuah keharusan akhirnya Adira menurut saja karena ini juga demi kebaikannya.


" Ma Adira pulang dulu ya? " Adira berpamitan sambil mencium punggung tangan Hani di teras rumahnya.


" Iya sayang kamu hati-hati ya? Sampaikan salam Mama pada kedua orangtua kamu. " sahut Hani yang mencium dahi Adira dengan sayang.


Sejak tadi malam Hani meminta Adira untuk mengubah panggilannya dari Ibu menjadi Mama karena sebentar lagi dia akan menjadi menantunya. Adira yang pada dasarnya anak yang penurut langsung mengiyakan tanpa banyak protes.


" Iya Ma insyaallah nanti Adira sampaikan, Hmm Mas Adira pulang dulu ya? " Adira menjawab sembari berpamitan pada calon suaminya.


Karena belum halal jadilah Adira hanya menangkupkan kedua tangannya di dada.


" Iya sayang kamu hati-hati ya? Dan tunggu tiga hari lagi Mas akan datang. " Rendra menyahut sambil menatap wajah cantik dan Ayu calon istrinya yang tidak bosan di pandang.


Adira langsung menunduk malu di pandang sampai seperti itu. Setelah berpamitan Adira segera masuk ke dalam mobil dan mobil tersebut mulai bergerak perlahan meninggalkan rumah mewah tersebut.


" Hati-hati pak jangan kebut-kebutan. " Rendra mengingatkan untuk yang kesekian kalinya pada supir yang membawa Adira.


" Astaga Rendra pak Agus pasti bakal hati-hati, sudah belasan kali loh kamu mengucapkannya. " Ucap Hani yang tidak habis pikir dengan kelakuan putranya yang menjadi super posesif.

__ADS_1


" Iya Ma aku kan hanya mengingatkan jika terjadi apa-apa dengan Adira akan aku pecat Pak Agus. " ucapan Rendra membuat Hani hanya bisa geleng-geleng kepala.


" Belum apa-apa saja kamu sudah sebucin ini dengan Adira, bagaimana nanti jika kalian sudah menikah. " gumam Hani yang tidak menyangka jika putranya sudah jatuh cinta akan sebucin ini dengan wanita yang di cintainya itu.


__ADS_2