Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 77


__ADS_3

Beberapa jam kemudian...


Saat ini taksi yang sedang Adira tumpangi sudah mulai memasuki kawasan desa tempat tinggalnya, Adira melihat ke sekeliling dan ternyata walau pun baru di tinggal beberapa bulan saja sudah banyak perubahan yang terjadi di desanya.


Senyum mulai mengembang saat taksi tersebut mulai melewati jalanan yang hanya cukup jika di lalui oleh satu buah mobil dan satu buah motor saja, rasa rindu sudah semakin membuncah di dadanya karena tidak sabar rasanya untuk segera bertemu dengan dua orang pahlawan di dalam hidupnya yaitu Ayah dan Ibunya. Saat taksi tersebut semakin dekat dengan rumah semakin berdetak dengan kencang pula jantungnya.


" Apa yang harus Adira katakan pada Ibu dan Ayah nanti? Mereka pasti akan sangat hancur mengetahui hal ini, tapi bagaimana pun juga mereka harus tau. " Batin Adira yang berbicara di dalam hati.


Sungguh Adira sedang merasakan yang namanya dilema? Ingin memberitahukan tapi tidak tega dengan raut wajah bersedih Ayah dan Ibunya, tetapi jika tidak memberitahukannya kedua orangtuanya memang harus tau.


Terlalu larut dalam pikirannya Adira sampai tidak sadar jika mereka sudah sampai di depan rumah orangtuanya.


" Kita sudah sampai Mbak. " Bapak supir taksi berbicara membuat Adira tersadar dari lamunannya.


" Astaghfirullah, maaf Pak Adira melamun. " sahut Adira yang terkejut.


Dari dalam mobil Adira dapat melihat kedua orangtuanya yang sedang duduk di teras rumah sambil memperhatikan taksi yang berhenti di depan rumah mereka.


" Bismillahirrahmanirrahim. " Adira mengucap bismillah sebelum turun dari dalam taksi.


.


.


.


Sementara itu Abdullah dan Khadijah sedang duduk santai di depan teras rumah mereka sambil menikmati secangkir teh dan sepiring singkong goreng sebagai temannya.


Mereka berdua mengerutkan dahinya sembari menatap bingung saat ada sebuah taksi yang berhenti tepat di depan rumah mereka.


" Kok tumben ad taksi yang berhenti di depan rumah kita Yah? " Khadijah bertanya sembari terus menatap taksi yang penumpangnya belum turun juga.


" Iya ya Bu apa itu Adira putri kita? " sahut Abdullah yang memang sangat mengharapkan putri satu-satunya pulang mengunjungi mereka.


" Ya gak mungkin Yah, jika Adira pulang dia pasti menghubungi kita dulu. " ujar Khadijah menyampaikan opininya.


Namun tidak lama dari itu pintu belakang taksi terbuka, lalu munculah wajah yang selama beberapa bulan ini sangat mereka rindukan dan selalu mereka doakan di setiap sujudnya. Siapa lagi kalau bukan Adira putri semata wayang mereka.

__ADS_1


" Adira. " Abdullah dan Khadijah menyebut nama putri mereka secara bersama-sama karena jujur saja mereka berdua amat sangat terkejut mendapati putrinya yang tiba-tiba saja pulang tanpa memberi kabar.


Mereka berdua langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan dengan setengah berlari mendekat ke Adira.


" Ibu, Ayah. " Adira juga melangkah mendekat ke orangtuanya.


Saat bertemu orangtuanya, Adira langsung mencium punggung tangannya lalu memeluk tubuh kedua pahlawan dalam hidupnya.


" Assalamualaikum Ayah, Ibu. " Adira menyapa di dalam pelukan kedua orangtuanya.


" Wa'alaikumsalam nak, kamu kenapa pulang ke rumah gak ngasi kabar Ibu dan Ayah sayang? " Khadijah menyahut sambil memeluk erat putri kesayangannya.


" Adira sengaja mau memberi kejutan untuk Ayah dan Ibu. " Adira menjawab sambil melerai pelukan mereka.


" Dan kamu berhasil membuat kami terkejut nak. " Abdullah menimpali sambil tertawa di ikuti Khadijah dan juga Adira.


" Ayah dan Ibu bagaimana kabarnya sehat-sehat saja kan? " Adira bertanya sambil menatap Ayah dan Ibunya secara bergantian dari ujung kepala sampai ujung kaki.


" Seperti yang kamu lihat nak kami baik-baik saja, kalau begitu ayo kita masuk? " Khadijah merangkul tangan putrinya lalu mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah, sementara Abdullah membawakan tas pakaian Adira dan meletakkannya di dalam kamar.


" Belum Bu, Ibu masak apa Adira kangen banget makan masakan Ibu. " Adira menjawab sambil menampilkan senyum bahagia.


" Kebetulan Ibu masak pepes ikan kesukaan kamu, ayo kamu makan yang banyak. " Khadijah menghidangkan masakannya di atas meja makan dan Adira pun langsung menyantap dengan lahap masakan Ibunya yang sudah sangat dia rindukan.


Khadijah dan Abdullah ikut duduk di kursi makan menemani Adira sambil menatap putrinya yang sedang makan dengan lahap.


" Ibu dan Ayah gak ikut makan? " Adira bertanya di sela-sela makannya.


" Kamu saja yang makan Ayah dan Ibu sudah kenyang habis makan singkong goreng tadi. " Abdullah menyahut sambil menuangkan air minum dari dalam teko.


Setelah itu Adira segera menyelesaikan makannya di temani kedua orangtuanya hingga makanan yang ada di atas meja habis separuhnya. Selesai makan mereka melarang Adira untuk melakukan aktivitas apapun, lalu mereka meminta Adira untuk beristirahat.


Sebagai orang tua sudah tentu Khadijah dan Abdullah sedikit banyaknya mengerti dan paham akan kondisi putrinya walaupun Adira belum menceritakan apapun pada kedua orang tuanya.


Khadijah dan Abdullah tahu Putri mereka sedang tidak baik-baik saja dilihat dari sorot matanya yang meredup walaupun bibirnya sedang tersenyum, serta mereka dapat melihat dengan jelas kedua mata putrinya yang sedikit membengkak seperti habis menangis berhari-hari.


.

__ADS_1


.


.


Sementara itu...


Di sebuah bandara Hani sedang menunggu kedatangan putranya di area penjemputan terminal bandara, sudah tidak sabar rasanya Hani ingin segera bertemu dengan putra semata wayangnya setelah hampir satu tahun lebih putranya Rendra tidak pulang ke Medan.


Dari kejauhan Hani melihat seorang lelaki tampan bertubuh tinggi tegap sedang berjalan dengan gagah diantara banyaknya orang yang ingin keluar menghampiri keluarga yang sedang menjemput mereka juga. Hani langsung melambaikan tangan ke arah putranya dan Rendra pun langsung berjalan mendekat ke Mamanya.


" Mama apa kabar? " Rendra langsung memeluk Mamanya meluapkan rasa rindu yang sudah di simpannya selama mereka tidak pernah berjumpa.


" Mama baik, kamu bagaimana kabarnya nak? " Hani menjawab sembari membalas pelukan anaknya.


" Aku juga baik Ma, aku kangen banget sama Mama. " Rendra berkata sambil melerai pelukannya.


Tuuuk...


Hani mengetuk dahi putranya dengan menggunakan kunci mobilnya.


" Aduh kok dahiku di pukul sih Ma? " Rendra berucap sambil mengusap dahinya yang sedikit sakit.


" Kalau kangen Mama kenapa gak pulang? malah betah banget di sana? " sungut Hani yang malah kesal dengan ucapan putranya.


" Hehehe Mama kan tau kalau di sana pekerjaan aku sangat banyak sekali Ma, dan baru sekaranglah aku bisa pulang menjenguk Mamaku yang masih cantik dan awet muda ini. " Rendra tertawa sambil memuji Mamanya agar lupa dan tidak lagi memarahinya.


Tuuuk..


Hani mengetuk dahi putra tampannya sekali lagi lebih keras.


" Aduh kok aku di pukul lagi sih Ma? " Rendra mengaduh sambil mengusap dahinya lagi.


" Jangan kamu pikir Mama gak tau dengan akal bulusmu itu ya Rendra. " sungut Hani yang semakin kesal.


" Hehehe Mama tau aja, hmm ayo kita pulang Ma? Aku capek banget pengen istirahat? ". Rendra mengajak Mamanya untuk pulang ke rumah dan Hani pun langsung mengangguk.


Setelah itu mereka berdua bersama-sama meninggalkan area bandara menuju ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2