Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 79


__ADS_3

Hari terus berganti tidak terasa sudah dua bulan lebih Adira berada di rumah kedua orangtuanya. Rasa rindunya telah terobati, luka bekas operasinya sudah sembuh, dan semua yang terjadi di hidupnya sudah benar-benar dia ikhlaskan karena dia percaya rencana Allah SWT pasti akan lebih indah ke depannya.


" Kamu yakin mau kembali ke sana nak? Apa tidak sebaiknya kamu tetap di sini saja? " Khadijah bertanya di saat Adira sedang menyusun pakaiannya ke dalam tas.


Adira menghentikan aktivitasnya sebentar lalu memegang tangan malaikat pelindungnya dengan sangat lembut.


" Bu tolong izinkan Adira untuk kembali bekerja di rumah Ibu Hani ya? Ibu kan tau kalau Ibu Hani sudah sangat baik ke Adira, selama Adira di rawat di rumah sakit Ibu Hani yang menemani dan dia memperlakukan Adira sama seperti anak kandungnya sendiri bahkan biaya perawatan Adira di rumah sakit Ibu Hani juga yang melunasinya dan dia sama sekali tidak minta bayaran sedikit pun, yang dia mau hanya satu Adira tetap bekerja di rumahnya. " Adira menjelaskan secara lembut agar Ibunya mengerti dan mau mengizinkannya pergi.


" Adira sudah berjanji akan kembali lagi bekerja di sana Bu, Ibu izinkan ya Adira mohon? " sambung Adira lagi, lalu dia berlutut di hadapan Ibunya yang sedang duduk di pinggir ranjang.


" Ya sudah Ibu izinkan tapi kamu harus jaga diri dan jaga kesehatan di sana ya sayang. " dengan terpaksa Khadijah mengizinkan putrinya untuk pergi walau pun hatinya sangat berat untuk kembali berpisah dari buah hatinya.


" Terima kasih banyak Bu? Adira sayang Ibu. " Adira menyahut dengan wajah yang senang lalu memeluk malaikat pelindungnya dengan sangat erat.


" Ibu juga sangat menyayangi kamu anakku, ingat selalu telpon Ibu dan Ayah ya? " Khadijah mengingatkan sambil mencium puncak kepala putrinya.


Setelah Itu Adira lanjut memasukkan pakaian yang akan dia bawa bekerja di bantu oleh Ibunya.


" Ibu Adira pergi dulu ya? " Adira berpamitan sambil mencium punggung tangan Ibunya dengan takzim.


" Iya sayang kamu hati-hati ya di jalan dan ingat selalu telpon Ibu dan Ayah ya? " Khadijah menjawab sambil memeluk tubuh putrinya.


" Iya Bu itu pasti, kalau begitu Adira pergi dulu ya Assalamualaikum? " Adira berucap sambil naik ke atas motor jadul milik Ayahnya.


" Ayah pergi dulu Bu? " pamit Abdullah yang sudah siap di atas motornya untuk pergi mengantar putrinya ke terminal Bus.


" Iya Yah, hati-hati bawa motornya pelan-pelan saja. " Sahut Khadijah mengingatkan.


Setelah itu Abdullah segera menghidupkan mesin motornya lalu secara perlahan Abdullah mulai melajukan nya meninggalkan istrinya yang masih berdiri di teras.


Abdullah melajukan motornya dengan sangat pelan menuju ke terminal bus yang letaknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya.

__ADS_1


" Kamu di sana hati-hati ya nak, ingat-ingat pesan ayah dan Ibu. " ucap Abdullah yang kembali mengingatkan putrinya.


" iya Ayah tenang aja insyaallah Adira akan selalu mengingat semua nasehat yang Ayah dan Ibu sampaikan. " Adira menjawab sambil berpegangan di pinggang Ayahnya.


Setelah itu Abdullah terus melajukan motornya hingga 30 menit kemudian mereka tiba di terminal bus.


" Ayah Adira pergi dulu ya? " Adira berpamitan sambil mencium punggung tangan Ayahnya.


" Iya nak kamu hati-hati ya dan jika sudah sampai di sana langsung telepon ayah, agar Ayah tenang di sini? " pinta Abdullah.


" Siap Ayahku sayang dan Ayah juga hati-hati ya jalan pulangnya Assalamualaikum. " sambung Adira sambil membawa tas pakaiannya.


" Waalaikumsalam. " jawab Abdullah yang tersenyum.


Setelah itu Adira mulai melangkah menuju ke sebuah bus yang akan membawanya kembali ke kota. selama di perjalanan Adira hanya diam sambil melihat ke arah luar jendela hingga tidak terasa dirinya sudah tiba di depan rumah Hani.


Setelah turun dari bus Adira segera mendekat ke arah pintu pagar lalu mengetuknya dengan menggunakan sebuah batu kecil.


Tok..


Tok..


Tok..


" Loh mbak Adira apa kabarnya? sudah lama sekali tidak pernah kelihatan? " Joko menyapa sambil membuka pintu pagar menjadi lebih lebar lagi.


" Alhamdulillah kabar Adira baik Pak Joko, iya selama ini Adira pulang kampung karena kangen sama Ibu dan Ayah. " Adira menjawab sambil melangkah masuk ke dalam.


Saat Adira baru saja melangkah masuk tiba-tiba dirinya mendengar suara teriakan Hani dari arah pintu utama.


" Adiiiraaaaa. " Hani berteriak sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Adira.

__ADS_1


Adira yang mendengar panggilan dari majikannya sudah tentu langsung melangkahkan kakinya juga mendekat ke arah Hani.


" Assalamualaikum Ibu. " Adira menyapa Hani sambil mencium punggung tangannya.


" Wa'alaikumsalam astaga kamu mau kembali ke sini kok nggak ngabarin dulu sih? kalau ngabarin kan biar saya jemput ke kampung? " ujar Hani yang bertanya sekaligus terkejut saat melihat Adira sudah ada di rumahnya.


" Ya ampun Ibu tidak perlu repot-repot, mana ada sih majikan yang menjemput pembantunya ke kampung. " tutur Adira sembari tertawa kecil.


" Iya deh yang penyakit sudah ada di sini, kalau begitu ayo kita masuk biar saya tunjukkan di mana kamar kamu? " sambung Hani yang mengajak Adira untuk masuk ke dalam rumah.


Setelah itu mereka berdua bersama-sama masuk ke dalam dan saat mereka berjalan melewati tangga, mereka bertemu dengan Rendra yang baru saja akan turun ke bawah.


" Dia siapa Ma? " Rendra bertanya sembari mempercepat langkah kakinya turun ke bawah.


Adira yang mendengar suara seorang laki-laki langsung menundukkan pandangannya dan tidak berani menghadap ke depan seperti tadi.


" Eh ada kamu Rendra Ayo kenalin ini yang namanya Adira wanita yang sering Mama ceritakan ke kamu loh. " ujar Hani mengenalkan Adira ke putranya.


" Assalamualaikum Mas Rendra perkenalkan saya Adira asisten rumah tangga di rumah ini. " Adira memperkenalkan dirinya dengan menangkupkan kedua tangannya di dada dan sambil menaikkan sedikit pandangannya melihat ke arah Rendra.


Degh...


Rendra terkejut saat melihat wajah cantik, Ayu, dengan tatapan lembut nan menenangkan yang dibalut dengan gamis dan jilbab lebar yang menutupi seluruh tubuhnya.


Rendra terpesona dan juga terpana saat pandangan pertama, baru kali ini ada seorang wanita yang mampu membuatnya terpesona hingga tidak bisa mengedipkan matanya. Padahal saat di Jakarta banyak sekali wanita cantik dan juga sexy yang mendekatinya, namun tidak ada satu pun yang mampu membuatnya terpesona.


" Rendra. " Hani memanggil putranya dan Rendra pun seketika langsung tersadar dari keterpesonaan nya.


" Ah iya Ma kenapa? " ujar Rendra yang malah balik bertanya.


" Gak apa-apa, kalau kamu mau makan langsung pesan saja. " titah Hani yang mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


" Maaf Bu, kalau Ibu dan Mas Rendra lapar biar Adira saja yang memasakkan makanan? " tawar Adira sambil tersenyum manis.


Rendra yang sudah terpesona semakin bertambah terpesona saat melihat senyum manis Adira untuk yang pertama kalinya.


__ADS_2