Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 75


__ADS_3

" iiiiiihhh Auraaaaa. " Nuryati berteriak hingga suaranya naik 5 oktaf memenuhi seluruh isi ruang kamar tersebut.


Aura yang mendengar suara teriakan Nuryati hanya diam saja dan tetap melangkah menuju keluar rumah lalu pergi dengan mengendarai mobil miliknya.


" Sial banget sih, mimpi apa aku semalam bisa punya suami dan Ibu mertua seperti mereka, jika bukan karena menutupi aib kehamilanku ini tidak akan sudi aku mempunyai suami dan Ibu mertua yang gila seperti mereka. " gerutu Aura sembari terus memacu laju roda empatnya menuju ke rumah kedua orangtuanya.


" Mereka pikir mereka bisa menindas aku sama seperti mereka menindas Adira, oh tentu saja tidak karena sampai kapanpun seorang Aura tidak akan pernah tunduk kepada siapapun. " ucap Aura dengan wajah yang memerah menahan emosi.


Setelah itu Aura semakin menambah laju kecepatan mobilnya hingga 30 menit kemudian dirinya tiba di rumah kedua orangtuanya. Aura langsung keluar dari dalam mobilnya lalu melangkah menuju ke pintu rumahnya.


Brraaakk...


Aura membuka pintu rumahnya dengan sangat keras hingga membuat Yuli yang sedang duduk di ruang tamu langsung terlonjak kaget.


" Astaga Aura kalau buka pintu itu pelan-pelan dong nak, bisa rubuh rumah kita kalau begitu caranya. " omel Yuli sambil meletakkan majalah yang sedang dibacanya.


" Kalau Ibu mau marah-marah sebaiknya ditunda dulu, karena saat ini aku sedang kesal Bu. " sahut Aura yang sedang menekukkan wajahnya sambil berjalan mendekat ke arah Ibunya.


" Kamu ini bagaimana sih? pengantin baru bukannya happy malah mukanya ditekuk gitu? " Yuli bertanya sambil terus menatap wajah putrinya yang sangat tidak sedap dipandang.


" Huuuh bagaimana aku nggak kesel Bu masa pagi-pagi David udah bangunin aku terus nyuruh aku masak, belum lagi Ibunya yang cerewetnya minta ampun itu mereka pikir mereka bisa menindas aku sama seperti Adira yang bodoh itu. " Aura menjawab sembari menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


" Mereka benar-benar keterlaluan. " jawab Yuli yang ikut geram saat mendengar cerita dari Putri semata wayangnya.


" Kalau bukan karena kehamilanku ini, aku nggak akan pernah mau menikah sama David apalagi mempunyai mertua seperti Tante Yati itu yang cerewetnya luar biasa itu. " Sungut Aura yang benar-benar kesal.


" Ini semua terjadi juga karena kesalahanmu sendiri Aura, andai saja kamu tidak salah memilih laki-laki dan andai saja kamu bisa lebih menjaga diri mungkin kamu tidak akan hamil diluar nikah seperti ini. " ucap Yuli yang malah menyalahkan putrinya


" Ah ibu ini bukannya membela aku malah menyalahkan aku seperti ini, udahlah lebih baik aku tidur saja. " kesal Aura yang segera berlalu meninggalkan ruang tamu menuju ke kamarnya.


" Kamu mau ke mana Aura, tunggu Ibu belum selesai bicara. " Yuli memanggil putrinya namun Aura tetap menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Akhirnya di hari itu Aura tetap berada di rumah Ibunya sampai sore menjelang namun dia sama sekali tidak berkeinginan untuk kembali ke rumah Ibu mertuanya.


" Kamu nggak pulang Aura? " Yuli bertanya di saat mereka sedang duduk bersama di teras rumah sambil menyantap cake brownies kesukaan Aura.


Aura yang ingin memasukkan sepotong brownies ke dalam mulutnya mendadak dia urungkan lalu menatap wajah Ibunya.


" Ibu kok gitu tanyanya? memangnya Ibu udah nggak suka aku ada di sini? " ucap Aura yang terlihat sangat kesal.


" Bukan begitu Aura, Ibu bukan tidak suka kamu berada di sini tapi kamu kan sudah menikah, sudah punya suami dan ini juga sudah sore, nanti kalau David mencari-cari kamu bagaimana? " sahut Yuli menjelaskan agar putrinya tidak salah paham.


" Udah deh Bu aku nggak peduli juga mau nyariin, mau marah, atau mau ngambek sekalipun aku nggak akan peduli Ibu. " ujar Aura yang lanjut memakan cake brownies kesukaannya.


" Ya sudahlah terserah kamu saja Aura. " tutur Yuli yang hanya bisa pasrah menghadapi sikap keras kepala putrinya.


.


.


.


Saat pulang ke rumah David dikejutkan dengan keadaan rumah yang luar biasa berantakannya sama seperti kapal pecah.


" Astaga ini rumah apa tempat pembuangan sampah sih. " ucap David saat kakinya melangkah masuk lalu menuju ke dapur.


" Ya Allah Ibu sama Aura ke mana sih? Apa mereka tidak membersihkan rumah? " ucap David yang benar-benar terkejut saat melihat keadaan dapur yang lebih berantakan lagi.


" Ibu, Aura kalian di mana? " David berlalu dari Area dapur mencari Ibu dan juga istrinya yang belum kelihatan batang hidungnya.


David mencari Ibu dan juga istrinya ke seluruh penjuru rumah namun belum juga dia temukan. David terus mencari hingga dia tiba di teras rumah dan David baru menyadari jika mobil istrinya sudah tidak berada di tempatnya.


" Pantas dicari tidak ada ternyata pergi. " ucap David yang memilih duduk di teras rumah sambil menunggu Ibu dan juga istrinya.

__ADS_1


Tidak lama dari itu David melihat Ibunya yang sedang berjalan sendirian sambil membawa kantong kresek yang dapat David tebak jika itu berisi makanan.


" Kamu sudah pulang David? " Nuryati bertanya setelah dirinya sampai di hadapan putranya.


" Ibu dari mana saja? terus Aura di mana kenapa Ibu sendirian? " bukannya menjawab pertanyaan Ibunya, David justru melontarkan pertanyaan yang beruntun.


" Mana Ibu tau istri kamu dimana? Dari pagi dia pergi dan belum kembali. " Nuryati menjawab sambil mendudukkan dirinya di samping David.


" Ibu gimana sih? Sebelum menikah aja Ibu lengket banget sama Aura, giliran sekarang udah seperti malah jadi musuh. " ujar David bertanya.


" Iya itukan dulu sebelum Ibu tau sifat aslinya seperti apa? Sekarang ibu sangat menyesal sudah menjadikan dia menantu Ibu. " jawab Nuryati dengan ekspresi wajah yang kesal saat mengingat sikap Aura yang sangat kurang ajar dan juga tidak sopan.


" Tapi bukannya dia itu menantu impian Ibu. " sindir David dengan telak.


" Sudah lah Ibu mau makan laper. " Nuryati lebih memilih pergi dari pada melanjutkan percakapan yang akan membuatnya tersudut.


Setelah Nuryati pergi, Dengan terpaksa David harus menjemput istrinya yang sangat David yakini jika dia sedang berada di rumah kedua orangtuanya. Dan tepat dengan dugaannya saat dirinya sampai istrinya sedang duduk santai di teras rumah bersama Ibunya.


" Assalamualaikum. " ucap David saat kakinya mulai menginjak teras rumah mertuanya.


" Wa'alaikumsalam. " jawab Yuli namun Aura hanya diam saja dan tetap fokus dengan cake brownies nya.


" Mau apa kamu ke sini? " Aura bertanya dengan ketus sambil menunjukkan wajah yang tidak bersahabat.


" Kok ngapain? Aku ke sini mau jemput kamu Aura? " David menjawab sambil berdiri di hadapan istrinya.


" Aku gak mau pulang kalau kamu dan Ibumu masih terus nyuruh aku untuk beberes dan memasak. " sahut Aura yang membiarkan suaminya tetap berdiri tanpa mempersilahkannya untuk duduk.


" Astaga Aura beberes rumah dan memasak itu kan memang tugasnya seorang istri, jadi salahnya di mana coba kalau aku dan Ibuku meminta kamu untuk melakukannya. " ujar David yang tetap terus berdiri karena baik Aura maupun Ibunya sama sekali tidak mempersilahkannya untuk duduk.


" Kamu jangan kurang ajar ya David, Aura itu istri kamu bukan pembantu, jadi kamu dan Ibumu jangan pernah semena-mena dengan Aura. " timpal Yuli dengan wajah yang sama-sama tidak bersahabat.

__ADS_1


__ADS_2