
Mendengar suara Ibu mertuanya membuat Adira langsung tersadar dari keterpakuannya.
Banyak tanda tanya dan banyak pertanyaan yang ada di dalam kepalanya, ingin rasanya Adira menanyakan dan minta penjelasan dari ibu mertuanya tapi sepertinya momennya kurang tepat.
Akan Adira simpan semua pertanyaan yang mengganjal di hati dan di pikirannya untuk dia tanyakan nanti pada ibu mertuanya atau pada suaminya.
Lebih baik Adira menuju ke dapur untuk memasak daripada berdiri di situ melihat ibu mertuanya dengan wanita yang Adira tidak tahu siapa dia.
" Udah sana pergi! apa perlu saya seret kamu. " murka Nuryati dengan wajah yang memerah karena emosi.
Tidak ingin membuat emosi Ibu mertuanya semakin meledak Adira segera berlalu dari sana tanpa mengucapkan satu kata pun lalu Adira segera menuju ke dapur untuk mulai memasak menu makan malam mereka.
Setelah berjibaku dengan bahan masakan dan peralatan dapur akhirnya Adira selesai memasak dan menghidangkannya di meja makan, namun saat sedang menata makanan di atas meja ibu mertuanya datang sambil berkacak pinggang.
" Selesai memasak kamu langsung masuk ke kamar dan jangan keluar dari kamar sebelum tamu saya pulang. " titah Nuryati dengan tegas.
" Kenapa tadi Ibu mengenalkan Adira sebagai asisten rumah tangga bukan sebagai istrinya Mas David? dan siapa wanita itu lalu apa calon suami yang dimaksud dia itu Mas David? " tanya Adira beruntun.
" Suka-suka Ibu dong mau mengenalkan kamu sebagai apa, lagi pula Ibu malu punya menantu seperti kamu yang tidak bisa dibanggakan dan satu hal yang harus kamu tahu dia itu Aura calon istrinya David. " jawab Nuryati dengan sangat lancar tanpa memikirkan bagaimana perasaan Adira.
Adira langsung membulatkan kedua matanya dengan sempurna saat Nuryati mengatakan jika wanita itu ada calon istri dari suaminya.
Baru saja Adira ingin melayangkan protes pada Ibu mertuanya, tiba-tiba wanita itu datang membuat Adira langsung mengurungkan niatnya untuk berbicara.
" Ingat jangan katakan padanya jika kamu istrinya David, kalau kamu sampai mengatakan hal itu Ibu tidak akan segan-segan meminta David untuk menceraikan kamu saat ini juga dan kamu pasti tahu kan David selalu mengabulkan semua permintaan ibu. " ancam Nuryati membuat Adira ketakutan.
Dengan terpaksa Adira menuruti permintaan Ibu mertuanya karena bagaimanapun juga dia tidak ingin berpisah dengan laki-laki yang sangat dia cintai apalagi usia pernikahan mereka baru akan menginjak 2 bulan.
" Iya Bu. " jawab Adira dengan patuh.
__ADS_1
Adira kembali melanjutkan tugasnya untuk membersihkan meja dapur dan peralatan memasak yang tadi dia gunakan.
" Tante katanya cuma ambil minum sebentar kok lama sekali sih? " ucap Aura yang saat ini sudah berdiri di samping Nuryati.
" Iya Aura, tadi tante sekalian lihat si Adira udah selesai masak atau belum maaf ya udah membuat kamu menunggu malah sampai nyusulin kemari. " jawab Nuryati.
" it's oke tante nggak apa-apa kok, tapi David kapan pulangnya si Tante kok lama sekali? " ujar Aura yang tidak sabar ingin segera bertemu dengan David.
Nuryati tampak melihat jam yang ada di tangannya.
" Sepertinya sebentar lagi pulang deh, biasanya jam segini dia sudah ada di rumah. " jawab Nuryati
" Kalau begitu ayo kita ke depan tante kita tunggu David di ruang tamu aja. " ajak Aura dengan antusias lalu menarik tangan Nuryati keluar dari area meja makan.
Adira yang melihat hal itu tentu saja merasa iri saat melihat kedekatan Aura dan ibu mertuanya, karena sejak menyandang status sebagai istri David Adira sama sekali tidak pernah sedekat itu dengan ibu mertuanya.
" Kapan Adira bisa sedekat itu dengan Ibu ya? " gumam Adira sambil melihat Nuryati dan Aura yang berjalan semakin jauh menuju ke ruang tamu.
Dengan cepat Adira segera melangkahkan kakinya meninggalkan area dapur menuju ke teras, namun baru saja kaki Adira berada di ambang pintu Adira melihat Aura yang sedang bergelayut manja di lengan suaminya.
Sebagai seorang istri tentu saja Adira merasakan sakit di hatinya karena rasa cemburu saat melihat laki-laki yang dia cintai sedang dekat dengan wanita lain, walaupun Adira dapat melihat wajah tidak nyaman yang ditampilkan oleh suaminya.
Adira terus menatap mereka bertiga yang sedang berada di teras rumah, namun saat tatapan matanya dan tatapan mata sang suami bertemu Adira langsung memalingkan wajahnya dan segera berlalu kembali ke dalam kamarnya.
David yang memang sejak awal tidak suka bahkan tidak nyaman saat melihat Aura berada di rumahnya, langsung melepaskan tangan Aura yang sedang bergelayut manja di lengannya saat kedua matanya bersitatap dengan kedua mata istrinya yang berada di ambang pintu.
Rasa bersalah kembali merasuk ke dalam hatinya dan tanpa basa-basi David langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah guna untuk menyusul istrinya.
" Kamu mau ke mana David? " tanya Aura dengan lembut.
__ADS_1
Tapi David yang sedang terfokus pada istrinya sama sekali tidak mendengar dan tidak menghiraukan ucapan Aura.
" Kamu mau ke mana David? temani Aura jangan kamu tinggal seperti ini. " ucap Nuryati yang mencekal tangan putranya.
" Maaf Bu aku harus ke dalam aku harus menyusul Adira. " sahut David yang ingin melanjutkan langkah kakinya tapi tangannya kembali dicekal oleh Ibunya.
Aura yang mendengar David menyebut nama Adira langsung melayangkan protesnya.
" David kenapa kamu lebih memilih menyusul pembantu kamu itu daripada menemani aku? " protes Aura.
Mendengar kata pembantu David langsung memutar tubuhnya menjadi berhadapan dengan Aura.
" Apa maksud kamu berkata jika Adira itu pembantu? " ujar David bertanya seraya menatap Aura dengan tajam.
" Memangnya salah jika aku menyebut Adira pembantu? bukannya Ibu kamu berkata jika Adira itu memang pembantu ya? " jawab Aura dengan tanpa dosa.
David langsung minta penjelasan pada Ibunya lewat tatapan matanya. Namun Nuryati hanya diam saja dan sama sekali tidak ingin menjelaskan apapun pada putranya.
" Satu hal yang harus kamu tahu Aura Adira itu istriku dan bukan pembantu, jadi aku tegaskan padamu berhenti mendekatiku karena aku sangat mencintai istriku dan aku sama sekali tidak pernah berniat untuk menduakannya, Jadi lupakan saja rencana perjodohan gila yang sudah dibuat oleh Ibuku. " ucap David dengan tegas.
Kedua mata Nuryati langsung melotot saat mendengar putranya sendiri yang mengatakan tentang kebenaran yang ada, di dalam hatinya Nuryati terus merutuki kebodohan putranya yang sudah berkata dengan jujur.
Nuryati takut kejujuran David akan membuat Aura berubah pikiran lalu mundur dengan perjodohan yang sudah dia rencanakan, daripada Adira yang menjadi menantunya, Nuryati lebih memilih Aura karena Aura memiliki uang yang banyak.
Lagi pula sebelum Adira yang menyakiti dan menduakan putranya, lebih baik putranya dahulu yang dia buat menduakan istrinya.
Disisi lain...
Aura tentu saja terkejut mendapati kenyataan jika David sudah memiliki istri, namun bukannya mundur Aura malah semakin membulatkan tekadnya untuk bisa mendapatkan David.
__ADS_1
" Jangan panggil aku Aura jika aku tidak bisa mendapatkanmu David. " batin Aura dengan seringainya.