
David langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat dan tentu saja Adira membalas pelukan suaminya. Dalam dekapan hangat sang suami Adira menumpahkan seluruh air matanya.
Adira menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya sambil terus menangis sesegukan. David belum mengatakan satu patah kata pun karena dia ingin membiarkan istrinya menangis hingga puas sambil tangannya terus mengelus rambut panjang milik istrinya.
Setelah tangis Adira mereda barulah David melerai pelukan mereka lalu memegang kedua tangan istrinya dengan lembut.
" Sayang maafkan Mas yang sudah menyakiti kamu? Mas menyesal karena mas sudah mengingkari janji Mas dengan ayah, padahal Mas sudah berjanji dengan ayah jika mas tidak akan pernah menyakiti kamu tapi nyatanya Mas bukan hanya menyakiti kamu tapi mas juga sudah membuat kamu menangis, jujur Mas bingung Mas harus percaya dengan siapa? Karena Apa yang kamu katakan dengan apa yang Ibu jelaskan itu sangat berbanding terbalik sayang. Mas bingung harus mempercayai siapa di satu sisi Mas sangat percaya jika Ibu tidak mungkin berbohong tapi di sisi lain Mas juga percaya Jika kamu tidak mungkin membohongi Mas. " tutur David sambil tangan kanannya mengelus pipi lembut milik istrinya.
" Adira paham dengan apa yang Mas rasakan tapi haruskah Mas berubah sikap menjadi seperti itu? melihat sikap Mas malam ini sudah menunjukkan jika Mas lebih mempercayai Ibu dibanding Adira. " sahut Adira yang memalingkan wajahnya ke arah kanan.
" Jangan palingkan wajahmu kearah yang lain sayang, tatap Mas dan lihat mata mas sayang. " ujar David yang memegang lembut dagu istrinya lalu mengarahkan ke wajahnya. Dan mau tidak mau Adira menatap wajah suaminya.
" Sayang. " memegang David memegang kembali kedua tangan istrinya lalu menciumnya dengan mesra.
" Mas mohon pengertian dari kamu sayang, Kamu tahu kan jika Mas anak laki-laki ibu satu-satunya. Semenjak Ayah pergi tanggung jawab ibu berada di pundak Mas, dan lagi pulang surganya Mas ada di bawah telapak Kaki Ibu jadi sudah seharusnya Mas berbakti pada ibu dan Mas juga harus selalu percaya dengan kata-kata yang Ibu ucapkan karena mas sama sekali tidak ingin membuat Ibu bersedih. " tutur David menjelaskan dengan panjang lebar.
" Ya sudah jika memang itu alasan Mas InsyaAllah Adira akan mengerti . " ucap Adira yang kembali menarik garis senyumnya.
" Terimakasih sayang, Mas sangat beruntung memiliki istri seperti kamu. " ujar David yang kembali mencium kedua tangan istrinya dengan mesra.
" Kalau begitu Ayo kita salat sekarang Sayang? mumpung masih ada waktu. " ajak David yang menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. "
Setelah itu Mereka pun melaksanakan rutinitas mereka setiap hari . Selesai sholat subuh Adira berpamitan pada suaminya untuk berbelanja di kedai (warung) Susi.
" Mas Adira pamit ke kedai (warung) Mbak Susi dulu ya? " ucap Adira meminta izin suaminya.
" Ayo Mas temani sayang . " ujar David mulai yang mulai berdiri tegak.
" Mas yakin mau nemenin Adira berbelanja? Memangnya mas tidak ingin istirahat saja? pasti tubuh Mas terasa sakit karena semalaman tidur di atas sofa yang sempit? " tutur Adira.
__ADS_1
" Tidak apa-apa sayang Mas yakin ingin menemani kamu, lagi pula selesai berbelanja kan Mas masih memiliki waktu untuk tidur walaupun hanya sebentar. " ujar David yang mulai menggandeng tangan istrinya.
" Ya sudah, kalau begitu ayo kita berangkat sekarang Mas? " sahut Adira.
Mereka berdua secara bersama-sama keluar dari dalam rumah menuju ke kedai (warung) Susi sambil terus bergandengan tangan.
" Waduh pengantin baru pegangan terus seperti mau menyeberang saja. " ucap Susi yang sengaja menggoda David dan Adira.
" Aah Mbak Susi ini bisa saja. " sahut David yang mulai masuk ke dalam kedai (warung) Susi bersama istrinya.
" Ayo Sayang kamu buruan belanjanya Mas akan menunggumu di luar. " ucap David yang melepaskan pegangan tangannya lalu keluar dari dalam kedai (warung) Susi.
Setelah suaminya keluar Adira segera memilih bahan masakan yang akan dia olah menjadi makanan yang enak untuk hari ini.
" Adira, Mbak lihat kok kedua matamu bengkak apa kamu habis menangis. " Susi bertanya karena penasaran.
Dari luar kedai (warung) David yang mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Susi menjadi deg-degan karena David takut Adira akan menceritakan yang sejujurnya pada Susi.
" Kalau Mbak boleh tahu memangnya kamu menangis karena apa Adira? " Susi kembali bertanya, karena Susi tipe orang yang selalu penasaran dengan urusan orang lain.
Di luar kedai (warung) Ingin rasanya David langsung masuk ke dalam dan menarik tangan istrinya keluar agar tidak berbicara yang sejujurnya. Namun saat mendengar ucapan yang keluar dari bibir mungil istrinya yang selanjutnya membuat David menjadi mengurungkan niatnya untuk menarik tangan istrinya keluar dari kedai (warung).
" Adira menangis karena Adira rindu dengan ibu dan ayah mbak, maklum sejak kecil Adira tidak pernah tinggal berjauhan dengan ibu dan ayah jadi ketika sudah menikah dan ikut dengan suami Adira jadi sering menangis karena menahan rindu ingin bertemu ibu dan ayah. " Adira menjawab yang tidak sepenuhnya berbohong dan juga tidak sepenuhnya jujur juga.
Karena memang sebenarnya dari dalam hatinya Adira memang selalu merindukan Ayah dan Ibunya.
" Oh begitu kirain ada masalah yang serius. Jadi ada lagi yang ingin ditambah Adira? " tanya Susi di saat Adira sudah selesai memilih bahan masakan yang dia inginkan.
" Sudah Mbak Susi itu saja. " jawab Adira.
__ADS_1
Susi pun langsung menghitung total belanjaan Adira pagi ini.
" Semuanya jadi Rp45.000 Adira. " ucap Susi sambil memasukkan seluruh belanjaan Adira ke dalam sebuah plastik kresek yang besar.
Adira segera membayar total belanjaannya dan memberikan uang pecahan Rp50.000 kepada Susi .
" Terimakasih ya Adira sudah belanja di kedai (warung) Mbak. ? " ucap Susi sambil memberikan uang kembalian senilai Rp5.000 kepada Adira.
" Sama-sama Mbak Susi kalau begitu Adira pulang dulu ya Assalamualaikum. " sahut Adira yang menerima uang kembalian dari Susi lalu keluar dari dalam kedai suci.
" Sudah selesai belanjanya sayang? " ujar David bertanya.
" Sudah selesai Mas, Ayo kita pulang? " ajak Adira.
David segera mengambil alih kantung belanjaan yang dibawa oleh istrinya, lalu David menggandeng tangan Adira dan mereka segera berlalu dari depan kedai Susi menuju ke rumahnya.
" Mas pikir tadi kamu akan mengatakan yang sejujurnya pada Mbak Susi sayang? " ujar David.
" Ya enggak mungkin lah Mas, apapun yang terjadi di dalam rumah tangga kita tidak sepantasnya ada orang lain yang tahu dan biarlah masalah itu hanya kita berdua dan Allah SWT yang tahu, bahkan orang tua kita pun tidak seharusnya mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah tangga kita. " ucap Adira
" MasyaAllah Mas semakin bangga memiliki istri seperti kamu Sayang . " sahut David yang melepaskan pegangan tangannya lalu merangkul pinggang istrinya.
" Jangan seperti ini Mas malu diliatin orang. " ucap Adira yang berbicara dengan suara yang pelan.
" Ngapain malu sayang kita sudah sah juga. " ujar David yang tetap merangkul pinggang istrinya.
" Tapi mas. " sahut Adira tapi ucapannya sudah terlebih dahulu dipotong oleh suaminya.
" Sudah jangan hiraukan orang lain sayang, anggap saja dunia ini milik kita berdua sedangkan yang lainnya hanya mengontrak. " tutur David dengan mudahnya.
__ADS_1
Akhirnya Adira hanya bisa diam saja saat sang suami tetap merangkul pinggangnya hingga mereka tiba di dalam rumah. "