
Pada siang hari itu juga Adira langsung memasakkan makanan untuk para majikannya, dengan tangan lembut dan terampilnya akhirnya semua makanan sudah terhidang di meja makan.
" Hmmm harum banget masakannya. " ucap Rendra saat Adira meletakkan satu mangkuk makanan terakhir masakannya.
" Kamu harus cobain Ren masakannya Adira top dan enak banget kamu pasti suka. " Hani menyahuti sambil menunjukkan dua ibu jarinya.
Dengan segera Rendra langsung menyendokkan nasi dan juga kawan-kawannya ke atas piring, setelah membaca doa Rendra langsung menyantapnya.
" Gimana Ren masakannya enak kan? " Hani berucap saat melihat Rendra yang makan sambil menganggukkan kepalanya.
" Iya Ma ini enak banget sumpah. " sahut Rendra yang setuju dengan ucapan Mamanya.
Adira yang mendengar masakannya di puji langsung mengembangkan senyuman manis sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.
Setelah itu Hani dan Rendra segera menyantap makan siangnya dengan sama-sama lahapnya sementara Adira langsung bekerja di hari itu juga.
.
.
.
Sementara itu...
Di rumah Nuryati mereka sedang berduka cita karena tadi pagi Aura mengatakan jika dirinya sedang hamil. Walau pun hingga sekarang David belum mencintai Aura, namun tetap saja saat mendengar istrinya Hamil David merasakan kebahagiaan karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ayah.
Begitu juga dengan Nuryati, walau pun setiap hari dirinya di buat pusing dan juga kesal dengan sifat Aura yang ternyata sangat pemalas dan juga kasar membuatnya harus adu mulut setiap hari. Namun meski pun begitu saat mendengar bahwa Aura sedang hamil, Nuryati langsung merasa sangat bahagia dan sangat berbeda saat dahulu dirinya mendengar bahwa Adira sedang hamil.
" Ingat ya Aura kamu harus menjaga cucu saya dengan sebaik mungkin jangan seperti Adira tu yang gak becus. " Nuryati berucap sambil mengusap lembut perut Aura yang sedikit membuncit.
" Bu udah deh Adira sudah bukan istriku lagi jadi jangan di ungkit-ungkit lagi. " timpal David yang sedang memeluk tubuh istrinya dari belakang.
__ADS_1
" Iya-iya tapi tetap aja Aura harus menjaga kandungannya dengan baik-baik. " Sambung Nuryati yang menghentikan elusan tangannya.
" Ibu tenang aja aku pasti akan menjaga anakku dengan sangat baik. " Aura menimpali sambil menunjukkan senyum yang penuh dengan arti.
Setelah memeluk istrinya David langsung berlutut menyamakan wajahnya dengan perut Aura.
Cuup...
David mencium perut Aura dengan lembut dan dalam waktu yang lumayan lama.
" Anak Ayah kamu baik-baik ya di dalam perut Bunda? " David berucap sambil menatap perut istrinya dengan sayang.
" Harusnya Mama dong, kok Bunda sih kampungan banget. " protes Aura yang tidak suka dengan panggilan David.
" Bunda aja deh itu lebih bagus tau terlihat keibuan banget. " jawab David yang tetap kekeh dengan pendiriannya.
" Gak, aku gak setuju pokoknya aku mau di panggil Mama bukan Bunda dan gak ada tawar menawar. " Sahut Aura yang tetap tidak mau di panggil Bunda.
" Iya-iya Mama. " Sambung David dengan pasrah padahal dirinya sangat ingin anak mereka memanggil Ayah dan Bunda.
" Hmm gak usah David aku udah periksa kok semalam. " tolak Aura dengan sedikit gugup.
" Yah kok gak nunggu aku sih, padahal aku ingin melihat anakku. " Sahut David dengan wajah kecewanya.
" Bulan depan aja ya kamu nemeninnya? Soalnya semalam kan aku haru memastikan dulu apakah aku beneran hamil atau tidak makanya aku periksa sendirian. " kilah Aura berbohong.
" Oh begitu, ya sudah tidak apa-apa tapi janji ya bulan depan kita akan sama-sama melihat calon anak kita. " Tutur David yang sudah tidak lagi kecewa karena dirinya menerima alasan Aura yang masuk akal menurutnya.
Apa kalian berpikir Aura akan mau memeriksakan kandungannya bersama David? Tentu saja Aura tidak akan mau karena jika dirinya memeriksakan kandungannya bersama David, itu sama saja dengan dirinya yang akan membongkar kebohongannya selama ini.
Aura berkata jika dirinya sedang hamil 8 minggu padahal pada kenyataannya Aura sedang hamil 16 minggu, namun untuk saat ini David belum mengetahui kebohongan istrinya.
__ADS_1
Setelah itu hari-hari yang David jalani harus di warnai dengan pertengkaran dan perdebatan yang terjadi di antara istri dan juga Ibunya.
Mereka berdua tidak ada yang mau mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak, namun mereka tidak ada yang mau keluar uang untuk membayar asisten rumah tangga. Sementara David tidak bisa berbuat apa-apa karena seluruh gajinya di pegang oleh Aura dan Nuryati pun semakin uring-uringan karena tidak lagi mendapatkan pemasukan dari putranya.
" David Ibu minta uang? " ucap Nuryati saat melihat Aura dan David akan keluar rumah.
" Gak ada, kalau mau uang itu kerja bukannya minta. " sahut Aura yang berbicara dengan nada yang ketus.
" Ibu tidak bicara padamu, Ibu berbicara pada anak Ibu. " sungut Nuryati yang mulai terpancing emosinya.
" Iya tapi anak Ibu itu suamiku dan aku tidak mengizinkan dia memberi uang sepeser pun pada Ibu. " balas Aura yang tidak mau kalah.
" Aura ayo lah beri Ibu uang? " pinta David yang tidak tega saat melihat Ibunya yang sudah beberapa bulan ini semenjak dirinya menikah dengan Aura seluruh gajinya dipegang 100% oleh Aura, untuk uang bensin motor pun Aura memberinya hanya sebesar 30 ribu rupiah saja.
" Tidak, uang ini akan aku gunakan untuk membeli kebutuhan anak kita. " tolak Aura yang sama sekali tidak mau memberikan Nuryati uang.
" Tapi Aura kasihan Ibu. " Sahut David yang masih berusaha untuk membujuk istrinya.
" Ya udah kalau kamu mau memberi Ibumu uang, tapi aku akan menggugurkan anak ini. " ancam Aura sambil menunjuk perutnya.
" Astaghfirullah Aura kamu jangan gila. " Ucap David yang terkejut.
" Makanya jangan coba-coba memberi Ibu kamu uang atau kamu akan kehilangan anak ini, udah ayo kita pergi aku ingin makan ramen. " Timpal Aura yang langsung pergi meninggalkan suami dan Ibu mertuanya.
" Maaf ya Bu, Ibu minta uang sama Mbak Sinta aja, aku gak bisa kasi Ibu uang lagi. " ucap David dengan suara yang lemah dan segera pergi menyusul istrinya.
Setelah anak dan menantunya pergi, Nuryati meluapkan emosinya dengan memecahkan meja sofanya.
Praaangg...
Kaca pada meja tersebut pecah dan berhambur entah kemana-mana.
__ADS_1
" Brengsek aku menyesal menikahkan David dengan dia, kalau tau begini akhirnya lebih baik baik David sama Adira saja yang bisa aku bodoh-bodohin, aaaakkkhhh BERENGSEK aku tidak bisa belanja-belanja lagi sekarang. " berang Nuryati yang sangat emosi.
Jangankan untuk belanja, untuk membeli makanannya sehari-hari saja itu sangat pas-pasan karena Sinta hanya mengirimkannya uang satu juta lima ratus. Sedangkan David sudah tidak pernah memberikannya uang lagi.