
Karena rasa bahagianya tidak terasa mereka sudah empat bulan menikah, selama menikah dengan Rendra Adira benar-benar di perlakukan selayaknya seorang ratu sesuai dengan janji Rendra. Adira yang awalnya belum mencintai Rendra sekarang sudah sangat mencintai suaminya karena perlakuan manis dan romantis yang selalu Rendra berikan.
Di pernikahannya yang kedua Adira benar-benar merasa sangat bahagia dan mendapat limpahan kasih sayang yang sangat luar biasa dari suami dan Ibu mertuanya, setiap hari tidak pernah ketinggalan suaminya akan selalu membawakannya setangkai bunga mawar untuknya.
Adira pernah bertanya kenapa suaminya hanya memberikannya setangkai bunga mawar? Jawaban Rendra membuat Adira luluh dan meleleh seperti ice cream, Rendra berkata dia hanya memberikannya satu tangkai karena seluruh hati, jiwa, dan raganya hanya akan dia berikan pada seorang wanita yang sangat dia cintai yaitu istrinya dan dia tidak akan pernah membagi hatinya untuk yang lain.
Adira sangat berbunga-bunga mendengarnya, baru kali ini dirinya di buat sangat salah tingkah hingga kedua pipinya memerah seperti tomat.
Pagi ini saat bangun tidur Adira merasa mual luar biasa perutnya terasa seperti di aduk-aduk dan sudah bolak-balik dirinya keluar masuk kamar mandi. Sejak awal istrinya muntah Rendra selalu setia menemaninya.
" Kita ke rumah sakit saja ya sayang? Wajah kamu pucat sekali loh? " ajak Rendra dengan raut wajah khawatirnya.
" Gak usah Mas, Adira cuma masuk angin saja. " jawab Adira yang kepalanya sudah berputar-putar.
" Kita ke rumah sakit saja ya sayang mas sangat khawatir sekali melihat kondisi kamu yang seperti ini. " bujuk Rendra sambil memapah istrinya yang sudah sangat lemas sekali.
Baru saja Adira melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi pandangannya mulai menggelap dan tidak lama dari itu Adira pun tidak sadarkan diri.
" Ya Allah sayang? " ucap Rendra yang sangat terkejut mendapati istrinya pingsan.
Dengan sigap Rendra langsung menangkap tubuh istrinya agar tidak jatuh ke lantai, karena istrinya tidak memakai hijab Rendra memakaikan istrinya hijab terlebih dahulu karena dia tidak ingin aurat istrinya di lihat oleh orang lain. Selesai memakaikan istrinya hijab barulah Renda membawanya keluar dari dalam kamar.
" Astaghfirullah Adira kenapa Ren? " Hani bertanya saat dirinya ingin kembali ke kamar setelah mengambil air minum di dapur.
" Adira pingsan Ma aku mau bawa ke rumah sakit sekarang. " Rendra menjawab sambil terus melangkah menuju ke mobilnya.
" Mama ikut. " Hani langsung meletakkan gelas yang ada di tangannya dan ikut menyusul putranya menuju ke garasi.
Adira di rebahkan di kursi belakang dengan kepala yang berada di atas pangkuan Hani. Setelah itu Rendra segera memacu laju mobilnya dengan kecepatan tinggi menunju ke rumah sakit yang sama saat Adira di rawat dahulu.
" Adira kenapa bisa seperti ini Ren? " Hani bertanya sambil membelai wajah Adira yang sangat pucat.
__ADS_1
" Aku juga tidak tau Ma tapi sejak jam 2 pagi tadi dia mual dan muntah-muntah terus, sejak tadi sudah aku ajak dia untuk ke rumah sakit tapi dia tidak mau. " Rendra menjawab sambil terus memacu laju mobilnya lebih cepat lagi.
Karena sekarang masih jam 4 pagi Rendra bisa leluasa melesatkan mobilnya lebih kencang agar bisa segera sampai di rumah sakit. Setibanya di rumah sakit Rendra langsung memarkirkan mobilnya dan kembali menggendong tubuh lemah istrinya.
" Suster tolong sus. " Teriak Rendra dan satu orang suster datang sambil membawa brankar rumah sakit, mereka segera mendorong brankar tersebut menuju ke ruang IGD.
Rendra dan Hani hanya bisa menunggu di depan ruang IGD sambil berdoa supaya tidak terjadi apa-apa dengan Adira.
" Ya Allah semoga istriku baik-baik saja, aku baru saja merasakan kebahagiaan ini jadi aku mohon biarkan aku tetap bahagia bersama istriku. " Batin Rendra berdoa di dalam hati.
Mereka terus dan terus menanti hingga seorang dokter jaga keluar dari dalam ruang IGD.
" Bagaimana keadaan istri saya dokter? " Rendra bertanya sambil mendekat ke dokter tersebut begitu juga dengan Hani.
" Pasien tidak apa-apa hal itu biasa terjadi pada seorang wanita yang sedang mengandung. " papar dokter jaga yang merupakan seorang wanita.
Degh...
" Itu gak mungkin dokter, istri saya sudah tidak memiliki rahim. " papar Rendra yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang.
Sekarang giliran dokter jaga tersebut yang menatap bingung ke arah Rendra dan juga Hani.
" Tapi berdasarkan hasil pemeriksaan saya pasien dalam keadaan hamil. " sahut dokter jaga tersebut.
" Bagaimana mungkin dok jelas-jelas beberapa bulan yang lalu saya yang menemani anak saya di rawat di rumah sakit ini dan dia sendiri yang mengatakan jika rahimnya sudah di angkat. " Timpal Hani.
Semakin bingung lah dokter jaga tersebut,apa mungkin dirinya salah dalam pemeriksaan tapi dia sangat yakin bahwa pasien tersebut benar-benar dalam keadaan hamil.
" Begini saja untuk lebih jelasnya pasien di bawa ke poli kandungan untuk di lakukan USG dan pemeriksaan lainnya. " usul sang dokter jaga.
" Baiklah Dok tapi jam berapa dokter poli kandungan datang? " Rendra bertanya pasalnya saat ini jam masih menunjukkan pukul 5 pagi.
__ADS_1
" Dokter Gigi datang pukul 7 pagi Pak. " jawab dokter jaga.
" Baiklah kalau begitu boleh saya melihat istri saya di dalam? " pinta Rendra.
" Oh silahkan, saya juga harus menangani pasien yang lain. " sahut dokter jaga tersebut yang segera berlalu dari ruang IGD.
Rendra langsung masuk ke dalam ruang IGD bersama dengan Hani di belakangnya.
" Mas. " Adira memanggil suaminya dengan air mata yang sudah mengalir deras membasahi pipinya.
Rendra langsung menghampiri dan Adira pun langsung memeluk erat pinggang suaminya.
" Apa-apaan ini Mas kenapa dokter itu mengatakan hal seperti itu? " Adira bertanya sambil menangis.
" Mas juga tidak mengerti sayang, tapi kamu tenang saja nanti kita akan memeriksakannya ke poli kandungan untuk lebih jelasnya. " Rendra menjawab sambil membelai lembut kepala Adira.
Setelah itu mereka bertiga segera keluar dari ruang IGD karena keadaan Adira sudah jauh lebih baik, mereka bertiga melaksanakan sholat subuh terlebih dahulu barulah mereka mencari warung untuk sarapan pagi sambil menunggu dokter Gigi datang.
" Kamu tidak makan sayang? " Rendra bertanya karena sejak tadi Adira hanya mengaduk-aduk nasi uduk yang ada di piringnya.
" Gak mau nasinya tidak enak. " Adira menjawab dengan ketus.
" Masa sih sayang, orang nasinya enak kok iya kan Ma? " ucap Rendra meminta dukungan Mamanya.
" Iya Adira nasinya enak kok Mama aja sudah habis. " timpal Hani sambil menunjukkan isi piringnya.
" Ih enak apanya orang nasinya jelas-jelas gak enak banget gini kok, udah ah Adira mau di mobil aja males di sini. " ujar Adira yang langsung pergi begitu saja meninggalkan suami dan Ibu mertuanya yang menatap bingung ke arahnya.
Pasalnya baru kali ini Adira berbicara ketus dan langsung pergi begitu saja, padahal biasanya Adira selalu berbicara lembut dan tidak pernah ketus seperti itu.
" Adira kenapa Ma? " Rendra bertanya pada Mamanya dan Mamanya pun hanya mengangkat kedua bahunya karena dia sama-sama tidak mengerti.
__ADS_1