
Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya Adira langsung masuk ke dalam kamarnya karena dia merasa sangat kelelahan sekali.
" Huuuuhhh kenapa hari ini rasanya lelah sekali ya? biasanya tidak selelah ini. " ucap Adira di saat dirinya sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Adira tiduran di atas ranjang sambil memperhatikan langit-langit kamarnya, namun tiba-tiba terlintas di dalam pikiran Adira ekspresi wajah Ibu mertuanya saat tadi pagi suaminya memberitahukan perihal kehamilannya.
" Apa Ibu segitu bencinya ya sama Adira sampai Adira hamil pun Ibu tidak terlihat bahagia sama sekali dan malah cenderung tidak peduli. " gumam Adira dengan pelan.
" Kapan ya Adira bisa dekat dengan Ibu, sama seperti Ibu yang dekat dengan Aura. " gumam Adira lagi sembari menarik napasnya dengan dalam.
" Oh iya Adira belum menghubungi Ibu dan Ayah, sebaiknya Adira menghubungi mereka saja, Ibu dan Ayah pasti senang kalau tahu Adira hamil. " gumam Adira lalu tangannya terulur mengambil ponsel miliknya yang ada di atas nakas di samping ranjang tidurnya.
Adira segera membuka ponselnya lalu dia segera menghubungi nomor ponsel Ayahnya.
Tut...
Tut...
Tut...
Setelah panggilannya terhubung Adira menunggu beberapa saat hingga panggilan teleponnya dijawab oleh sang Ayah.
" Assalamualaikum nak. " Sapa Abdullah di seberang sana dan jika didengar dari suaranya terdengar begitu bahagia.
" Waalaikumsalam Yah? Ayah lagi di mana? " ujar Adira bertanya.
" Ayah lagi ada di rumah. " jawab Abdullah kemudian Abdullah sedikit terbatuk.
" Ayah kenapa Ayah sakit? " tanya Adira yang khawatir.
" Ayah tidak apa apa nak, Ayah cuma sedikit nggak enak badan aja. " jawab Abdullah yang kemudian terbatuk lagi.
" Tapi ayah udah periksa ke dokter kan? penyakit itu jangan dianggap enteng Ayah? " tutur Adira lagi yang masih khawatir.
__ADS_1
" Kamu tenang aja Adira insyaAllah Ayah nggak apa-apa sebentar lagi juga sembuh lagi pula Ayah udah minum obat. " ucap Abdullah menenangkan.
" Syukurlah kalau memang begitu tapi kalau sudah tiga hari ayah masih sakit juga Adira nggak mau tahu pokoknya Ayah harus periksa ke dokter ya? " seru Adira lagi.
" Iya nak, oh iya tumben kamu siang begini nelpon Ayah memangnya ada apa? " tanya Abdullah sembari melangkahkan kakinya mendekat ke arah istrinya yang sedang duduk santai di depan teras rumah mereka.
Sebelum menjawab pertanyaan dari ayahnya Adira tersenyum sebeni lalu menarik nafasnya dengan dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
" Ayah lagi sama Ibu nggak? " tanya Adira yang sekarang sudah merubah posisinya menjadi duduk.
" Iya ini Ayah lagi sama Ibu ada di teras rumah memangnya ada hal yang penting nak? " tanya Abdullah yang penasaran.
" Iya Yah memang ada hal penting yang ingin Adira sampaikan dan kalau bisa ponsel ayah di loudspeaker ya biar Ibu pun bisa dengar juga. " pinta Adira dan Abdullah segera loudspeaker ponselnya.
Setelah ponselnya di loudspeaker Khadijah dan Abdullah menajamkan pendengarannya untuk mendengar berita penting apa yang akan disampaikan oleh Putri mereka satu-satunya.
" Memangnya ada hal penting apa nak jangan bikin Ibu dan Ayah semakin penasaran. " ucap Khadijah.
" Begini Bu Yah semalam Adira udah periksa dan dokter menyatakan jika Adira udah positif hamil Bu Yah. " tutur Adira yang menyampaikan berita bahagia ini kepada kedua orang tuanya.
Cukup lama Adira menunggu Ayah dan Ibunya selesai melakukan sujud syukur. setelah itu Khadijah langsung mengambil kembali ponsel yang diletakkan begitu saja di atas meja.
" Selamat ya sayang Alhamdulillah Allah memberikan kepercayaan secepat ini padamu, kamu baik-baik di sana ya sayang, jaga kandungan kamu dan kalau bisa kamu berhenti bekerja saja ya nggak usah kerja lagi. " tutur Khadijah menasehati.
" Iya Bu insyaallah Adira akan selalu menjaga kandungan Adira, dan Ibu jangan khawatir di sini Adira pasti baik-baik saja. " jawab Adira menenangkan Ibu dan Ayahnya.
Keesokan harinya...
Sesuai dengan perkataan suaminya semalam hari ini Adira memulai aktivitas seperti biasanya, semenjak mendengar perkataan Ibunya semalam David sudah tidak lagi overprotektif.
" Mas Adira berangkat dulu ya? " pamit Adira di saat dirinya sudah selesai beberes rumah.
" Iya sayang kamu hati-hati ya dan jaga selalu kandungan kamu jangan sampai terjadi apa-apa. " jawab David di saat dirinya baru saja terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Setelah berpamitan Adira segera keluar dari dalam rumah lalu dia kembali melangkahkan kakinya menuju ke rumah Hani.
" Selamat pagi Pak Joko. " sapa Adira saat Joko membukakan pintu pagar untuknya.
" Pagi juga Mbak Adira, semalam kok gak datang? Bu Hani nyariin kamu tuh? " tanya Joko saat Adira sudah masuk ke dalam.
" Iya Pak Joko semalam ada urusan sedikit dan Adira lupa ngabarin Bu Hani. " jawab Adira sembari tersenyum.
" Oh gitu kasihan Ibu Hani satu hari aja kamu nggak datang dia kayak kesepian banget. " ujar Joko memberitahu.
" Masa sih Pak Joko? kalau begitu Adira masuk ke dalam dulu ya. " pamit Adera dan Joko pun mengangguk.
Setelah itu Adira kembali melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam rumah dan memulai pekerjaannya.
" Adira Kamu kenapa semalam tidak datang? Ibu kesepian di rumah. " sapa Hani yang baru saja memasuki area dapur.
" Eh Ibu Hani maaf Bu semalam Adira ada urusan sedikit. " jawab Adira sembari tersenyum malu-malu.
" Memangnya ada urusan apa sih sampai kamu nggak datang? " ujar Hani bertanya.
" Semalam Adira habis dari dokter kandungan Bu. " jawab Adira sembari menghidangkan nasi goreng teri kesukaan Hani.
" Habis dari dokter kandungan maksudnya kamu hamil? " Tanya Hani dengan kedua mata yang membulat sempurna.
" Iya Bu Alhamdulillah Allah memberikan kepercayaan secepat ini pada Adira. " jawab Adira dan terlihat jelas rona wajah penuh kebahagiaannya.
" Alhamdulillah selamat ya Adira Ibu turut senang mendengarnya. " ucap Hani tapi Adira masih dapat melihat sedikit raut wajah kesedihan.
" Ibu kenapa kok tiba-tiba sedih? " tanya Adira sembari menuangkan teh herbal yang biasanya Hani konsumsi setiap pagi.
" Kalau kamu hamil itu artinya kamu akan berhenti bekerja di sini dong? dan saya jadi kesepian lagi. " jawab Hani dan sekarang terlihat jelas raut wajah kesedihannya.
" Ibu tenang aja Adira akan tetap bekerja di sini kok. " jawab Adira sembari menyendokkan nasi goreng tersebut ke atas piring Hani.
__ADS_1
" Loh kok tetap kerja sih? ibu hamil itu kan tidak boleh melakukan aktivitas yang berat Adira dan itu sangat membahayakan untuk janin yang ada di dalam kandungan kamu. " ujar Hani.
" InsyaAllah Adira nggak apa-apa Bu, ya udah Ibu sarapan ya Adira mau melanjutkan pekerjaan yang lain. " ucap Adira yang segera kembali ke meja dapur untuk melanjutkan aktivitasnya.