Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 33


__ADS_3

Tiga minggu telah berlalu tapi hingga saat ini Adira belum juga mendapatkan panggilan dari pabrik tempat Lila bekerja.


David juga masih terus membantu mencari lowongan pekerjaan untuk istrinya. Tapi sayangnya informasi lowongan pekerjaan yang David dapatkan rata-rata untuk lulusan S1 atau minimal D3 sementara Adira hanyalah lulusan SMA.


" Oalah yang katanya mau kerja tapi nggak kerja-kerja juga. " ucap Nuryati yang sengaja menyindir Adira yang sedang menjemur pakaian di halaman belakang.


" Ya maklum saja Bu Adira belum mendapatkan panggilan. " jawab Adira sambil tetap menjemur pakaian.


" Alah bilang aja gak niat kerja pakai alasan belum dapat panggilan segala " ujar Nuryati dengan sinis.


" Adira bukannya gak niat kerja Bu, tapi memang pada kenyataannya Adira belum mendapatkan panggilan dari pabrik. " tutur Adira menjelaskan.


" Iya sama saja itu namanya kamu males, kalau orang mau nyari kerjaan itu buat lamaran yang banyak sebarkan jangan hanya menunggu dari satu tempat saja. " ucap Nuryati lagi.


" Tapi kebanyakan lowongan pekerjaannya untuk lulusan S1 atau nggak minimal D3 Bu, sementara Adira hanya lulusan SMA.. " tutur Adira dengan lembut walaupun ibu mertuanya berbicara dengan nada yang sinis.


" Makanya kamu itu kuliah jangan hanya lulusan SMA aja, setibanya gini jadi susah kan. Kalau memang nggak ada kerjaan lain mending kamu jadi pembantu aja deh kebetulan tuh di rumah orang kaya yang ada di depan supermarket sana katanya lagi butuh pembantu coba aja kamu tanya ke sana siapa tahu diterima, tapi jangan bilang ya kalau kamu itu menantu ibu bisa malu 7 turunan ibu kalau sampai mereka tahu jika Ibu punya menantu seorang pembantu. " lagi-lagi ucapan Nuryati membuat hati Adira kembali terasa sakit.


Walaupun Adira sudah berusaha untuk memaklumi dan menerima setiap ucapan yang keluar dari mulut ibu mertuanya yang selalu kasar, menyakitkan dan terkadang juga menghina tetapi tetap saja hati Adira selalu terasa sakit dan semakin sakit.


" Iya Bu nanti Adira akan coba tanya ke sana. " jawab Adira yang sudah selesai menjemur pakaian.

__ADS_1


" Jangan cuma iya iya aja, cepetan ke sana muak ibu lama-lama ngeliat kamu di rumah ini nggak ada gunanya. " ujar Nuryati yang segera berlalu dari halaman belakang.


Setelah Ibu mertuanya pergi air mata Adira langsung menetes begitu saja. ingin rasanya Adira tak lagi menangis tapi setiap ucapan menyakitkan yang dilontarkan oleh ibu mertuanya rasanya membuat air mata Adira langsung menetes begitu saja walaupun Adira sudah berusaha untuk membendungnya.


Adira menangis sendirian di halaman belakang tanpa ada yang menemani, Adira menangis tanpa suara hanya air mata yang terus-menerus mengalir membasahi kedua pipi mulusnya.


Setelah puas menangis dan sudah jauh lebih tenang, Adira menghapus sisa air mata yang mengalir di pipinya lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


" Loh Mas David sejak kapan ada di sini? " ujar Adira yang terkejut saat melihat suaminya yang sudah berdiri di ambang pintu.


" Sejak tadi dan Mas juga mendengar semua pembicaraan kamu dan ibu, Mas minta kamu maklumi saja ya jika kata-kata Ibu selalu menyakiti hati kamu. " ucap David sambil menatap wajah istrinya.


"Iya kamu maklumi saja namanya juga orang tua, lagi pula kamu harus ikhlas menganggap ibu sama seperti ibu kandung kamu sendiri jadi kamu tidak akan pernah merasakan sakit hati ketika Ibu berbicara hal yang sedikit keterlaluan. " sahut David menasehati istrinya.


" Adira ikhlas Mas bahkan sangat ikhlas menganggap ibu sama seperti ibu kandung Adira sendiri, tapi jika Adira boleh jujur kata-kata ibu setiap harinya selalu menyakitkan Mas dan Mas kan tau sendiri jika di rumah ibu dan bapak tidak pernah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan seperti itu. " tutur Adira.


" Jika itu permasalahannya berarti kamu harus menyesuaikan diri belajar beradaptasi lalu menerima setiap kelebihan dan kekurangan Ibu, dan ingat mas nggak suka jika kamu berani menyalakan ibu karena apapun yang terjadi Ibu adalah segalanya untuk Mas. " ucap David dengan tegas.


" Dan benar apa kata ibu jika kamu tidak kunjung mendapatkan pekerjaan sebaiknya kamu kerja sebagai pembantu saja. " ucap David lagi.


" Iya Mas, kalau begitu Adira mandi dulu ya. " pamit Adira yang langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Adira sengaja menyudahi pembicaraannya dengan sang suami karena berlama-lama berbicara dengan suaminya pun percuma, karena apapun alasannya dan apapun permasalahannya suaminya pasti selalu meminta Adira untuk memaklumi apapun yang ibunya perbuat.


Terhitung satu bulan sudah Adira tinggal di rumah sang ibu mertua tetapi semakin hari sikap suaminya semakin banyak berubah.


Mereka sudah jarang melakukan sholat berjamaah bersama, David lebih memilih menemani ibunya menonton televisi daripada sholat berjamaah bersama istrinya.


Jika sedang berada di rumah, David lebih sering bersama ibunya daripada bersama Adira yang notabene adalah istrinya.


Awalnya Adira menganggap itu adalah hal yang biasa tapi semakin hari suaminya tidak pernah punya waktu hanya untuk sekedar ngobrol berdua dengan Adira, bahkan saat di atas ranjang yang biasanya mereka sempatkan untuk sharing berdua sebelum tidur, sekarang kegiatan itu sudah tidak ada lagi karena suaminya selalu menonton televisi hingga larut malam bersama ibunya, dan jika sudah berada di dalam kamar David pasti langsung tertidur karena sudah mengantuk.


Setiap Adira mengadu tentang ibu mertuanya yang selalu berkata kasar padanya, David selalu meminta Adira untuk memaklumi semua itu dan David juga menekankan jika Adira tidak boleh menyalahkan ibunya Dan satu hal yang selalu David katakan pada Adira jika surganya ada di bawah telapak kaki sang ibu jadi apapun alasannya ibunya adalah segalanya untuk dia.


Dan David juga meminta Adira untuk selalu memuliakan ibunya bagaimanapun sikap dan perilaku sang ibu pada istrinya.


Setelah berada di dalam kamar Adira langsung menuju ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, di dalam kamar mandi Adira kembali menangis saat mengingat suaminya yang tidak pernah lagi memikirkan bagaimana perasaannya dan bagaimana sakit hatinya.


" Kenapa Mas David sekarang berubah? kenapa Mas David selalu meminta Adira untuk memaklumi semua sikap dan perilaku ibu, kenapa mas David tidak pernah memikirkan bagaimana rasa sakitnya Adira. " batin Adira sambil terus mengguyur kepalanya dengan air.


Selama air matanya masih menetes, Adira masih terus mengguyur kepalanya dengan air agar air matanya jatuh bersamaan dengan air yang mengalir dari atas kepalanya. Walaupun tubuhnya sudah kedinginan tetapi Adira tak juga berhenti.


Setelah tangisnya mereda, barulah Adira berhenti menyiram kepalanya sendiri lalu mengelap tubuhnya dengan handuk dan memakai pakaian yang sudah dia bawa. Setelah itu barulah Adira keluar dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2