
selesai mengurus biaya administrasi, Nuryati kembali ke ruang IGD di mana Susi masih menunggu.
" Sebaiknya kamu pulang saja Susi di sini kan sudah ada Mbak dan sebentar lagi David juga akan datang. " usir Nuryati secara halus.
" Baiklah Mbak kalau begitu saya permisi, Assalamualaikum. " pamit Susi yang segera berlalu meninggalkan ruang ruang IGD untuk kembali ke rumahnya.
Setelah Susi pergi Nuryati langsung mengambil ponselnya yang berada di dalam tas lalu Nuryati segera menghubungi David yang sedang berada di kantornya.
Tut...
Tut...
Tut...
Hanya dalam dering ketiga David langsung menjawab panggilan telepon dari Ibunya.
" Halo Bu ada apa? " tanya David Setelah dia menjawab panggilan telepon dari Ibunya.
" Ha-halo David Adira nak Adira. " jawab Nuryati terbata yang berpura-pura seolah-olah sedang menangis.
" Ibu kenapa? Ibu kenapa menangis? ada apa dengan Adira Bu? ada Apa Dengan istriku? " tanya David beruntun dan rasa khawatir sangat terdengar dari nada suaranya.
" Adira nak, Adira kecelakaan dan sekarang dia sedang berada di rumah sakit. " tutur Nuryati memberitahu.
" Apa Bu Adira kecelakaan. " sahut David yang terdengar sangat terkejut.
" Iya nak kamu buruan ke rumah sakit sekarang ya? " titah Nuryati.
" Iya Bu aku akan segera kesana sekarang. " sahut David yang langsung memutuskan sambungan telponnya.
Setelah menghubungi David, Nuryati kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas lalu dia langsung duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang IGD.
Tidak lama dari itu dua orang suster keluar dari dalam ruang IGD sambil mendorong brankar yang di atasnya terdapat tubuh Adira yang tidak sadarkan diri dengan tangan yang di infus dan juga oksigen yang berada di hidungnya.
__ADS_1
Dengan terpaksa Nuryati mengikuti suster tersebut hingga mereka masuk ke dalam ruang operasi dan Nuryati kembali duduk di kursi tunggu.
Setelah berjuang di meja operasi selama 1 jam lamanya akhirnya Adira dibawa ke ruang perawatan sedangkan bayinya langsung dibersihkan oleh pihak rumah sakit untuk nantinya akan dimakamkan oleh pihak keluarga.
Walaupun sudah berada di dalam ruang perawatan namun Adira belum sadarkan diri sedangkan Nuryati hanya duduk di luar dan sama sekali tidak berniat untuk menemani di dalam.
" Bagaimana keadaan Adira Bu? " tanya David yang baru saja datang dengan napas yang memburu karena berlari dari parkiran menuju ke ruang perawatan.
Mendengar suara putranya Nuryati langsung memasang ekspresi wajah sesedih mungkin.
" David. " Nuryati langsung bangkit dan memeluk tubuh putranya.
" Ada apa Bu? Apa terjadi sesuatu hal yang buruk? " tanya David dengan jantung yang berdetak dengan sangat kencang.
Nuryati segera melerai pelukannya lalu menatap wajah putranya dalam-dalam.
" Ibu harap kamu bisa sabar dan juga ikhlas menerima semuanya David. " ucap Nuryati yang menggantung.
" Ada apa sebenarnya Bu? Jangan buat aku khawatir seperti ini? " sahut David yang tidak sabaran.
Air matanya langsung jatuh begitu saja dan untuk beberapa saat David menangis dalam posisi seperti itu hingga tangisnya sedikit mereda barulah Nuryati mendekatinya.
" Ayo bangun nak? " ajak Nuryati sembari membantu David untuk bangkit berdiri.
Lalu Nuryati menuntun David untuk duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang perawatan Adira.
" Kenapa bisa Adira sampai kecelakaan Bu? Bukannya dia berkata bahwa dia malas untuk melakukan apapun? " David bertanya tetap dengan air mata yang berderai.
" Ibu juga tidak tau David padahal seharian tadi dia tidur di kamar dan yang bebersih rumah serta memasak juga Ibu tapi tau-tau tadi Ibu mendengar suara gaduh di depan rumah, pas Ibu keluar ternyata Adira udah terkapar di tengah jalan jadi ibu spontan berlari dan meminta bantuan warga untuk membawanya ke rumah sakit. " tutur Nuryati yang berbohong.
Mendengar penjelasan dari Ibunya membuat David tidak bisa berkata-kata lagi namun air matanya sudah berhenti dengan sendirinya.
" Lalu sekarang Adira sudah tidak punya rahim begitu Bu? " tanya David setelah cukup lama dia diam tak bersuara.
__ADS_1
" Iya David, kamu tidak akan pernah memiliki anak lagi jika kamu masih mempertahankan pernikahanmu dengan Adira. " jawab Nuryati yang mulai menjalankan rencananya.
" Apa maksud Ibu? " tanya David lagi sambil menatap wajah Ibunya.
" Maksud Ibu begini, jika kamu tetap mempertahankan Adira sebagai istrimu maka sampai kapanpun kamu tidak akan pernah yang namanya memiliki anak dan kamu tahu kan jika kamu anak laki-laki Ibu satu-satunya dan Ibu sangat berharap kamu memiliki keturunan yang akan meneruskan keluarga kita. " jawab Nuryati.
David tidak memberikan respon apapun namun David mencerna dan memikirkan baik-baik ucapan Ibunya.
" Aku ke dalam dulu Bu. " pamit David dan Nuryati pun ikut masuk ke dalam juga.
Jika David memilih duduk di kursi yang ada di samping ranjang, Nuryati memilih duduk di sofa yang ada di dalam ruangan Adira.
David duduk di kursi tersebut sambil menatap dalam-dalam wajah istrinya yang masih tertidur dengan damai, namun tidak lama dari itu Adira mulai menggerakkan tangannya lalu secara perlahan kedua mata Adira mulai terbuka.
" M-mas David. " panggil Adila namun David hanya diam dan tidak menjawab panggilan istrinya.
" Adira ada di mana? Mas Adira haus. " ucap Adira dengan suara yang lemah dan David pun mengambilkan segelas air yang ada di atas meja lalu membantu Adira untuk minum.
" Mas Adira ada di mana? " Adira mengulang pertanyaannya setelah rasa haus di tenggorokannya menghilang.
" Kamu ada di rumah sakit. " jawab David dengan singkat.
Adira mengerutkan dahinya saat melihat perubahan sikap suaminya yang sangat terlihat jelas, namun saat tangannya tanpa sengaja menyentuh permukaan perutnya, kedua mata Adira langsung melebar dengan sempurna.
" Mas kenapa perut Adira rata? mana anak kita Mas mana? " tanya Adira beruntun namun David tetap diam saja dan tidak menjawab pertanyaan istrinya.
" Anak kita mana Mas? anak kita mana dia baik-baik aja kan? " tanya Adira beruntun lalu saat dia mulai bangkit dari duduknya Adira merasakan nyeri di bagian perutnya.
" Heeesst aaw sakit. " rintih Adira lalu dia terpaksa merebahkan tubuhnya kembali.
Melihat istrinya kesakitan David yang biasanya panik dan langsung menolong kali ini hanya diam saja dan terus menatap wajah istrinya dengan pandangan yang sulit dimengerti.
" Mas kenapa diam saja di mana anak kita Mas? " Adira mengulang pertanyaannya sembari berusaha memegang tangan suaminya namun langsung ditepis oleh David.
__ADS_1
" Kenapa Mas! Mas kenapa diam saja? " tanya Adira lagi sembari menatap wajah tampan suaminya yang terlihat datar, kaku dan tidak seperti biasanya yang selalu menatapnya dengan tatapan penuh cinta.