Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 44


__ADS_3

Selesai makan siang Adira segera membereskan meja makan serta peralatan bekas mereka makan. Setelah itu Adira menemui Hani yang sedang bersantai di dekat kolam renang.


" Maaf Bu adakah pakaian kotor yang harus Adira cuci? " ucap Adira bertanya.


" Ada Adira, kamu masuk saja ke dalam kamar saya pakaian kotornya ada di keranjang dekat pintu kamar mandi. " sahut Hani memberitahu.


" Oh ya Adira nanti selesai mencuci pakaian kamu temui saya di sini ya? saya tunggu. " ucap Hani lagi.


" Baik bu , Adira izin masuk ke kamar Ibu ya? " ujar Adira meminta Izin.


" Iya Adira kamu masuk saja, saya Izinkan. " jawab Hani.


" Terimakasih Bu, saya permisi. " pamit Adira yang segera berlalu dari hadapan Hani menuju ke kamar Hani yang berada di lantai 2.


Selesai mengambil pakaian Adira langsung menuju ke ruang cuci yang terletak di dekat kamar mandi dapur.


Walaupun di sana tersedia mesin cuci tetapi Adira lebih memilih mencuci dengan menggunakan tangan, karena menurut Adira mencuci dengan menggunakan mesin hasilnya tidak sebersih seperti kita mencuci dengan tangan.


Meskipun menggunakan tangan tapi Adira mencuci dengan sangat hati-hati agar pakaian milik Hani tidaklah rusak, karena saat dilihat, pakaian tersebut kebanyakan berasal dari brand-brand ternama yang harganya sangatlah mahal.


Karena pakaian kotor milik Hani tidak terlalu banyak, jadi tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Adira untuk menyelesaikan pekerjaannya.


" Alhamdulillah semua pekerjaan sudah selesai. " ucap Adira ketika dirinya sudah selesai menjemur pakaian.


" Sekarang tinggal menemui Ibu Hani, tapi ngomong-ngomong ada apa ya Ibu Hani meminta Adira untuk menemuinya? " ucap Adira berbicara pada dirinya sendiri.


" Lebih baik ke sana aja deh dari pada penasaran. " ucap Adira lagi yang sekarang melangkahkan kakinya menuju ke halaman belakang di mana Hani masih duduk di kursi santai yang ada di pinggir kolam renang sembari menunggu Adira.


" Kamu sudah selesai Adira? " ujar Hani saat melihat Adira yang sedang berjalan ke arahnya.


" Sudah Bu, memangnya ada apa ya Ibu meminta Adira untuk menemui ibu di sini? " ujar Adira bertanya.

__ADS_1


" Apa semua pekerjaan kamu sudah selesai Adira? " ujar Hani yang malah balik bertanya.


" Alhamdulillah semuanya sudah selesai Bu. " jawab Adira sembari tersenyum manis.


" Ayo duduk di sini Adira. " tutur Hani sambil menepuk kursi yang ada di sampingnya.


Tanpa diminta dua kali Adira segera mendudukkan dirinya di samping majikannya.


" Karena pekerjaan kamu sudah selesai, kamu pulangnya sore saja ya Adira? kamu temenin saya dulu di sini saya kesepian setiap hari sendirian. " pinta Hani dengan ekspresi wajah yang sedih.


" Ibu kenapa sedih? " tanya Adira yang merasa iba saat melihat majikannya bersedih.


" Sampai kapan saya seperti ini ya Adira? " ucap Hani ambigu.


" Sampai kapan gimana maksudnya Bu? " sahut Adira sambil menatap bingung ke arahan Hani.


Hani terlihat menarik napas dengan dalam lalu membuangnya secara kasar.


" Menurut Adira kehidupan Ibu pasti bahagia. " jawab Adera disertai senyuman.


" Tapi pada kenyataannya kehidupan saya tidaklah seperti itu Adira, menurut orang lain mungkin kehidupan saya bahagia karena saya punya banyak uang dan memiliki segalanya tapi pada kenyataannya saya tidak sebahagia itu Adira. " tutur Hani dengan sedih.


" Di usia saya sekarang ini saya kesepian, saya sendirian. Sebenarnya saya iri dengan kehidupan teman-teman saya yang setiap harinya ditemani oleh anak dan menantunya bahkan kebanyakan dari mereka sudah memiliki cucu yang sangat lucu, sedangkan saya mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi selalu sendirian Adira. " tutur Hani lagi tetap dengan ekspresi wajah yang sedih.


" Maaf Bu jika Adira lancang, kalau Adira boleh tahu anak Ibu ada berapa? " ujar Adira bertanya.


" Tidak apa-apa Andira, anak saya hanya ada satu laki-laki namanya Virendra Putra saat ini usianya sudah 32 tahun tapi hingga saat ini dia masih betah sendiri dan dia sama sekali tidak pernah mengenalkan seorang wanita pun pada saya. Berkali-kali saya memintanya untuk menikah bahkan saya berniat untuk mencarikannya jodoh tapi sayang dia selalu menolak dengan tegas dan saya tidak tahu kapan dia akan menikah. " tutur Hani menjelaskan.


" Mungkin anak ibu belum menemukan wanita yang sesuai dengan kriterianya atau mungkin dia masih ingin mengejar karirnya. " ucap Andira sesuai dengan apa yang ada di dalam pikirannya.


" Mungkin saja Adira tapi mau sampai kapan dia seperti itu? saya sudah sangat kesepian sekali di sini. " ujar Hani sambil mengeluarkan air matanya.

__ADS_1


" Apa Ibu tidak pernah mengatakan hal ini pada anak ibu? " ujar Adira bertanya.


" Sudah Adira, bahkan saya sudah sering kali mengatakan hal ini padanya tapi jawabannya selalu sama dia meminta saya untuk ikut dia pindah ke Jakarta. " tutur Hani.


" Kalau begitu kenapa Ibu tidak ikut dengan dia saja tinggal di Jakarta? " sahut Adira.


" Saya tidak bisa meninggalkan rumah ini Adira, karena rumah ini banyak sekali kenangannya dengan almarhum suami saya dan sampai kapanpun saya akan tetap bertahan di rumah ini bahkan sampai ajal menjemput saya. " ucap Hani yang sekarang air matanya sudah mengalir dengan deras.


" Maaf Bu jika Adira lancar. " ucap Adira yang memberanikan diri untuk memeluk majikannya itu.


Sementara Hani langsung balas memeluk Adira dengan erat karena saat ini itulah yang sedang dia butuhkan, Hani terus menangis dalam pelukan Adira dan Adira senantiasa mengusap lembut punggung majikannya itu.


Sebagai seorang wanita sudah tentu Adira dapat merasakan bagaimana sedihnya Hani saat ini, dan secara tiba-tiba Adira jadi teringat dengan kedua orang tuanya yang sudah hampir 2 bulan lamanya tidak pernah berjumpa.


" Mungkin saat ini ayah dan ibu sedang merasakan kesedihan yang sama seperti Ibu Hani. " batin Adira.


Cukup lama Hani menangis di dalam pelukan Adira, hingga beberapa saat kemudian setelah tangisannya mereda Hani langsung melerai pelukannya.


" Maaf Adira sudah membuat pakaianmu basah. " ucap Hani.


" Tidak apa-apa Bu, Andira yang minta maaf karena sudah lancang memeluk Ibu. " ucap Adira yang tidak enak hati.


" Kamu sudah melakukan hal yang benar Adira dan memang untuk saat ini pelukanlah yang sedang saya butuhkan. " sahut Hani.


" Ibu jangan sedih lagi ya? mulai saat ini dan seterusnya Adira akan selalu ada di sini menemani Ibu, jadi Ibu tidak akan kesepian lagi. " ucap Adira seraya tersenyum manis.


" Terimakasih banyak Adira? " sahut Hani yang kembali memeluk Adira.


Entah kenapa saat sedang bersama Adira Hani merasa seperti memiliki seorang anak perempuan, apalagi pembawaan Adira yang lembut serta sopan dan santun membuat Hani merasa nyaman dan tidak sungkan untuk mengungkapkan unek-unek yang selama ini dia simpan rapat-rapat di dalam hatinya.


Padahal selama ini Hani tidak pernah menceritakan unek-unek yang ada di dalam hatinya kepada siapapun bahkan pada teman-teman arisannya sekalipun.

__ADS_1


__ADS_2