Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 78


__ADS_3

Sampai di rumahnya Rendra melihat ke sekeliling rumah yang ternyata masih sama seperti dulu dan sama sekali tidak ada yang berubah.


" Ayo kita masuk memangnya kamu mau tetap berada di luar? " Hani mengajak putranya untuk masuk lalu mereka berdua melangkah bersama-sama masuk ke dalam rumah yang sudah mereka huni selama berpuluh tahun.


" Dari dulu sampai sekarang rumah ini masih tetap sama dan tidak ada yang berubah ya Ma? " Rendra berucap di saat mereka sudah berada di ruang tamu.


" Selama Mama masih ada dan jika bisa sampai selamanya Mama berharap rumah ini akan tetap seperti ini dan jangan sampai ada yang berubah karena rumah ini sangat berarti untuk Mama karena rumah ini banyak sekali kenangannya. " Hani menjawab sambil berjalan.


" Iya Ma insya Allah untuk kedepannya aku akan selalu menjaga rumah ini agar tetap sama seperti dulu dan tidak akan pernah ada yang berubah. " Ucap Rendra berjanji.


" Ya sudah kalau begitu kamu ingin makan atau istirahat dulu? " ujar Hani bertanya.


" Istirahat dulu deh Ma, capek banget aku pengen tidur dulu. " Rendra menjawab sembari menguap.


" Ya udah kalau begitu kamu istirahat dulu sana nanti setelah bangun tidur Mama akan memesankan makanan untuk kita. " tutur Hani menimpali.


" Pesan makanan? bukannya Mama punya asisten rumah tangga ya? " ujar Rendra bertanya sembari menatap wajah mamanya dengan bingung.


" Jangan bingung untuk beberapa hari ini ke depan Adira tidak masuk kerja karena dia sedang masa pemulihan, lagi pula dia sedang ada di kampungnya. " Jawab Hani menjelaskan.


" Masa pemulihan memangnya dia sakit apa Ma? " Rendra menyahuti sembari bertanya lagi.

__ADS_1


Setelah itu Hani pun menceritakan semua yang dialami oleh Adira secara rinci dan Rendra amat sangat terkejut karena di zaman yang seperti ini masih ada Ibu mertua yang kejam dan jahat seperti Nuryati dan juga ada suami yang tidak tahu diri seperti David.


Walaupun Rendra belum pernah bertemu dengan Adira secara langsung, namun melalui Ibunya yang setiap kali mereka berkomunikasi pasti selalu menceritakan tentang Adira, membuat Rendra sedikit banyaknya tahu dan paham jika Adira merupakan seorang wanita yang baik, lemah lembut dan juga sholehah. Pasalnya selama dia hidup baru kali ini dirinya tahu jika Ibunya bisa dekat dengan seseorang padahal yang dia tau Ibunya sangat selektif dalam memilih teman, jangankan teman memilih asisten rumah tangga saja Ibunya benar-benar selektif dan sangat hati-hati.


" Kasihan sekali dia Ma? " ujar Rendra yang merasa Iba dengan nasib Adira.


" Itulah yang Mama herankan kenapa wanita baik seperti dia harus di beri cobaan yang begitu besar dan yang lebih menyedihkan lagi di saat dia yang baru saja kehilangan rahim dan juga anaknya, suaminya malah langsung menceraikannya begitu saja dan besoknya malah sudah menikah lagi, gila gak tuh! " tutur Hani bercerita dengan menggebu-gebu karena sangat kesal dengan perlakuan Nuryati dan juga David.


" Astaga kalau begitu namanya bukan laki-laki Ma tapi banci. " sungut Rendra yang ikut kesal juga.


" Tetapi walau pun cobaan datang secara bertubi-tubi, hebatnya Adira dia tetap sabar dan juga ikhlas menerima semuanya tapi semoga saja setelah ini akan ada pelangi yang sangat indah datang dan menghampiri Adira. " Tutur Hani yang terlihat jelas kekagumannya pada sosok wanita sederhana seperti Adira.


Mendengar semua cerita Mamanya tentang Adira, membuat Rendra amat sangat penasaran dengan sosok Adira yang menurut Mamanya bukan hanya cantik fisiknya namun cantik hatinya juga.


Tidak ingin membuat dirinya semakin penasaran akan sosok Adira, akhirnya Rendra memutuskan untuk langsung mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah.


.


.


.

__ADS_1


Sementara itu di sebuah rumah sederhana Abdullah dan Khadijah sedang menangis tersedu-sedu saat Adira menceritakan semua yang dia alami semenjak dirinya tinggal di rumah sang Ibu mertua.


Hati Abdullah dan Khadijah sangat sakit dan juga teriris perih saat mendengar putrinya di perlakukan dengan sangat kejam seperti itu, pasalnya selama ini mereka selalu memperlakukan putrinya dengan sangat baik, jangankan berbuat kejam berbicara dengan nada tinggi pun tidak pernah mereka lakukan.


Dan yang membuat hati Abdullah dan Khadijah semakin teriris pilu adalah saat mendengar Adira kehilangan calon cucu mereka dan juga rahimnya, apa lagi saat Adira berkata bahwa di langsung di ceraikan saat itu juga membuat hati mereka kian hancur sekaligus merah dengan sikap David yang sangat keterlaluan dan sudah kelewat batas.


" Astaghfirullah nak, kenapa kamu tidak pernah cerita dengan Ayah dan Ibu nak? Kenapa kamu memendamnya sendirian seperti ini? ". Ujar Abdullah yang sudah berderai air mata mendengar cobaan yang datangnya bertubi-tubi pada putri mereka satu-satunya.


" Maafin Adira Yah Bu, tapi sebagai seorang istri Adira hanya ingin menjaga aib rumah tangga Adira sekaligus menutupi aib suami, tapi karena sekarang Adira dan Mas David sudah bercerai jadi sudah tidak ada lagi yang perlu Adira tutup-tutupi. " Adira menjawab dengan senyuman karena setelah berbicara dengan Ayah dan Ibunya Adira merasa semua beban yang ada di dalam dirinya sudah terangkat semua dan dia sudah lebih ikhlas lagi menerima nasibnya.


Mendengar jawaban yang keluar dari bibir mungil putrinya membuat tangis Abdullah dan Khadijah semakin mengalir deras, mereka sangat bersyukur karena sudah di berikan seorang anak yang sangat Sholehah seperti Adira.


Baik Abdullah mau pun Khadijah mereka langsung memeluk tubuh putri mereka satu-satunya dengan sangat erat.


" Sudah Yah Bu jangan menangis lagi, Adira gak apa-apa kok insyaallah Adira sudah ikhlas menerima semuanya. " Adira berbicara dengan lembut sambil mengusap punggung Ayah dan Ibunya.


Abdullah dan Khadijah langsung melerai pelukan mereka lalu menatap wajah putrinya untuk melihat apakah Putri mereka berbicara dengan jujur atau justru berbohong demi menenangkan mereka, namun setelah melihat dan meneliti wajah Adira mereka tidak menemukan raut wajah kebohongan di dalamnya.


" Apakah kamu benar-benar sudah ikhlas nak? bagaimana jika tidak ada laki-laki yang mau menerima kamu? " sebagai seorang ibu sudah tentu Khadijah mengkhawatirkan nasib putrinya yang sudah tidak memiliki rahim itu.


" Insyaallah Adira sudah benar-benar ikhlas Bu, dan tentang semuanya sudah Adira serahkan pada yang di atas, jika Allah SWT masih memberikan Adira jodoh Alhamdulillah tetapi jika Allah SWT tidak memberikan Adira jodoh insyaallah Adira ikhlas, Ibu tenang saja Allah SWT pasti akan memberikan semua yang terbaik dari yang paling baik untuk hambanya yang ikhlas dan sabar Bu. " jawab Adira dengan lancar dan juga tenang.

__ADS_1


__ADS_2