Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 69


__ADS_3

Selesai menceritakan semuanya pada Hani, Adira merasa hatinya sudah lebih lega dan juga plong. Adira merasa semua beban yang ada di kepala dan juga pundaknya mendadak luruh dan menghilang tanpa sisa.


" Ya Allah tega sekali Yati berbuat seperti itu padamu Adira? Dan David pun kenapa jadi suami keterlaluan sekali sih, plin plan gak punya pendirian sama sekali. " sungut Hani yang terlihat sangat kesal.


" Adira juga gak tau Bu tapi biarlah semua sudah berlalu sekarang Adira sudah tidak ada hubungan apa pun lagi dengan mereka semua, tugas Adira sekarang tinggal mengobati luka hati ini, dan Adira gak tau kapan sembuhnya. " ujar Adira dengan wajah yang sedih namun sudah tidak ada lagi air mata yang menetes.


" Jangan khawatir Adira seiring dengan berjalannya waktu, luka itu akan sembuh dengan sendirinya, yang terpenting kamu harus ikhlas menerima semuanya dan kamu juga harus bangkit jangan terus terpuruk dan meratapi keadaan. " tutur Hani dengan lembut sambil menggenggam tangan Adira dengan erat untuk menyalurkan energi positif.


Melihat Hani tersenyum lembut ke arahnya, tanpa sadar Adira juga ikut menarik garis senyum di wajahnya yang tetap terlihat cantik walaupun matanya sembab.


" Terima kasih banyak Bu, Ibu sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini dan mau mendengarkan semua cerita Adira? " ucap Adira sembari memandang wajah majikannya yang sudah seperti Ibu keduanya.


" Sama-sama Adira, oh iya kamu tidak menghubungi kedua orangtua kamu? " tanya Hani.


" Gak Bu, Adira gak mau membuat Ayah dan Ibu khawatir, lagi pula mereka pasti akan sangat syok mengetahui ini semua. " jawab Adira menjelaskan.


" Kalau itu ya sudah pasti Adira, jangankan kedua orangtua kamu, saya aja syok banget mendengar semua cerita kamu, tapi kamu hebat loh menutup rapat semua cerita ini dari siapa pun, kalau saya aja pasti sudah akan saya ceritakan ke orang-orang terdekat saya, apa lagi kedua orangtua saya sudah tentu akan saya ceritakan semuanya. " sahut Hani.


" Adira hanya ingin menjaga aib suami Bu, makanya Adira menutup rapat-rapat semuanya dari siapa pun, oh iya Bu Adira boleh pinjam uang gak untuk bayar biaya rumah sakit? Nanti Ibu bisa memotongnya dari gaji Adira. " ujar Adira yang baru teringat dengan tujuan utamanya menghubungi Hani.


" Kamu tenang saja nanti biar saya yang akan menanggung semua biaya rumah sakitnya, kamu gak perlu meminjamnya. " tutur Hani.


" Ibu serius ingin menanggung biaya rumah sakitnya? Tapi biayanya pasti sangat mahal sekali Bu? Ibu potong dari gaji Adira saja tidak apa-apa. " ucap Adira yang terharu sekaligus merasa sungkan jika biaya rumah sakitnya di tanggung oleh Hani.


" Tidak apa-apa Adira berapa pun biayanya tetap akan saya tanggung tapi satu hal yang saya minta? Kamu jangan berhenti bekerja ya? karena saya akan kembali kesepian kalau tidak ada kamu. " ujar Hani meminta.

__ADS_1


" Iya Bu Adira akan tetap bekerja di rumah Ibu, lagi pula di mana lagi kan kerja jadi asisten rumah tangga tapi gajinya seperti pegawai kantoran. " tutur Adira membuat Hani tertawa.


" Hahaha kamu ini masih sempat-sempatnya melucu ya Adira. " sahut Hani.


Setelah itu karena hari sudah malam, Adira memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya agar kondisinya lekas pulih, sedangkan Hani tetap menemani Adira di rumah sakit walaupun Adira sudah memintanya untuk pulang saja tapi Hani tetap kekeh ingin menemani Adira di rumah sakit.


.


.


.


Sementara itu...


Setelah pulang dari rumah sakit David hanya diam dan tidak membuka suaranya walau hanya mengucapkan sepatah kata pun. Nuryati sudah berusaha mengajaknya berbicara sepanjang jalan kembali ke rumah mereka, namun David hanya diam saja dan tidak memberikan respon apa pun.


" Jangan ganggu aku dulu Bu, biarkan aku sendiri. " jawab David yang melangkah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu meninggalkan Ibunya yang masih berdiri di teras rumah sembari menatap bingung ke arahnya.


David terus melangkah masuk ke dalam kamar yang selama beberapa bulan ini dia tempat bersama istrinya.


" Haaaah. " David menghembuskan napasnya secara perlahan saat masuk ke dalam kamar dan tercium aroma parfum istrinya yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.


" Apa keputusanku ini sudah benar. " gumam David saat melihat foto pernikahannya dengan Adira yang masih menempel di dinding kamarnya.


Tidak ingin larut dalam perasaannya David segara menuju ke lemari pakaian, lalu mengambil tas pakaian Adira yang ada di lemari paling bawah, setelah menemukannya David segera memasukkan semua pakaian serta barang-barang milik Adira yang ada di dalam kamar mereka.

__ADS_1


Setelah semuanya terkumpul menjadi satu, David juga membawa serta tas selempang milik istrinya yang berisi ponsel dan juga dompet, selesai semuanya David langsung keluar lagi dari dalam kamar menuju ke ruang tamu dan tidak sengaja berpas-pasan dengan Ibunya.


" Kamu mau kemana David? " Nuryati bertanya sambil membawa kantung kresek berisi makanan yang baru saja dia beli melalui aplikasi online.


" Mau ke rumah sakit Bu nganterin pakaiannya Adira. " jawab David dengan ekspresi wajah yang datar.


" Kamu makan dulu saja, selesai makan nanti baru ke rumah sakit. " tutur Nuryati dengan lembut sambil memegang tangan putranya.


" Tapi Bu. " sahut David yang terdengar keberatan namun dia tetap mengikuti langkah Ibunya yang membawanya menuju ke meja makan.


Sampai di meja makan, Nuryati segera menghidangkan makanan yang tadi di belinya di atas meja makan lalu meminta David untuk segera menyantapnya.


" Ayo di makan nak nanti keburu dingin, Ibu mau ke kedai (warung) dulu. " ucap Nuryati yang segera berlalu meninggalkan David.


Setelah ibunya pergi David segera menyantap makanan tersebut, walaupun rasa nafsu makannya sudah menghilang tapi dia harus makan agar tidak mengecewakan Ibunya.


Sedangkan Nuryati yang sedang berjalan menuju ke pintu depan, mendadak berhenti saat melihat tas selempang Adira yang ada di atas tas pakaiannya.


Tanpa ragu sedikit pun Nuryati langsung mengambil tas selempang tersebut dan membuka isinya yang ternya berisi ponsel dan dompet.


" Eh ada dompet, kira-kira ada uangnya gak ya? " ucap Nuryati yang langsung membuka dompet tersebut, dan kedua bola mata Nuryati langsung membulat dengan sempurna saat melihat banyaknya lembaran uang merah yang terdapat di dalam dompet tersebut.


" Rezeki nomplok, mmuuacch. " Nuryati langsung mengambil semua uang tersebut tanpa menyisakannya selembar pun lalu menciumnya dengan senang.


Setelah mengambil semua uangnya Nuryati kembali menyimpan dompet tersebut dan meletakkannya seperti semula. Lalu Nuryati memasukkan uangnya ke dalam dompetnya sendiri lalu dia keluar dari dalam rumah dengan senyum yang mengembang lebar.

__ADS_1


" Kalau Rezeki memang gak kemana? Pinter juga dia menyimpan uang. " ucap Nuryati yang lanjut melangkah menuju ke kedai (warung) milik Susi.


__ADS_2