
Saat tiba waktunya makan malam, suami dan ibu mertuanya sudah duduk di meja makan sementara Adira masih sibuk menyiapkan piring sendok dan juga gelas untuk mereka makan malam.
Saat Adira ingin menyendokkan nasi untuk suaminya lagi-lagi tangannya ditepis oleh sang ibu mertua.
" Mulai hari ini jika kita sedang makan bersama biar Ibu saja yang menyendokkan nasi untuk David karena Ibu yang lebih berhak daripada kamu. " ucap Nuryati dengan nada suara yang terdengar biasa saja namun tersirat rasa tidak suka yang dipancarkan lewat kedua matanya.
" Tapi Bu, Adira kan istri Mas David jadi sudah seharusnya Adiralah yang melayani Mas David. " sahut Adira.
" Kamu memang istrinya tapi saya ibunya jadi ibu yang lebih berhak daripada kamu. " ujar Nuryati lagi.
" Sudah sudah kita di sini mau makan malam bukan mau berdebat, sudahlah Adira biar Ibu saja yang menyiapkan makan untuk Mas. " tutur David menengahi.
" iya Mas. " jawab Adira dengan patuh walaupun dengan terpaksa.
Seperti hari sebelumnya Nuryati hanya menyendokkan nasi untuk David dan untuk dirinya sendiri sedangkan Adira sama sekali tidak dihiraukannya. David yang mengetahui hal itu hanya diam saja dan menganggap itu adalah hal yang biasa.
Sepanjang makan malam Nuryati terus mengajak David berbicara sementara Adira hanya bisa menjadi pendengar yang baik tanpa bisa menyela karena Nuryati tidak pernah memberikan waktu bagi Adira untuk berbicara.
" Oh iya a David bagaimana jika jatah uang belanja bulanan untuk rumah ini Ibu saja yang pegang? karena jika Adira yang pegang nanti uangnya hilang Ibu lagi yang dituduh. " ucap Nuryati dengan lembut namun menyindir Adira secara tidak langsung.
" Kalau aku sih tidak masalah mau Ibu ataupun Adira yang memegang, tapi jika ibu yang ingin mengelola uang bulanan sebaiknya Ibu bicarakan saja berdua dengan Adira karena kalian berdua lah yang mengerti tugasku kan hanya bekerja dan mencari uang lalu kalian berdua yang mengelolanya. " tutur David.
" Bagaimana Adira? kamu tidak keberatan kan jika ibu yang mengelola uang bulanan rumah ini? " ujar Nuryati yang kali ini berbicara lembut dengan Adira.
" Adira sama sekali tidak keberatan kok Bu. " jawab Adira seraya tersenyum.
" Baguslah kalau begitu Ibu minta uangnya David? " pinta Nuryati langsung.
" Uangnya tidak ada padaku Bu, uang bulanannya sudah aku berikan pada Adira. " jawab David.
__ADS_1
" Cepat ambil uangnya Adira berikan pada ibu. " ucap Nuryati dengan semangat.
" Iya Bu. " jawab Adira seraya berlalu dari ruang makan menuju ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar Adira segera mengambil uang senilai Rp 2.000.000 yang dia simpan di dalam laci lemari, setelah mengambil uang itu Adira langsung keluar dari dalam kamarnya menuju ke meja makan lagi.
" Ini uangnya Bu. " ucap Adira sambil memberikan uang yang sudah diambilnya dari dalam kamar.
Nuryati menerima uang itu dengan senyum yang mengembang lebar, walaupun Nuryati tersenyum tetapi Nuryati sama sekali tidak mengucapkan terima kasih pada Adira dan Adira pun tidak mempermasalahkan hal itu.
" Kalau begitu nanti sebelum tidur Ibu jangan lupa memberi Adira uang ya! " ucap David.
" Memberi Adera uang untuk apa? "sahut Nuryati yang terdengar keberatan.
" Kok untuk apa sih Bu, ya untuk belanja dong Adira kan harus belanja pagi-pagi setelah Subuh sementara di jam segitu ibu kan masih tidur, nggak mungkin dong saat mau belanja Adira harus membangunkan Ibu dulu. " tutur David menjelaskan dengan lembut.
" Oh Ibu kira untuk apa, ya sudah nanti sebelum tidur Ibu akan memberikan uang belanja untuk Adira besok. " Sambung Nuryati.
Selesai mencuci piring Adira membuatkan dua cangkir teh untuk suami dan ibu mertuanya lalu meletakkannya di atas nampan dan membawanya menuju ke ruang keluarga.
" Silakan diminum tehnya Ibu, Mas David. " Ucap Adira sambil meletakkan cangkir teh tersebut di atas meja.
" Terimakasih sayang. " Sahut David lalu menyeruput teh buatan istrinya.
" Kamu kenapa membuatkan ibu teh? memangnya ibu ada meminta? " ucap Nuryati yang terlihat tidak suka.
" Maaf Bu, Ibu memang tidak ada meminta, tetapi Adira membuatkan Ibu teh atas inisiatif Adira sendiri. " jawab Adira dengan lembut.
" Kamu ini gimana sih! kamu mau buat ibu terkena sakit gula? Ibu baru selesai makan masa langsung kamu kasih teh manis, lain kali kalau Ibu tidak minta jangan sok-sokan inisiatif membuatkan. " Tutur Nuryati dengan nada suara yang sedikit membentak.
__ADS_1
" Iya Bu, maafin Adira ya lain kali Adira tidak akan mengulanginya lagi. " Sahut Adira yang mengambil lagi cangkir teh tersebut lalu ingin membawanya ke dapur.
" Mau kamu bawa ke mana itu tehnya? " Ujar Nuryati bertanya.
" Mau Adira bawa ke belakang Bu, kan tadi ibu tidak mau. " Tutur Adira menjelaskan.
" Siapa bilang Ibu tidak mau, bawa ke sini tehnya! " Titah Nuryati dengan ketus.
Adira hanya bisa mengucapkan istighfar di dalam hati dan terus berdoa semoga Allah SWT memberikannya kesabaran seluas samudra.
Dengan patuh Adira meletakkan kembali cangkir teh tersebut ke hadapan Nuryati. Baru saja Adira ingin mendudukkan dirinya di samping sang suami, Nuryati langsung berpindah menjadi duduk di antara Adira dan David.
" David kamu pindah duduk di sana saja ya? " Pinta Nuryati menunjuk sofa single yang ada di ruangan itu.
" Memangnya kenapa aku harus pindah Bu? " ujar David bertanya.
" Kaki Ibu rasanya sakit sekali, tadi pagi ibu mencuci pakaian banyak sekali David. " tutur Nuryati yang memasang ekspresi wajah kesakitan.
" Mencuci pakaian? apa kamu tidak membantu ibu sayang? " David melontarkan pertanyaan untuk istrinya.
Baru saja Adira ingin menjawab ucapan sang suami, Ibu mertuanya sudah terlebih dahulu membuka suaranya.
" Tadinya Ibu memang ingin meminta bantuan Adira, tapi saat ke kamar kalian ibu melihat Adira yang sedang tertidur pulas, jadi Ibu tidak tega jika harus membangunkan Adira. jadi ya terpaksa ibu harus mengerjakannya sendiri padahal pakaiannya sangat banyak sekali. Sebenarnya bukan hanya kaki saja yang sakit tapi seluruh tubuh ibu rasanya sangat sakit dan pegal David. " ucap Nuryati berbohong pada putranya David.
David langsung memasang ekspresi wajah tidak senang saat menatap istrinya.
" Lain kali ibu suruh saja Adira yang mencuci, aku tidak mau Ibu merasakan sakit seperti ini lagi. Jika ada pakaian kotor ibu serahkan saja pada Adira biar Adira yang mencuci. " titah David.
" Tapi Ibu sungkan jika harus meminta Adira yang mencuci pakaian ibu David. " ucap Nuryati menolak secara halus.
__ADS_1
" Aku tidak mau mendengar ada penolakan Bu, pokoknya aku tidak mau ibu melakukan pekerjaan apapun di rumah ini, serahkan saja semuanya pada Adira. Selama ini Ibu sudah lelah mengurus dan merawatku sekarang sudah saatnya ibu harus beristirahat dan menikmati masa tua ibu dengan indah. " sahut David dengan lembut.