Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 87


__ADS_3

Acara Akad nikah mendadak Adira menghebohkan warga desa, banyak yang berspekulasi bahwa Adira hamil di luar nikah, ada juga yang lebih fokus pada keluarga Rendra yang sangat nampak seperti orang terpandang, dan ada juga yang lebih fokus kepada Rendra nya yang terlihat sangat tampan dan gagah.


Baik Adira mau pun orangtuanya sejak dulu mereka tidak pernah memusingkan omongan orang di luaran sana karena yang terpenting bagi mereka adalah mereka tidak pernah mengganggu dan mengusik orang lain.


Walau pun tidak di undang mereka tetap datang karena rasa penasaran yang sudah meledak-ledak di dalam dada mereka membuatnya langsung muncul begitu saja menyaksikan prosesi akad nikah yang sangat sederhana namun dengan mahar yang sangat fantastis luar biasa.


Setelah akad nikah berlangsung Rendra memutuskan untuk menginap selama beberapa hari di rumah orangtua Adira karena dirinya suka dengan suasana yang sangat nyaman. Pagi ini mereka berdua sedang jalan-jalan pagi keliling kampung karena Rendra sangat penasaran dengan tempat istrinya lahir dan juga tinggal.


" Apa Mas tidak menyesal menikah dengan Adira? " Adira bertanya sambil melihat ke arah depan dimana terdapat pemandangan sawah yang terbentang sangat indah.


" Tidak sayang untuk apa Mas menyesalinya? Malahan Mas sangat bersyukur bisa menikah sama kamu. " Rendra menjawab sambil mengeratkan pelukannya.


Saat ini Rendra sedang memeluk tubuh istrinya dari belakang di atas sebuah bukit yang berada di ujung desa.


" Tapi Mas kan tahu Adira tidak akan bisa memberikan Mas keturunan? Sedangkan Mas anak satu-satunya bagaimana dengan Mama, Adira gak enak hati sama Mama. " ungkap Adira dengan ekspresi wajah yang sedih sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.


" Kamu jangan khawatir sayang Mama tidak mempermasalahkan hal itu, Mas dan Mama menerima kamu apa adanya lagi pula yang akan menemani kita di masa tua kan pasangan kita bukan anak. " Rendra menjawab sambil memutar tubuh istrinya menjadi berhadapan dengannya.


" Untuk masalah ini jangan di bahas lagi ya sayang Mas gak mau buat kamu sedih atau pun terluka, karena tujuan Mas menikah dengan kamu adalah untuk membuat kamu bahagia bukan membuat kamu bersedih atau pun menderita. " ungkap Rendra sambil melabuhkan satu ciuman mesra di kening istrinya.


Setelah itu mereka kembali berpelukan sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk kembali pulang karena matahari sudah mulai meninggi.


Mereka berjalan sambil berpegangan tangan dan tidak jarang para warga desa yang kebanyakan Ibu-ibu menatap mereka berdua terutama Adira dengan tatapan penuh selidik dan rata-rata mereka melihat ke arah perut Adira.


" Sayang ini cuma perasaan Mas saja atau memang sejak tadi warga di sini terus melihat ke arah kita? " Rendra bertanya seraya matanya melihat ke kanan dan ke kiri.


" Biarkan saja Mas mereka berspekulasi apa pun tentang kita tapi yang penting kita tidak seperti apa yang mereka pikirkan. " Adira menjawab sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Rendra hanya ber oh ria saja mendengar jawaban dari istrinya, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan kembali pulang ke rumah.


.


.


.


Terhitung dua Minggu sudah Rendra tinggal di rumah orangtua Adira dan dia sangat betah sekali berada di sana mengingat selama ini dia selalu tinggal di tengah padatnya ibukota.


Namun sayang dengan terpaksa dia harus kembali pada realita kehidupan karena waktu liburnya sudah berakhir dan setumpuk berkas sudah melambai-lambai di dalam ingatannya.


" Hmm sayang kamu mau kita tetap tinggal di Medan atau di Jakarta saja? " Rendra bertanya saat mereka sedang dalam perjalanan kembali pulang ke rumah orangtua Rendra.


" Kalau Adira sih terserah Mas saja tapi kalau boleh meminta Adira mau tinggal di sini saja Mas, karena kasihan Mama kalau kita di Jakarta nanti Mama sendirian lagi. " Jawab Adira seraya mengungkapkan pendapatnya.


" Baiklah sayang kita akan tinggal di sini saja. " Sahut Rendra dan Adira tersenyum bahagia.


Entah kenapa semenjak menikah dengan Rendra Adira menjadi suka sekali menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya padahal sebelumnya saat bersama dengan David Adira jarang sekali melakukan hal itu.


Karena rasa kantuk yang tiba-tiba datang menyerang Adira mulai memejamkan matanya di dalam pelukan suaminya. Rendra yang mengetahui istrinya tertidur dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi agar istrinya bisa tidur dengan nyaman, dan Rendra pun terus membelai lembut pipi istrinya yang sangat halus.


Tidak terasa mobil yang membawa pasangan pengantin baru tersebut sudah terparkir di halaman rumah orangtuanya, Hani sudah menyambut anak dan menantunya di teras rumah. Karena Adira yang masih tertidur dengan sangat pulas Rendra berinisiatif untuk menggendong istrinya ala bridal style dan membawanya ke kamar mereka yang sudah di persiapkan oleh Hani sejak jauh-jauh hari.


Hani yang melihat menantunya tertidur pulas dalam gendongan putranya langsung menutup mulutnya dan tidak jadi bersuara, setelah itu Hani mengambil alih koper pakaian yang di bawa oleh Agus untuk dia bawa masuk ke dalam kamar.


" Mama pikir kalian tidak jadi pulang? " Hani bertanya di saat mereka sedang duduk di halaman belakang tempat favorit Hani.

__ADS_1


" Iya jadi dong Ma waktu liburku kan sudah selesai lagi pula aku sudah terlalu lama meninggalkan kantor. " ungkap Rendra yang belum mengatakan jika dia dan istrinya akan menetap di Medan.


Raut wajah Hani langsung berubah ketika mendengar waktu libur putranya sudah habis.


" Mama kenapa sedih? " Rendra bertanya sambil menatap wajah Mamanya.


" Kalau begitu Adira akan kamu bawa ke Jakarta juga dong? dan Mama kembali kesepian di sini. " ungkap Hani dengan sedih.


Rendra tersenyum melihat raut wajah Mamanya yang terlihat sangat bersedih, Rendra yang tidak tega melihat Mamanya terus bersedih lantas memegang kedua tangan Mamanya lalu mencium punggung tangannya dengan takzim.


" Mama tenang saja aku tidak akan membawa Adira ke Jakarta kok, aku sudah memutuskan untuk menetap di sini lagi pula istriku itu tidak tega jika harus meninggalkan Ibu mertuanya sendiri. " Tutur Rendra membuat raut wajah sedih Hani langsung berubah menjadi raut bahagia.


" Kamu gak lagi bohongin Mama kan Ren? " Tanya Hani menuntut.


" Tidak Ma, aku ingin menetap di sini bersama Mama dan juga istriku kapan lagi aku akan menemani Mamaku jika tidak sekarang. " jawab Rendra dan Hani pun langsung memeluk tubuh putranya dengan erat.


Saat mereka sedang berpelukan tiba-tiba Adira datang sambil membawa teh dan cemilan untuk suami dan Ibu mertuanya.


" Loh sayang kamu udah bangun? " ujar Rendra yang terkejut saat melihat kedatangan istrinya.


" Sudah dari tadi Mas, ayo di minum tehnya Ma, Mas. " Adira menjawab sambil meletakkan teh dan cemilannya di atas meja.


" Oh iya Adira karena kamu sudah menjadi anak Mama, jadi mulai saat ini Mama melarang kamu untuk melakukan pekerjaan rumah, karena Mama sudah mencari asisten rumah tangga yang akan menggantikan pekerjaan kamu. " Hani berucap seraya mengambil teh tersebut lalu meminumnya sedikit.


" Iya Ma tapi bolehkan kalau Adira yang tetap memasak makanan untuk kita? " pinta Adira dengan sangat.


Rendra dan Hani saling pandang lalu mengangguk bersama-sama.

__ADS_1


" Ya tentu saja boleh dong sayang karena Mama dan Rendra sudah kecanduan sama rasa masakan kamu itu. " Sahut Hani dan Adira pun tersenyum senang.


__ADS_2