
Sampai di dalam rumah David meletakkan kantung belanjaan tersebut di atas meja dapur. Setelah itu David segera berlalu dari area dapur menuju ke kamar untuk melanjutkan tidurnya.
Sedangkan Adira langsung memilah bahan masakan yang tadi dia beli, sebagian untuk dia masak pagi ini dan sebagian lagi dia simpan di dalam lemari pendingin untuk dia masak sore nanti.
Sebelum itu Adira memasak nasi terlebih dahulu agar ketika masakannya matang, nasinya pun ikut matang juga. Selesai memasak nasi barulah dia mulai mengolah bahan masakan tersebut. Pagi ini Adira memasak sambal hati ampela plus kentang serta Adira juga memasak capcay bakso.
Selesai memasak Adira segera membersihkan kompor serta meja dapur bekas dia memasak. Setelah semuanya Adira segera menyiapkan bekal untuk sang suami setelah itu barulah Adira menuju ke kamar untuk membangunkan suaminya yang masih tertidur.
" Mas ayo bangun sudah jam 06.30 pagi . " ucap Adira sambil menepuk pelan pipi suaminya.
David menggeliat dan secara perlahan mulai membuka kedua matanya.
" Mas masih mengantuk sayang, rasanya Mas ingin libur saja. " ucap David dengan manjanya sambil merebahkan kepalanya di paha istrinya.
" Iya tidak bisa begitu dong Mas , Mas kan baru saja bekerja satu hari masak sudah mau libur lagi, sementara Mas kan juga habis cuti menikah emangnya mas nggak takut dipecat gara-gara kebanyakan libur? " sahut Adira mengingatkan suaminya.
" Ah kamu benar sayang, Andai Mas memiliki perusahaan sendiri Mas pasti bisa libur dengan sesuka hati Mas. " ujar David yang berbicara dengan asal.
" Mas ini ada-ada saja, walaupun perusahaan itu milik mas sendiri jika Mas tidak bekerja dengan baik dan malah libur dengan sesuka hati Mas, Adira yakin dalam sekejap mata perusahaan itu pasti bisa bangkrut Mas. Menjadi bos bukan berarti Mas bisa berbuat dengan sesuka hati tetapi dengan menjadi bos Mas malah memiliki tanggung jawab yang besar karena banyaknya karyawan yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja di perusahaan. " tutur Adira sambil mengusap lembut kepala suaminya.
" Ah kamu bener lagi sayang, pantas saja Allah SWT menakdirkan Mas sebagai karyawan jika Mas menjadi bos mungkin dalam dalam sekejap mata perusahaan itu bisa bangkrut dan kita jadi gelandangan ya sayang? " ucap David lagi yang berbicara dengan asal.
" Mas ini pagi-pagi sudah berbicara ngelantur, sebaiknya Mas segera mandi Adira tunggu di meja makan. " ujar Adira yang menggeser kepala suaminya lalu Adira mulai bangkit berdiri.
Setelah suaminya masuk ke dalam kamar mandi Adira menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya lalu meletakkannya di atas ranjang dan Adira segera berlalu menuju dapur.
Di dapur Adira segera memindahkan masakannya tadi ke dalam sebuah mangkuk lalu meletakkannya di atas meja. Lalu Adira membuatkan satu cangkir teh manis hangat untuk suaminya.
Tidak lama dari itu Adira melihat suaminya yang sedang berjalan menuju ke area meja makan lalu mereka pun sarapan berdua tanpa sang ibu mertua yang masih tertidur pulas.
__ADS_1
Setelah suaminya berangkat bekerja Adira menuju ke kamar mandi belakang untuk merendam pakaian kotor milik ibu mertuanya ke dalam sebuah ember besar yang sudah dicampur dengan deterjen.
Selesai merendam pakaian Adira kembali ke dalam rumah untuk lanjut beberes hingga semuanya bersih rapi dan juga harum.
" Alhamdulillah Akhirnya selesai juga beberes rumahnya, sekarang tinggal mencuci pakaian kotor ibu. " ucap Adira yang baru saja selesai mengepel lantai.
Setelah membersihkan alat pel tersebut Adira segera menyimpannya kembali lalu menuju ke kamar mandi belakang untuk mulai mencuci pakaian kotor milik ibu mertuanya.
Adira mulai mencuci pada pukul 09.00 pagi hingga pukul 11.30 siang Adira baru menyelesaikan pekerjaannya. Adira mencuci pakaian secara manual dengan menggunakan brush sikat baju, makanya selama 2 jam setengah Adira baru selesai mencuci.
Baru saja Adira selesai menjemur pakaian, Ibu mertuanya datang menghampiri Adira sambil membawa satu keranjang lagi pakaian kotor.
" Ini baju lama ibu yang sudah tidak dipakai buruan kamu cuci karena Ibu ingin memakainya lagi tapi ingat harus hati-hati dan jangan sampai ada yang rusak. " ucap Nuryati sambil melemparkan keranjang pakaian kotor tersebut ke hadapan Adira.
" Astagfirullah Bu, Apakah harus dengan cara dilempar seperti ini? " protes Adira karena pakaian tersebut menjadi berantakan.
" Astaghfirullah. " Adira hanya bisa terus mengucapkan istighfar saat menerima perlakuan buruk dari ibu mertuanya. Walaupun tubuhnya sudah lelah dan ingin segera beristirahat tetapi Adira tetap melanjutkan mencuci pakaian milik ibu mertuanya walaupun kakinya sudah bergetar menahan lapar sekaligus kelelahan.
Sedangkan Nuryati langsung menuju ke meja makan lalu membuka penutup makanan dan Nuryati segera memakan habis seluruh makanan yang ada di meja makan tanpa menyisakan sedikitpun untuk Adira.
Selesai makan Nuryati kembali ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri . Setelah itu Nuryati menuju ke ruang keluarga untuk menonton siaran televisi di saluran terbang kesukaannya .
Nuryati menonton televisi sambil memakan kacang kulit yang sampahnya dibuang sembarangan di atas lantai.
Di saat Nuryati sedang asyik menonton televisi tiba-tiba Nuryati mendengar suara adiknya Laila yang mengucapkan salam di depan rumahnya, tetapi Nuryati hanya diam saja tanpa berniat sedikitpun untuk menjawab salam dari adiknya.
" Astaga Mbak Yati, dari tadi aku ngucapin salam ternyata Mbak ada di sini? " ucap Laila yang sedang berdiri di belakang Nuryati.
" Kalau mau masuk ya masuk aja ngapain pakai acara ngucapin salam segala. " sahut Nuryati yang masih asik memakan kacang kulit sambil menonton televisi.
__ADS_1
" Ya ampun Mbak Kenapa sampahnya tidak Mbak kumpulkan? Ini sangat berantakan sekali Mbak. " ujar Laila saat melihat ruang keluarga yang sudah dipenuhi dengan sampah kacang kulit.
" Alaah nanti kan ada yang membersihkan . " tutur Nuryati yang bersikap acuh.
Laila hanya bisa geleng-geleng kepala dan tidak dapat berkata apa-apa lagi saat melihat kelakuan kakak kandungnya tersebut
" Adira di mana mbak? " ujar Laila bertanya.
" Di belakang. " jawab Nuryati dengan singkat.
Laila segera meninggalkan ruang keluarga menuju ke kamar mandi belakang.
" Ya Allah Adira. " ucap Laila yang terkejut saat melihat banyaknya pakaian yang sedang Adira cuci.
" Astagfirullah bulek, bikin Adira kaget saja. " ucap Adira yang tersentak kaget.
" Maaf Adira, bulek tidak bermaksud untuk mengagetkan kamu, bulek hanya terkejut saat melihat cucian kamu ini lho banyak sekali! " ujar Laila.
" Memangnya ini pakaian miliksiapa Adira? Jika bulek perhatikan sepertinya ini bukan pakaian kamu? " ujar Laila bertanya.
" Ini memang bukan pakaian Adira bulek, ini pakaian ibu. " Adira menjawab sambil meneruskan mencuci pakaiannya.
"Kalu yang sudah dijemur ini pakaian siapa? jangan bilang ini pakaian Mbak Yati juga. " Sahut Laila.
" Nah itu bule sudah tahu. " sambung Adira.
" Astaga Mbak Yati bener-bener keterlaluan masa kamu harus mencuci pakaian sebanyak ini, jangan-jangan pakaian satu lemari dikeluarkan semua sama dia. " ucap Laila yang kembali geleng-geleng kepala
" Entahlah bulek Adira juga nggak tahu. " tutur Adira
__ADS_1