
" Astaghfirullah hal adzim Bu, ucapan Ibu sangat keterlaluan sekali. " ucap Adira yang merasakan sakit tepat di hatinya l.
" Keterlaluan bagaimana? apa yang Ibu ucapkan itulah kebenarannya, jika kamu istri yang baik seharusnya kamu membantu suami kamu bekerja bukan malah di rumah saja. " ujar Nuryati.
" Tapi Bu, Adira berhenti bekerja itu juga atas permintaannya dari Mas David, Mas David ingin Adira menjadi ibu rumah tangga 100% dan Mas David juga inginnya Adira di rumah untuk menemani Ibu agar Ibu tidak kesepian. " tutur Adira menjelaskan.
" Itu bukan alasan Adira, Ibu gak butuh di temani dan Ibu juga gak membutuhkan kamu ada di sini. Kalau David melarang kamu kerja, kamu kan bisa alasan apa gitu kek yang penting kamu itu kerja bantuin David cari uang jangan cuma mau enaknya aja. " sahut Nuryati yang tidak mau mendengar alasan apapun yang keluar dari mulut Adira.
" Tapi Bu. " ucapan Adira terhenti karena Ibu mertuanya kembali berbicara.
" Ibu tidak mau tahu Adira, pokoknya apapun alasannya Ibu mau kamu kerja, Ibu nggak mau melihat anak ibu capek banting tulang kerja sendirian sementara kamu tidak melakukan hal apapun di rumah ini. " paksa Nuryati.
" Ibu tidak mau mendengar alasan apapun yang keluar dari bibir kamu Adira pokoknya mulai besok kamu harus kerja! kamu harus bisa membujuk David untuk mengizinkan kamu. "ucap Nuryati lagi yang langsung berlalu pergi meninggalkan kamar Adira.
Setelah Ibu mertuanya pergi Adira langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
" Aah sekarang apa yang harus Adira lakukan? jika minta izin kerja kira-kira Mas David marah gak ya? jika tidak kerja malah Ibu yang semakin marah. " ucap Adira seraya menerawang langit-langit kamarnya.
" Andira seperti makan buah simalakama. " gumam Adira lagi dengan kepala yang berdenyut nyeri.
" Aah sudahlah nanti malam Adira coba minta izin saja sama Mas David, semoga mood Mas David lagi bagus jadi dia mau mengizinkan Adira kembali bekerja. " gumam Adira dengan pelan.
Tidak ingin membuat dirinya semakin stress Adira memutuskan untuk memejamkan kedua matanya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang sudah lelah.
malam harinya...
pukul 09.00 malam Adira dan suaminya sudah berada di atas ranjang. David sedang duduk bersandar di headboard ranjang sedangkan Adira sedang bersandar di dada bidang suaminya.
" Mas ada yang ingin Adira sampaikanlah. " ucap Adira dengan serius.
"Memangnya apa yang ingin kamu sampaikan sayang? " sahut David yang mengambil sedikit rambut panjang istrinya lalu menciumnya.
__ADS_1
" Mas setuju nggak kalau Adira kerja lagi? " ujar Adira membuat David terkejut.
" Coba ulangi kata-kata kamu sayang? Mas nggak ngerti! " ucap David yang langsung duduk dengan tegak.
Adera pun juga ikut duduk tegak berhadapan dengan suaminya.
" Tadi siang saat Adira baru saja selesai sholat zuhur dan ingin ingin tidur, ibu datang dan berkata jika Adira harus bekerja untuk membantu Mas. Ibu tidak tega melihat Mas bekerja sendirian jadi ibu mau Adira ikut bekerja juga, jadi kalau mulai besok Adira mencari pekerjaan Mas mengizinkan atau tidak? " tutur Adira menjelaskan.
" Masa sih sayang Ibu berkata seperti itu? sepertinya nggak mungkin deh, karena sejak awal ibu yang menginginkan kamu untuk tidak bekerja agar bisa menemani Ibu setiap hari di rumah. " sahut David.
" Tapi pada kenyataannya tadi siang Ibu yang berkata sendiri Mas,jika Ibu ingin Adira membantu mencari nafkah juga. " ujar Adira.
" Tapi mas nggak percaya sayang, mana mungkin Ibu berkata seperti itu sementara sejak awal Mas berkata ingin menikahi kamu ibu yang meminta sendiri supaya kamu tidak usah bekerja agar kamu bisa menemani Ibu di rumah setiap hari. " tutur David.
" Masa sih Mas ibu yang meminta? sementara tadi siang Ibu yang berkata sendiri jika Adira harus membantu Mas bekerja. " ucap Adira.
" Apa sebaiknya Mas tanyakan saja pada ibu ya sayang? biar semuanya jelas. "usul David yang tidak ingin ada kesalah pahaman lagi diantara dia dan istrinya.
" Bener juga apa kata kamu sayang. " sahut David yang setuju dengan ucapan istrinya.
" Jadi Mas mengizinkan Adira bekerja atau tidak? karena restu dari Mas adalah segalanya untuk Adira. " ucap Adira sambil menatap kedua mata suaminya dalam-dalam.
" Sebenarnya mas sih nggak masalah jika kamu ingin bekerja, tapi mas hanya takut kamu kelelahan karena kan kamu punya tanggung jawab untuk beberes rumah dan memasak. Memangnya apa kamu sanggup sayang? " ujar David yang balik menatap kedua mata indah milik istrinya.
" InsyaAllah Adira sanggup Mas, nanti sebisa mungkin Adira akan bagi waktu agar semuanya tetap berjalan dengan lancar dan tidak ada yang terbengkalai. lagi pula selesai beberes rumah Adira juga bosan Mas hanya berdiam diri saja di rumah karena tidak ada kegiatan lain yang bisa Adira lakukan. " sahut Adira sambil tersenyum manis.
" Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu? coba dipikirkan sekali lagi, Mas nggak mau ya nanti kamu menyesal dan mengeluh capek sama mas karena kamu sendiri yang ingin bekerja bukan mas yang meminta. " Tutur David meyakinkan istrinya.
Adira langsung terdiam dan nampak memikirkan ucapan dari suaminya, Adira meyakinkan diri dan memantapkan hati jika ini adalah keputusan yang terbaik.
" InsyaAllah Adira sudah yakin Mas dan Adira juga tidak akan pernah menyesal karena ini adalah keputusan Adira sendiri. " jawab Adira dengan mantap.
__ADS_1
" Ya sudah jika memang kamu sudah yakin Mas mengijinkan kamu untuk bekerja, tapi ingat kamu juga harus bisa jaga diri dan jaga kesehatan jangan sampai kelelahan karena mas tidak mau kamu sampai jatuh sakit. " sahut David.
" Beneran Mas mengizinkan Adira bekerja? " tanya Adira dengan kedua mata yang berbinar memastikan keputusan suaminya.
" Iya sayang mas mengijinkan. " jawab David sambil memencet hidung mancung milik istrinya.
" Ih jangan dipencet Mas sakit tahu. " ucap Adira dengan manja sambil mengusap hidungnya.
David lantas melabuhkan satu ciuman tepat di hidung mancung istrinya dan Adira pun langsung mengembangkan senyum bahagia.
" Sekarang udah nggak sakit kan. " ucap David yang balik tersenyum manis untuk istrinya.
" Terimakasih banyak ya Mas untuk semuanya? " ujar Adira yang langsung berhambur memeluk suaminya.
" Sama-sama sayang. " sahut David yang langsung mencium puncak kepala istrinya dengan sayang.
" Tapi kalau Mas boleh tahu memangnya kamu mau bekerja di mana sayang? apa kamu mau balik kerja di perusahaan lagi? " tanya David lalu Adira melepaskan pelukannya.
" Adira juga nggak tahu sih Mas mau kerja di mana? Tapi yang pasti Adira nggak mungkin balik kerja di perusahaan lagi. " tutur Adira.
" Apa kamu mau Mas bantu kamu mencari pekerjaan sayang? " tawar David.
" Kalau mas tidak keberatan Adira mau, tapi nanti Adira juga akan mencari informasi lowongan pekerjaan dari teman-teman Adira Mas. " sahut Adira.
" Ya sudah nanti Mas akan kasih tau kamu begitu Mas mendapatkan informasi tentang lowongan pekerjaan yang sesuai untuk kamu. " sambung David lagi.
" Terimakasih banyak ya Mas. " ucap Adira yang memeluk suaminya lagi.
" Sama-sama sayang, kalau begitu kita tidur yuk ini sudah malam. " ajak David dan Adira pun mengangguk.
Seperti pasangan pada umumnya mereka tidur sambil berpelukan. dan sudah menjadi kebiasaan Adira semenjak menikah dia selalu tidur dengan berbantalkan lengan sang suami sambil mendengar irama detak jantung suaminya.
__ADS_1