
Di dalam hatinya Nuryati bersorak dengan sangat bahagia saat putranya menjatuhkan talak untuk Adira bahkan dengan talak 3 sekaligus, Ingin rasanya Nuryati melompat dan melakukan selebrasi untuk momen yang sangat membahagiakan untuknya.
Jika Nuryati sedang berbahagia, berbeda dengan Adira yang langsung meneteskan air mata dengan sendirinya ketika kata talak terucap dengan begitu lancarnya dari bibir sang suami.
Walau pun sejak tadi Adira sudah mempersiapkan hatinya untuk mendengar hal ini, namun tetap saja ketika telinganya mendengar secara langsung kata talak yang terucap dari bibir suaminya membuat air mata Adira menetes tanpa permisi, namun hal itu tidak berlangsung lama karena Adira langsung menghapus air matanya.
" Baiklah jika memang perpisahan ini yang Mas inginkan insyaallah Adira ridho dan Adira juga ikhlas, semoga Mas bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Adira dan Adira mengucapkan banyak terimakasih kasih untuk cinta, kasih sayang yang pernah yang Mas berikan ke Adira dan Adira minta maaf atas semua kesalahan yang pernah Adira lakukan baik yang di sengaja mau pun yang tidak di sengaja. " ucap Adira dengan tutur kata yang lembut.
Lalu tangan kirinya terulur untuk membuka cincin pernikahan mereka yang tersemat di jari manis kanannya.
" Ini Adira kembalikan cincin pernikahan kita. " ujar Adira yang sembari menyerahkan cincin tersebut ke David.
Saat mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Adira jujur hati David terasa sakit bagai ditusuk oleh ribuan jarum namun David berusaha meyakinkan dirinya bahwa perpisahan ini adalah jalan yang terbaik untuknya dan juga untuk Adira.
" Mas juga minta maaf jika selama menjadi suami kamu Mas memiliki kesalahan baik yang di sengaja mau pun yang tidak di sengaja, dan Mas berharap semoga suatu saat nanti kamu bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari Mas. " sahut David.
" Aamiin terimakasih atas doanya Mas. " ucap Adira.
" Oh ya untuk pemakaman anak kita kamu jangan khawatir biar mas yang akan mengurusnya dan begitu juga dengan surat perceraian kita biar Mas juga yang akan menyelesaikannya dan jika kamu ingin pulang ke rumah Ibu dan Ayah segera hubungi Mas, biar Mas yang akan mengantarkan kamu sekaligus mengembalikan kamu pada kedua orang tuamu. " tutur David.
__ADS_1
" Terimakasih jika Mas mau mengurusnya tapi Adira rasa Mas tidak perlu mengantarkan Adira pulang karena Adira bisa pulang sendiri dan nanti biar Adira saja yang menjelaskannya ke Ibu dan Ayah. " tolak Adira.
" Ya sudah jika memang itu keputusanmu, nanti seluruh pakaian serta barang-barang kamu akan Mas antarkan ke rumah sakit dan untuk biaya operasi kamu sudah dibayar lunas oleh ibu tapi untuk biaya yang lainnya kamu lunasi dengan menggunakan uang kamu sendiri karena Mas dan Ibu sudah tidak mau tahu lagi. " sahut David lagi sementara Adira hanya diam saja.
" Kalau begitu Mas sama Ibu pulang dulu semoga kamu cepat sembuh, assalamualaikum. " pamit David yang segera bangkit dan berlalu dari dalam ruang perawatan Adira diikuti oleh Nuryati yang ikut bangkit juga, namun sebelum keluar dari ruang perawatan Adira Nuryati sempat tersenyum mengejek sambil melambaikan tangan ke Adira.
" Semoga suatu hari nanti kebenaran akan terungkap dan kamu akan menyesali semua yang sudah kamu lakukan pada Adira Mas. " batin Adira berdoa di dalam hatinya.
Walaupun di ejek seperti itu oleh mantan Ibu mertuanya tapi Adira hanya diam saja dan dia sama sekali tidak ingin membalas mantan Ibu mertuanya itu, ketika mantan suami dan mantan Ibu mertuanya pergi air mata Adira langsung pecah dan mengalir dengan begitu derasnya.
Sejak tadi Adira sudah berusaha untuk kuat dan terlihat baik-baik saja di depan mantan suami dan mantan Ibu mertuanya, namun sekeras apapun Adira berusaha menahan yang namanya perpisahan sudah tentu membuat hatinya benar-benar sakit dan saking sakitnya Adira tidak dapat mendeskripsikannya.
Adira sengaja melakukan hal itu agar emosi dan rasa sesak yang ada di dada dan juga di dalam hatinya ikut keluar bersama dengan air matanya, dan setelah hari berganti Adira berharap sudah tidak ada lagi air mata kesedihan yang akan membasahi pipinya dan Adira berharap jikalau suatu hari nanti Adira menangis, Adira ingin air mata itu adalah air mata kebahagiaan dan bukan air mata kesedihan.
Cukup lama Andira menangis sendirian sampai kedua matanya bengkak dan juga memerah, karena terlalu lelah menangis akhirnya Adira tertidur dengan hati yang sangat hancur.
Adira terus tertidur dengan pulas hingga tiba waktunya untuk makan malam ada seorang suster yang membangunkannya karena tidak ada satu orang pun yang menjaganya.
" Mbak, Mbak Adira. " panggil suster tersebut sembari menepuk bahu Adira dengan pelan.
__ADS_1
Merasa ada yang memanggil namanya Adira mulai membuka matanya dengan pelan untuk membiasakan sinar lampu yang masuk ke kornea matanya.
" Maaf Mbak Adira sudah waktunya makan malam. " ucap suster tersebut dengan sopan.
Adira langsung berusaha untuk duduk dibantu dengan suster tersebut. Setelah itu Adira lanjut makan malam walaupun makanan yang sedang dia makan terasa sangat hambar sekali begitu juga dengan hatinya yang terasa hambar karena kehilangan hal yang paling berharga di dalam hidupnya.
Setelah selesai makan tanpa sengaja Adira melihat tas pakaiannya sudah ada di atas sofa begitu juga dengan tas yang biasanya selalu Adira bawa setiap kali pergi sudah ada di atas meja yang ad di samping ranjangnya.
" Maaf suster Adira mau tanya siapa yang mengantarkan tas ini ya? " tanya Adira.
" Oh yang mengantarkannya tadi seorang laki-laki Mbak tapi dia hanya mengantarkannya saja setelah itu dia langsung pergi lagi. " jawab Suster tersebut.
Mendadak hati Adira kembali terasa sakit namun sekuat tenaga Adira berusaha menahan laju air matanya karena Adira sudah bertekad bahwa tidak akan ada lagi air mata yang mengalir di pipinya.
" Adira gak boleh nangis, Adira harus kuat, Adira harus tunjukkan ke mereka kalau Adira akan baik-baik saja. " ucap Adira yang sedang memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Masih dalam posisi duduk tangan Adira terulur untuk mengambil dompet dan juga ponselnya yang berada di dalam tas dan betapa terkejutnya Adira saat melihat dompetnya yang sudah kosong hanya ada KTP saja di dalamnya, padahal seingatnya di dalam dompetnya ini masih ada tersisa uang simpanannya lebih kurang sekitar 5 juta rupiah.
" Astaghfirullah, tega sekali mereka mengambil uang simpanan Adira. " ucap Adira dengan lesu saat melihat dompetnya kosong.
__ADS_1
" Bagaimana caranya Adira membayar biaya rumah sakit ini? Adira yakin biayanya pasti sangat mahal sekali, Adira gak mungkin meminta bantuan Ibu dan Ayah karena mereka pasti akan sangat terkejut saat mendengar semuanya. " ucap Adira lagi yang sedang kebingungan.