
Selesai membersihkan diri David segera mengenakan pakaian yang sebelumnya sudah disiapkan oleh istrinya, lalu mereka pun segera melaksanakan salat tahajud bersama untuk yang pertama kalinya.
Selesai salat tahajud bersama, mereka melanjutkannya dengan membaca ayat suci Alquran sambil menunggu adzan subuh berkumandang. Walaupun belum terlalu lancar saat membaca ayat suci Alquran tetapi David terus berusaha sembari dikoreksi oleh Adira jika ada bacaan sang suami yang salah.
Saat giliran Adira yang membaca ayat suci Alquran, David sangat terkesima dan begitu kagum saat mendengar lantunan ayat suci Alquran yang begitu merdu keluar dari bibir mungil sang istri.
David sampai memejamkan kedua matanya karena terlalu meresapi indahnya dan Merdunya lantunan ayat suci Alquran yang dibacakan oleh sang istri.
" MasyaAllah suara kamu bagus sekali sayang. " Puji David Seraya menatap kagum ke arah istrinya.
" apa Mas menyukainya? " tanya Adira setelah dirinya sudah selesai membaca ayat suci Alquran tersebut.
" Iya Mas sangat menyukainya sayang, suara kamu sangat merdu membuat hati Mas menjadi tenang dan damai saat mendengarnya. "
" Alhamdulillah jika Mas menyukainya . " sahut Adira seraya tersenyum manis.
Tidak lama adzan subuh sudah berkumandang, dengan segera David keluar dari dalam kamar menemui sang ayah mertua yang sudah berada di teras rumah sedang bersiap-siap menuju ke masjid.
" Loh Ayah kira kamu akan salat di rumah bersama Adira? " ucap Abdullah yang terkejut saat melihat sang menantu sudah berdiri di sampingnya.
" Tidak ayah, sebagai seorang laki-laki kan wajib hukumnya untuk menunaikan salat berjamaah di Masjid. " jawab David yang mulai melangkahkan kakinya mengikuti sang ayah mertua.
" Memangnya kamu tidak lelah? " tutur Abdullah yang sengaja menggoda sang menantu.
" Ah ayah ini bisa saja. " sambung David dengan malu-malu.
Sementara itu....
Setelah sang Suami pergi ke masjid Adira segera menunaikan ibadah salat subuh di dalam kamarnya sendirian, selesai salat Adira lanjut membaca ayat suci Alquran lagi sembari menunggu sang suami pulang dari masjid.
" Assalamualaikum. " ucap David saat masuk ke dalam kamar.
" Waalaikumsalam. " jawab Adira yang langsung menyudahi membaca ayat suci Alqurannya dan segera mencium punggung tangan sang suami.
" Sayang ayo kita duduk di sini dulu Ada yang ingin Mas sampaikan. " ucap David sambil menepuk kasur yang sedang dia duduki.
" Memangnya apa yang ingin Mas sampaikan? " ujar Adira yang masih mengenakan mukena.
" Sayang kamu keberatan tidak jika hari ini Kita pindah ke rumah ibu? " David bertanya seraya menatap wajah istrinya.
__ADS_1
" Memangnya harus secepat ini ya Mas? Apa tidak bisa kita tinggal di sini selama satu minggu saja? " pinta Adira dengan wajah yang memohon kepada suaminya.
David yang tidak tega melihat wajah memohon sang istri akhirnya menyetujui permintaan istrinya.
" Baiklah kita akan tinggal di sini selama satu minggu ke depan sayang. " jawaban David membuat wajah Adira langsung tersenyum bahagia.
" Tapi apa Ibu tidak marah Mas, jika kita tinggal di sini selama satu minggu ke depan, sementara semalam saja Ibu langsung meminta Mas untuk pulang hari ini? " ucap Adira dengan senang tapi juga terselip rasa khawatir di dalamnya.
" Tidak apa-apa nanti Mas yang akan menjelaskannya pada ibu. " tutur David menenangkan istrinya.
" Terimakasih banyak ya Mas sudah mau menuruti permintaan Adira? " ujar Adira seraya tersenyum manis.
" Sama-sama sayang, tapi kamu tidak keberatan kan jika minggu depan kita langsung pindah dan tinggal di rumah ibu? "
" Tidak apa-apa Mas Adira tidak keberatan kok. " Adira menjawab sembari terus mempertahankan senyum manisnya.
" Alhamdulillah mas senang mendengarnya sayang. " sahut David Seraya mengusap lembut kepala istrinya dengan sayang.
" Kalau begitu Adira ke belakang dulu ya Mas, mau membantu ibu memasak di dapur? " pamit Adira.
" Iya sayang. " jawab David.
" Ada yang perlu Adira bantu Bu? " ucap Adira di saat dirinya baru saja masuk ke area dapur.
" Eh anak ibu memangnya kamu tidak capek? " sahut Khadijah yang sedang menyiapkan bumbu untuk membuat nasi goreng.
" Lumayan sih Bu, tapi gak apa apa kok nanti juga hilang. " tutur Adira yang mulai mengulek bumbu nasi goreng yang tadi sudah disiapkan oleh ibunya.
" Kalian jadi pindah hari ini nak? " ujar Khadijah yang bertanya.
" Gak jadi Bu, Adira minta sama mas David untuk tinggal di sini dulu selama satu minggu. "
" Memangnya apa tidak jadi masalah dengan ibu mertua kamu nak? " Khadijah bertanya lagi, karena bagaimanapun Khadijah menghawatirkan putrinya saat dirinya sendiri sudah mengetahui bagaimana perangai dari sang besan.
" Ibu tenang saja, nanti mas David yang akan menjelaskannya Bu. " jawab Adira yang sudah selesai mengulek bumbu tersebut.
Khadijah segera memasak nasi goreng untuk mereka sarapan pada pagi hari ini, sedangkan Adira langsung membuat empat cangkir teh panas.
Setelah semuanya sudah selesai Adira dan ibunya segera menyajikannya di atas meja makan, tidak lupa pula terlur mata sapi sebagai pelengkap menu sarapan mereka pada hari ini.
__ADS_1
" Sebaiknya kamu panggil Ayah dan suami kamu ya nak? " titah Khadijah yang sedang menyusun piring di atas meja.
" Iya ibu." sahut Adira yang segera melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar. "
" Mas, Mas David. " Adira memanggil sang suami sembari mencarinya ke seluruh penjuru kamar.
" Kok tidak ada ya? apa Mas David lagi sama Ayah di depan? " gumam Adira yang segera keluar dari dalam kamarnya lalu menuju ke depan rumah.
Dan benar saja suaminya sedang duduk di depan rumah bersama sang ayah yang sedang asik memandikan burung peliharaannya.
" Dicariin dari tadi ternyata ada di sini?" ucap Adira yang sedang berdiri di depan pintu.
" Memangnya kamu mencari siapa? " ujar Abdullah yang bertanya sembari terus memandikan burung kesayangannya.
" Ya cari suami Adira lah yah, masa mencari burung peliharaannya ayah. " jawab Adira.
" Memangnya ada apa kamu mencari Mas sayang? apa kamu butuh sesuatu atau ada hal yang penting? " ucap David beruntun.
" Adira cuma mau ngajakin Mas sarapan saja kok, soalnya ibu udah selesai masak." jawab Adira yang selalu tersenyum ketika berbicara dengan suaminya.
" Cuma David aja nih yang diajakin sarapan, ayah gak diajakin juga? " tutur Abdullah yang sudah selesai memandikan burung peliharaannya.
" Loh ayah mau sarapan juga? kirain cuma mainan sama burung peliharaan sudah membuat ayah kenyang. "
" Dasar kamu ini sama saja dengan ibu, paling tidak suka ayah pelihara burung. " ujar Abdullah yang meletakkan kembali sangkar burungnya di atas teras.
" Ya abisnya burung kecil begitu ayah beli, udah harganya mahal dagingnya gak ada lagi, lebih baik uangnya ayah pakai untuk sedekah dari pada pelihara burung." tutur Adira.
" Ya namanya juga hobi sayang ya maklum saja lah." timpal David yang membela sang ayah mertua.
" Akhirnya ada juga yang sepemikiran dengan ayah." ucap Abdullah dengan senang.
" Astaghfirullah yang disuruh manggil malah ikut ngerumpi di sini." ucap Khadijah yang menyusul ke teras rumah karena sudah terlalu lama menunggu tetapi belum ada satu pun yang datang ke meja makan.
" Hehehe maaf Bu, ini nih gara-gara membahas burung peliharaannya ayah. " jawab Adira.
" Burung lagi, burung lagi lama-lama ibu goreng juga ni burung ayah. " sungut Khadijah.
" Ya jangan dong Bu susah payah Ayah merawatnya malah mau ibu goreng. " ucap Abdullah yang tidak setuju dengan perkataan istrinya.
__ADS_1
" Ah sudahlah lebih baik sekarang kita sarapan saja membahas burung peliharaan ayah tidak akan pernah ada habisnya. " sahut Khadijah yang kembali masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh Adira, David, dan Abdullah di belakangnya.