
Di tengah kebingungannya Adira teringat dengan majikannya yang selama ini selalu baik padanya bahkan sejak awal dirinya bekerja di rumah itu.
" Apa Adira minta bantuan Ibu Hani saja ya? " gumam Adira sembari berpikir, karena di sini tidak ada yang Adira kenal selain keluarga mantan suaminya serta Hani yang merupakan majikannya.
Adira masih terus berpikir apakah dirinya harus meminta bantuan Hani atau tidak? ingin rasanya meminta bantuan tapi Adira takut merepotkan. Tetapi jika tidak meminta bantuan Adira sudah tidak memiliki uang lagi barang seribu rupiah pun. Setelah memikirkan matang-matang akhirnya Adira memutuskan untuk meminta bantuan Hani saja dan untuk cara melunasinya biarlah nanti di potong dari gajinya saja.
Setelah menggulir layar ponselnya sebentar, akhirnya Adira menemukan kontak Hani dan Adira pun segera menghubunginya.
Tut...
Tut...
Tut...
Adira terus menunggu hingga pada dering ketiga barulah Hani menjawab panggilan teleponnya.
" Assalamualaikum Adira ada apa? " sapa Hani di sebrang sana dengan suara lembutnya.
" Wa'alaikumsalam Bu Hani, maaf Adira mengganggu malam-malam begini? " sahut Adira yang sebenarnya merasa tidak enak hati dengan Hani, walaupun berulang kali Hani selalu mengatakan jika Adira membutuhkan bantuan apa pun jangan sungkan untuk selalu menghubunginya. Karena dia akan selalu siap sedia membantu Adira apa pun.
" Tidak apa-apa Adira, ada yang bisa saya bantu? " tanya Hani dengan suara yang lembut menenangkan persis seperti Ibunya, Khadijah yang selalu membuat Adira nyaman ketika mengungkapkan unek-unek yang ada di dalam hatinya.
" Eeehhmmm begini Bu sebenarnya Adira menghubungi Ibu karena Adira ingin meminjam uang. " jawab Adira dengan suara yang pelan namun Hani masih dapat mendengarnya dengan sangat jelas.
Di sebuah rumah mewah Hani mengerutkan dahinya saat mendengar jawaban Adira yang mengatakan ingin meminjam uang.
__ADS_1
" Bukannya tadi siang Adira baru saja mengambil uang gajinya? Mengapa sekarang dia malah ingin meminjam uang? apa dia sedang ada masalah? " Batin Hani menerka-nerka.
" Sebelumnya saya minta maaf dulu ya Adira? Bukannya tadi siang kamu baru saja mengambil uang gaji kamu ya? Mengapa sekarang kamu malah ingin meminjam uang? Apa kamu sedang ada masalah? " tanya Hani yang penasaran karena tidak biasanya Adira meminjam uang seperti ini padanya.
Di saat Hani sedang menunggu jawaban yang keluar dari mulut Adira, yang Hani dengar malah suara Isak tangis dari Adira.
" Kamu kenapa Adira? Apa itu suara tangisan kamu? Ada apa sebenarnya Adira? jangan buat saya khawatir?. " tanya Hani beruntun.
Walaupun Adira hanya asisten rumah tangganya, namun kedekatan mereka tidak seperti majikan dan pembantu tapi lebih ke Ibu dan anak yang saling menyayangi. Apalagi semenjak ada Adira, Hani sudah tidak merasa kesepian lagi dan Hani merasa hidupnya jauh lebih berwarna dan jauh lebih indah dari pada saat dahulu saat dia belum bertemu dengan Adira.
" Adira jika kamu membutuhkan seseorang untuk mendengarkan semua beban yang ada di hatimu, saya siap menjadi pendengar yang baik Adira? berbagilah dengan saya jika kamu sudah tak mampu lagi untuk menanggungnya sendirian. " Hani berkata dengan tutur katanya yang lembut dan menenangkan. Dari sambungan telpon tersebut Hani masih dapat mendengar dengan jelas Isak tangis Adira walaupun ponselnya sudah di jauhkan oleh Adira.
" I-ibu bisakah Ibu Hani datang ke rumah sakit? Karena Adira sedang di rawat di sini. " ucap Adira yang akhirnya membuka suara setelah beberapa saat lamanya Hani hanya mendengar suara Isak tangisnya saja.
" Bisakah Ibu datang ke sini? Nanti akan Adira ceritakan semuanya di sini? " jawab Adira dengan suara yang pelan namun syarat akan permohonan di dalamnya.
" Iya Adira, saya akan segera kesana. " ujar Hani yang mulai melangkah meninggalkan ruang keluarga menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.
" Terima kasih Ibu maaf sudah merepotkan. " ucap Adira yang sesekali masih terdengar isakan nya.
" Sama-sama Adira, sudah dulu ya saya mau siap-siap! Assalamualaikum. " tutur Hani yang sedang menaiki anak tangga satu persatu.
" Wa'alaikumsalam. " Jawab Adira yang langsung memutuskan sambungan telponnya.
Setelah telponnya berakhir Hani mempercepat langkah kakinya agar segera sampai di dalam kamarnya. Sampai di sana Hani segera mengganti pakaiannya dan tidak lupa Hani memakai sebuah jaket karena hari sudah malam dan Hani tidak ingin masuk angin.
__ADS_1
Selesai bersiap-siap Hani segera mengambil tas dan kunci mobilnya lalu dengan langkah yang setengah berlari Hani menuju ke garasi untuk mengambil mobilnya
Dengan kecepatan sedang Hani segera menuju ke rumah sakit di mana Adira sedang rawat saat ini untungnya rumah sakit tersebut tidak terlalu jauh dari rumahnya hanya membutuhkan waktu sekita 15 menit, mobil yang Hani kendarai akhirnya tiba di parkiran rumah sakit.
Selesai memarkirkan mobilnya Hani kembali melangkah masuk ke dalam rumah sakit menuju ke ruangan di mana Adira di rawat setelah sebelumnya Hani sudah bertanya pada seorang suster yang sedang melintas.
Setelah sampai di depan ruangan tersebut Hani langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
Ceklek...
Hani membuka pintu tersebut dan terlihatlah Adira yang sedang duduk sendirian di atas ranjang rumah sakit dengan pandangan yang kosong namun bekas air mata masih terlihat jelas di pipi cantiknya. Apa lagi matanya yang membengkak membuat Hani yakin Adira habis menangis dalam waktu yang lama dan itu artinya Adira sedang ada masalah yang besar dan dia sedang tidak baik-baik saja.
" Adira. " panggil Hani yang sudah berdiri di sisi ranjang sambil mengusap punggung tangannya dengan lembut. Dan hal itu membuat Adira terkejut lalu tersadar dari lamunannya.
" Astaghfirullah Ibu Hani maaf Adira melamun sampai gak sadar kalau Ibu sudah datang. " ucap Adira yang langsung mencium punggung tangan Hani seperti biasanya yang selalu Adira lakukan ketika bertemu dengan Hani.
" Silahkan duduk Bu. " ucap Adira lagi yang mempersilahkan Hani untuk duduk sembari memaksakan senyumnya walaupun dari sorot matanya Hani dapat melihat kesedihan dan beban yang teramat besar yang sedang Adira tanggung saat ini.
" Terima kasih Adira! Bagaimana keadaan kamu sekarang? " Hani bertanya sambil menatap wajah Adira yang tersenyum namun juga bersedih di waktu yang bersamaan.
" Alhamdulillah keadaan Adira sudah jauh lebih baik Bu. Terima kasih Ibu sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini malam-malam? " jawab Adira yang balik menatap Hani.
" Sebenarnya kamu sakit apa Adira? Kenapa sampai di rawat di rumah sakit seperti ini? " sahut Hani yang mulai bertanya karena dia sudah sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Adira.
Setelah mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Hani, air mata Adira kembali luruh padahal sebelumnya Adira sudah bertekad bahwa dia tidak akan menangis lagi. Namun apalah daya Adira tidak dapat mengontrol perasaannya untuk saat ini.
__ADS_1