
Setelah melewati drama perdebatan yang lumayan panjang akhirnya David berhasil mengajak Aura kembali pulang ke rumah, itu pun dengan syarat jika David atau pun Ibunya tidak boleh meminta Aura untuk beberes apa lagi memasak. Karena lelah berdebat akhirnya David menyetujuinya saja dari pada mempertahankan ego tidak akan ada jalan keluarnya.
Mereka kembali pulang dengan membawa kendaraan mereka masing-masing dan saat sampai di rumah ternyata kondisi rumah masih sama seperti tadi.
" Astaga jorok banget sih? Gak di bersihkan apa? " Aura terkejut saat masuk ke dalam rumah dan mendapati rumah yang sangat kotor.
" Kalau mau bersih yang di sapu jangan cuma di lihatin aja. " Sahut Nuryati yang menyindir dari ruang tamu.
" Aku nyapu? Ibu aja sana! " ujar Aura yang melangkah menuju ke dalam kamarnya.
Saat masuk ke dalam kamar Aura semakin terkejut karena kondisi kamarnya masih sama seperti saat dia tinggalkan tadi pagi.
" Daviiiiid. " Aura berteriak dari dalam kamar memanggil David yang sedang berjalan menuju ke kamar juga.
" Ada apa sih Aura teriak-teriak begitu? " sahut David yang baru saja masuk ke dalam kamar.
" Kenapa kamar masih berantakan seperti ini? Apa kamu tidak membersihkannya? Bagaimana bisa aku tidur di kamar yang berantakan seperti ini? " Sungut Aura yang sangat kesal.
" Aku lelah seharian bekerja Aura kalau harus membereskan rumah lagi mana sempat. " sahut David yang berbicara sambil membuka kemeja yang sejak pagi di gunakannya.
" Kalau begitu cari pembantu sana? Aku gak bisa tinggal di rumah yang berantakan seperti ini. " titah Aura yang dengan terpaksa membersihkan ranjang tempat mereka tidur, sementara yang lainnya Aura biarkan begitu saja.
Saat Aura membersihkan ranjang David menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, mereka berjalan harus dengan hati-hati dan juga teliti karena banyak pecahan lampu tidur yang berserakan di lantai.
Selesai membersihkan diri David keluar hanya memakai handuk separuh pinggang sementara Aura sudah berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponsel miliknya.
" Lantainya tidak kamu bersihkan Aura? " David bertanya sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk kecil.
" Kamu aja yang nyapu aku sih ogah. " Aura menjawab namun tatapan matanya masih tetap fokus menatap layar ponsel.
__ADS_1
Huuuuuh...
David menghembuskan napasnya secara kasar mendapati sikap istrinya yang seperti itu. Dengan segera David mengenakan pakaiannya lalu keluar dari dalam kamar mengambil sapu dan juga pengki.
Setelah mendapatkan apa yang dicarinya David kembali ke dalam kamar lalu membersihkan seluruh lantai yang ada di dalam kamarnya, saat suaminya sedang menyapu Aura tetap berbaring dan sama sekali tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh sang suami.
" Andai masih ada Adira mungkin aku tidak akan pernah melakukan pekerjaan ini. " batin David yang kembali teringat akan mantan istrinya.
" Astaga aku tidak boleh mengingat Adira lagi karena sekarang aku sudah punya Aura, walau pun aku tidak mencintainya tetapi dia sudah menjadi istriku. " batin David yang berusaha menyadarkan dirinya sendiri akan statusnya yang sekarang.
Setelah itu David segera menyelesaikan pekerjaannya karena perutnya yang sudah keroncongan karena dia belum makan malam.
" Aura ayo kita makan malam? " David mengajak istrinya makan malam setelah dia selesai menyapu lantai.
" Enggak ah aku masih kenyang kamu aja makan sendiri sana. " Aura menjawab tetapi dia sama sekali tidak melihat ke arah suaminya.
Lagi Dan lagi David hanya bisa menghembuskan napasnya secara kasar melihat sikap Aura yang sangat berbanding terbalik dengan Adira dahulu.
Karena tidak ada makanan dengan terpaksa David pergi keluar rumah membeli makan malam untuk dirinya sendiri. Setelah perutnya kenyang David kembali pulang ke rumahnya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang lelah.
.
.
.
Di rumah sakit...
Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit akhirnya Adira sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya yang sudah baik-baik saja. Selama Adira di rawat di rumah sakit, Hani senantiasa menunggu, menemani dan tidak pernah meninggalkan Adira sendirian. Sesuai dengan janjinya seluruh biaya perawatan Adira dibayar lunas oleh Hani.
__ADS_1
" Sudah tidak ada lagi yang tertinggal kan Adira? " Hani bertanya karena saat ini mereka sedang bersiap-siap untuk kembali pulang.
" Tidak ada kok Bu semuanya sudah masuk ke dalam tas. " Adira menjawab sambil mengecek barang bawaannya sekali lagi.
" Kamu jadi mau pulang ke rumah kedua orangtua kamu Adira? " Hani bertanya dengan raut wajah sedih.
" Jadi Bu, Adira ingin menangkan diri sebentar, lagi pula sejak pindah ke sini Adira belum pernah pulang ke kampung jadi sekalian melepas rindu dengan Ibu dan Ayah. " Adira menjawab sembari memegang tangan Hani lalu menciumnya dengan takzim.
" Terima kasih banyak ya Bu? Ibu sudah baik sekali sama Adira? Adira banyak hutang Budi dengan Ibu Hani dan entah bagaimana caranya Adira bisa membalas kebaikan Ibu? " Adira berkata dengan mata yang berkaca-kaca saat menatap wajah Hani.
" Sama-sama Adira, kamu tidak perlu membalas apa pun pada saya karena yang saya mau adalah setelah kamu selesai menenangkan diri nanti tolong kembali bekerja di rumah saya ya? " Hani menjawab dengan mata yang berkaca-kaca juga.
" Iya Bu Adira pasti akan kembali kerja di rumah Ibu Hani. " Adira menyahut sambil tersenyum manis.
" Ya sudah kalau begitu ayo kita pulang tapi nanti kamu ke kampungnya naik taksi saja ya Adira? Soalnya saya harus ke bandara menjemput Rendra karena katanya dia akan pulang? " Hani bercerita dengan ekspresi wajah yang langsung berubah ceria sangat mengingat putranya yang akan pulang setelah sekian lama tidak pernah pulang dan hari ini tiba-tiba saja Rendra mengirim pesan jika dirinya sedang dalam perjalanan menuju ke bandara dan akan kembali ke Medan.
" Waaah Mas Rendra mau pulang ya Bu? Ibu pasti senang sekali ya? " jawab Adira yang ikut merasakan kebahagiaan Hani.
" Saya sangat bahagia sekali Adira, kalau begitu ayo kita pulang sekarang? " ajak Hani lagi.
Setelah itu Hani dan Adira sama-sama melangkahkan kakinya keluar dari ruang perawatan menuju ke arah luar rumah sakit.
" Kamu hati-hati ya Adira sampaikan salam saya untuk ke dua orangtua kamu? " ucap Hani saat mereka berpisah di depan area rumah sakit.
" Iya Bu, Ibu juga hati-hati ya? Sekali lagi terima kasih atas semua kebaikan Ibu? semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik lagi? " doa Adira dengan tulus lalu setelah itu mereka kembali berpelukan.
" Aamiin ya sudah kamu pergi sana, tapi ingat harus balik lagi oke? " sahut Hani yang kembali mengingatkan sambil membalas pelukan Adira.
" Oke Bu, Adira pulang dulu ya? Assalamualaikum? " Adira berpamitan sambil mencium punggung tangan Hani dengan takzim.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam. " Hani menjawab.
Setelah itu Adira segera masuk ke dalam taksi yang akan membawanya kembali pulang ke kampung, sedangkan Hani segera masuk ke dalam mobilnya lalu melajukan nya menuju ke bandara untuk menjemput Putra semata wayangnya.