
Saat Laila dan Adira berputar balik, dari kejauhan mereka melihat Sinta dengan perut buncitnya sedang berdiri di pinggir jalan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
" Kirain kalian berdua mau jalan terus sampai simpang depan sana. " ucap Sinta yang sengaja menyindir Laila dan juga Adira ketika mereka sudah tiba di hadapan Sinta.
" Hehehe maaf Mbak Sinta kita berdua kelewatan. " ucap Adira Sambil tertawa cengengesan.
" Kalau kamu yang kelewatan Mbak memakluminya Adira, tapi kamu jalan sama Bulek Laila masak Kelewatan juga. " sahut Sinta sambil geleng-geleng kepala.
" Ya maklum saja namanya juga perempuan terlalu asik bercerita sampai nggak sadar udah kelewatan . " Timpal Laila yang ikut tertawa cengengesan juga.
" Huuh gini nih kalau punya Bulek hobi bergosip. " ujar Sinta sambil membuang nafasnya secara kasar.
" Ya udah sih yang penting kan kami berdua sudah sampai di sini, terus kami berdua nggak dipersilakan masuk gitu. " tutur Laila yang menyindir Sinta.
" Tuh kan gara-gara Bulek sih aku jadi lupa. Ayo ayo kita masuk ke dalam kebetulan Mas Ardi juga baru pulang, sekalian Mbak akan kenalkan kamu dengan Mas Ardi Adira. " ucap Shinta yang menggandeng tangan Adira.
" Pilih kasih kamu Sinta masa Adira saja yang digandeng Bulek nggak ikut di gandeng juga? " ujar Laila yang berpura-pura cemberut.
" Jiaaah udah tua juga masih aja pengen digandeng, makanya Bulek cepetan cari Palek yang baru dong biar ada gandengannya. " sahut Sinta menggoda Laila.
" Kamu kan tahu sampai kapanpun Palek Joko mu tak akan pernah tergantikan oleh siapapun , hanya dia satu-satunya yang akan menjadi suami bulek. " tutur Laila.
" Iya deh, bulek ku yang satu ini memang wanita yang paling setia. " Sinta menggandeng tangan Adira dan juga Laila, lalu mereka bertiga bersama-sama masuk ke dalam rumah sederhana yang dihuni oleh Sinta dan suaminya Ardi.
" Assalamualaikum. " ucap Laila dan juga Adira di saat mereka mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sederhana Sinta.
" Waalaikumsalam. " sahut Sinta sang pemilik rumah.
" Adira dan Bulek Laila tunggu saja di ruang tamu , Aku akan segera menyiapkan makanan enak yang sudah aku masak sejak tadi pagi. " ucap Shinta yang segera berlalu dari ruang tamu menuju ke dapur kecil miliknya.
" Bumil tunggu. " ucap Adira memanggil kakak iparnya.
" Ada apa calon bumil. " jawab Sinta yang menghentikan langkah kakinya.
" Biar Adira bantu ya mbak, ibu hamil nggak boleh terlalu capek loh . " pinta Adira.
__ADS_1
" Enggak usah, kalian berdua kan tamu, sudah seharusnya Mbak yang melayani kalian. " ujar Sinta menolak secara halus.
" Pokoknya Adira memaksa ingin bantu. " sahut Adira yang menggandeng tangan Sinta.
" Ya udah deh iya boleh , dasar pemaksaan. " ucap Sinta sambil tersenyum
Adira dan Sinta berjalan sambil bergandengan tangan menuju ke dapur.
" Aduh mie ayam. " ucap Adira tiba-tiba saat melihat meja dapur Sinta yang sudah tersedia mie ayam beserta berbagai macam pelengkapnya.
" Memangnya kenapa Adira? Apa kamu tidak menyukai mie ayam ? " sahut Sinta.
" Bukan nggak suka mbak tapi Mie ayam ini malah makanan favorit Adira dan jika sudah makan mie ayam Adira pasti tidak akan bisa berhenti makan sebelum kenyang. " tutur Adira menjelaskan.
" Astaga Adira, Mbak Kirain kamu nggak suka. Khusus untuk hari ini kamu bebas makan mie ayam ini sepuasnya bahkan Jika perlu kamu habiskan saja Mie ayam ini semua. " ujar Sinta.
" Ah Mbak Sinta, kalau menghabiskan semuanya, Adira mana mungkin sanggup bisa meledak perut Adira nanti. " sahur Adira Sambil tertawa kecil.
" Ya jangan sampai meledak dong, nanti Kasihan Adik Mbak masak baru menikah sudah jadi Duda. " ucap Shinta yang ikut tertawa kecil.
" Sudahlah, ayah Ayo kita bawa semuanya menuju ke ruang tamu supaya kita bisa segera makan bersama-sama. " Titah Sinta.
" Oke Mbak Sinta. " jawab Adira dengan patuh.
Adira segera membantu Sinta membawakan mie ayam beserta pelengkapnya menuju ke ruang tamu di mana Laila sedang menunggu dengan santai.
" Waduh mie ayam, bisa makin tambah mekar ini badan. " ucap Laila setelah melihat mie ayam yang sedang Adira Letakkan di atas karpet, Laila duduk di atas karpet karena ruang tamu Sinta belum memiliki sofa.
" Iya aku emang sengaja masak mie ayam supaya kita bertiga bisa mekar sama-sama dan jangan hanya aku sendirian saja yang mekar. " Timpal Sinta sambil meletakkan satu teko teh manis dingin.
" Pas Mantap, makan mie ayam minumnya teh manis dingin. " sahut Laila yang terlihat sudah sangat lapar.
Setelah semuanya sudah tersedia di ruang tamu, lantas Shinta permisi untuk memanggil suaminya yang sedang berada di dalam kamar.
" Kalau begitu aku panggilkan Mas Ardi dulu ya? " pamit Sinta yang mendapat anggukan dari Laila dan juga Adira.
__ADS_1
Sinta segera berlalu dari ruang tamu menuju ke dalam kamarnya. Sampai di dalam kamar Sinta melihat suaminya yang sedang tertidur pulas, dengan perlahan-lahan Sinta mendekati suaminya lalu menggoyang lembut bahunya.
" Mas, Mas Ardi ayo bangun mas di luar ada Bulek Laila dan juga Adira. " ucap Shinta yang membangunkan suaminya.
" Mas Ardi ayo bangun kita makan mie ayam sama-sama. " ucap Sinta yang kembali menggoyang bahu suaminya lebih keras lagi.
Tidak lama dari itu Sinta melihat suaminya yang mulai menggeliat lalu membuka kedua matanya.
" Mereka sudah datang sayang? " tanya Ardi sambil meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku.
" Iya Mas mereka sudah datang, sebaiknya sekarang Mas buruan cuci muka Aku tunggu di ruang tamu ya. " jawab Sinta sambil berlalu dari dalam kamarnya menuju ke ruang tamu.
" Ardi mana Sinta? " ujar Laila bertanya.
" Mas Aldi lagi cuci muka Bulek, sebentar lagi juga akan menyusul kemari. " jawab Sinta.
Dan benar saja tidak lama dari itu Ardi keluar dari dalam kamar menuju ke ruang tamu di mana sang istri dan yang lainnya berada.
" Maaf ya sudah membuat kalian menunggu lama? " ucap Ardi yang mendudukkan dirinya di samping Sinta dan dihadapan Laila dan juga Adira.
" Iya tidak apa-apa Ardi, kenalin ini yang namanya Adira istrinya David. " sahut Laila sambil mengenalkan Adira.
" Hai Adira Aku Ardi suaminya Sinta. " Ardi ucap Ardi yang menjulurkan tangan ingin bersalaman dengan Adira.
" Hai Mas Ardi saya Adira. " jawab Adira sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Melihat hal itu Ardi kembali menarik tangannya.
" Oh maaf maaf Adira saya tidak tahu. " ucap Ardi yang merasa tidak enak.
" Iya Mas Ardi tidak apa-apa kok. " jawab Adira yang menjadi sedikit canggung.
" Ya sudah kalau begitu ayo kita mulai makannya Bulek sudah lapar nih. " ucap Laila yang memecah kecanggungan di antara Ardi dan Adira.
" Ayo ayo kita mulai makan. " Timpal Sinta yang mulai mengambilkan mie ayam untuk suaminya.
__ADS_1
Setelah itu mereka makan mie ayam bersama-sama di rumah sederhana milik Sinta dan juga Ardi sambil di selingi dengan obrolan ringan agar semakin akrab.