
" Kalau begitu sudah dulu ya Lila, Adira mau membuat surat lamaran pekerjaannya dulu nanti Lila jangan lupa kirimkan nama pabrik beserta alamatnya ya? dan jangan lupa alamat kos-kosan kamu juga biar setelah surat lamarannya selesai bisa langsung Adira antar ke sana. "ucap Adira mengingatkan.
" Oke Adira sip nanti pasti akan langsung aku kirim via pesan singkat ya. " sahut Lila.
" Baik Lila Assalamualaikum. " ucap Adira.
" Wa'alaikumsalam. " jawab Lila dan Adira pun segera memutuskan sambungan teleponnya.
Tidak lama dari itu ponsel yang sedang Adira genggam kembali berbunyi dan masuklah satu notifikasi pesan dari Lila.
Di saat Adira sedang serius membaca pesan yang ditulis oleh Lila, suara Nuryati membuat Adira terkejut hingga ponselnya jatuh ke atas lantai.
" Abis nelpon siapa kamu? " tanya Nuryati tanpa basa-basi.
" Astaghfirullah. " ucap Adira yang terkejut lalu ponselnya pun jatuh ke atas lantai.
" Gitu aja kaget. " cibir Nuryati dengan bibir yang naik sebelah.
" Ibu bikin Adira kaget saja. " ucap Adira sambil mengambil ponsel miliknya yang terjatuh.
" Habis nelpon siapa kamu? jangan coba-coba untuk menduakan David kamu ya? " sahut Nuryati sambil menunjuk wajah Adira.
" Astaga Ibu Adira habis nelpon Lila temen Adira semasa SMA dan Ibu jangan khawatir Adira sama sekali tidak ada niatan untuk menduakan Mas David. " tutur Adira menjelaskan.
" Baguslah, kalau kamu sampai menduakan David itu namanya kamu wanita gak tau diri, udah miskin bertingkah lagi. " Hina Nuryati.
" Astaghfirullah. " Batin Adira.
" Terus kapan kamu mulai kerja? " Nuryati kembali bertanya.
" Belum tahu Bu, ini Adira masih mau buat surat lamaran pekerjaan. Doain Adira ya Bu semoga di terima. " jawab Adira dengan senyuman.
" Ciiih gak penting banget doain kamu. " sambung Nuryati yang segera berlalu meninggalkan Adira.
" Astaghfirullah Ibu-Ibu. " gumam Adira sambil geleng-geleng kepala.
Setelah itu Adira segera masuk ke dalam rumah untuk membuat surat lamaran pekerjaannya. beruntung saat ikut suaminya Adira turut membawa ijazah SMA nya juga.
" Oh iya Adira kan gak punya perlengkapan untuk membuat surat lamaran pekerjaannya, sebaiknya Adira beli dulu aja deh. " ucap Adira lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil dompet miliknya.
Setelah mendapatkan apa yang dicari, Adira keluar dari dalam kamarnya dan berpas-pasan dengan ibu mertuanya.
__ADS_1
" Mau kemana kamu? " tanya Nuryati yang menatap Adira dengan tatapan penuh selidik.
" Adira mau ke tempat fotocopy Bu, Ibu ada yang mau di titip? " tawar Adira.
" Yakin kamu mau ke tempat fotocopy bukan mau bertemu selingkuhan kamu? " ujar Nuryati yang bertanya sekaligus menuduh.
" Astaghfirullah Ibu ada-ada aja, Adira beneran mau ke tempat fotocopy Bu! atau kalau Ibu gak percaya Ibu ikut Adira saja. " jawab Adira.
" Ikut kamu idih males banget, nanti Ibu dikira jalan sama pembantu lagi. " lagi-lagi ucapan Nuryati membuat hati Adira kembali terasa sakit.
" Kalau begitu Adira pergi dulu ya Bu, Assalamualaikum. " pamit Adira yang memilih untuk segera pergi dari pada melanjutkan percakapannya dengan sang ibu mertua yang akan selalu berakhir dengan hatinya yang terasa sakit.
Tanpa menunggu jawaban dari ibu mertuanya Adira segera berlalu dari dalam rumahnya menuju ke tempat fotocopy yang letaknya lumayan jauh.
Sampai di tempat fotocopy Adira segera membeli semua yang dia butuhkan lalu membayar tagihannya.
Setelah itu Adira kembali melangkahkan kakinya secara perlahan menyusuri jalan yang tadi dia lalui.
Tiin..
Tiin..
Tiin..
" Padahal jalan di samping masih lebar kenapa harus klakson segala sih. " gerutu Adira lalu dia berjalan semakin kepinggir.
Tiin..
Tin..
Walaupun Adira sudah berjalan semakin ke pinggir tapi sang pengendara motor masih saja menekan klaksonnya.
Tiin..
Tiin..
Lagi-lagi si pengendara motor menekan klakson motornya.
Adira yang kesal langsung menghentikan langkah kakinya dan bersiap untuk memarahi sang pengendara motor. Namun saat Adira memutar tubuhnya dia langsung mengurungkan niatnya untuk memarahi si pengendara motor yang ternyata adalah Ardi suami dari Sinta.
" Eh Mas Ardi, kirain tadi siapa. " ucap Adira dengan sopan.
__ADS_1
" Dari tadi di klaksoni bukannya berhenti malah jalan terus. " ujar Ardi.
" Maaf mas Ardi? Adira gak tau kalau yang klakson itu Mas Ardi. " sahut Adira yang tidak berani menatap wajah Ardi.
" Ya sudah ayo naik biar Mas antar? " ajak Ardi yang sekarang sudah berada di samping Adira.
" Gak usah Mas Ardi Adira biar jalan saja. " tolak Adira secara halus.
" Yakin gak mau di antar? jalan dari sini sampai ke rumah ibu jauh loh. " ujar Ardi lagi.
" Yakin Mas, Adira jalan kaki saja lagi pula gak enak di lihat tetangga nanti. " sahut Adira dengan sopan.
" Oh ya sudah kalau begitu Mas duluan ya? " pamit Ardi.
" Iya Mas Ardi terimakasih ya atas tawarannya. " jawab Adira dan Ardi pun mengangguk.
Setelah itu Ardi menghidupkan kembali mesin motornya lalu mulai melajukannya semakin menjauh lalu hilang di tikungan.
Selepas Ardi pergi Adira masih saja melangkahkan kakinya secara perlahan hingga tepat azan zuhur berkumandang Adira tiba di rumahnya.
Sampai di rumah Adira segera menuju ke dalam kamarnya lalu meletakkan barang yang tadi dibelinya di atas meja rias. lalu Adira masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu melaksanakan kewajibannya menunaikan ibadah sholat zhuhur sebanyak 4 rakaat.
Baru saja Adira selesai melipat mukena miliknya, tiba-tiba perutnya berbunyi karena jam makan siangnya sudah terlewatkan.
Kruuukk...
Perut Adira berbunyi lumayan keras.
" Aduh Adira laper lagi, sebaiknya Adira makan dulu aja deh setelah itu Adira baru membuat surat lamaran kerjanya. " gumam Adira yang kemudian keluar dari dalam kamarnya menuju ke meja makan.
Sampai di meja makan lagi-lagi Adira harus menelan kekecewaan karena seluruh makanan yang ada di atas meja sudah habis dan tidak ada sedikitpun makanan yang tersisa untuknya.
" Yah makanannya habis lagi. " gumam Adira sambil menatap piring dan mangkok kosong yang ada di atas meja makan.
Lagi-lagi Adira harus membersihkan piring bekas Ibu mertuanya makan tanpa ikut menikmati makanan tersebut.
Saat membuka rice cooker ternyata masih ada sisa nasi putih walaupun hanya sedikit.
" Alhamdulillah masih ada nasi walaupun sedikit. " ucap Adira yang mengambil nasi putih tersebut lalu memindahkannya di atas piring kosong.
Setelah itu Adira menaburkan sedikit garam di atas nasi putihnya lalu menuangkan sedikit minyak sayur bekas Adira menggoreng ikan tadi pagi. Setelah itu Adira mengaduknya menjadi satu lalu mulai memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
" Ternyata rasanya masih sama seperti dulu. " ucap Adira saat ingatan masa lalunya kembali berputar pada saat masa kecilnya yang sering di buatkan nasi putih yang campur sedikit garam dan minyak sayur bekas menggoreng oleh Ibunya ketika mereka sedang tidak memiliki lauk.