
Setelah berusaha sekuat tenaga bertahan agar jangan sampai pingsan di jalanan akhirnya Adira tiba juga di sebrang rumah Ibu mertuanya, tinggal menyebrang sedikit lagi maka sampailah Adira di rumah Ibu mertuanya.
Samar-samar Adira melihat Ibu mertuanya yang sedang berdiri di teras rumah memanggil dirinya sambil melambaikan tangan ke arahnya.
" Adira cepetan sini. " panggil Nuryati yang berteriak sambil melambaikan tangannya.
Adira yang kepalanya semakin bertambah pusing dan pandangannya yang juga semakin mengabur, membuat dirinya jadi kurang berhati-hati dalam menyebrang jalan dan.
Braaaakkk...
Adira tertabrak oleh sebuah mobil hingga tubuhnya terpental dan jatuh ke aspal dalam sisi terlungkup. Nuryati yang melihat hal itu langsung berteriak panik, namun bukannya langsung menolong Adira, Nuryati malah sibuk mengumpulkan uang gaji Adira yang berhamburan di jalanan.
Adira yang terpental lalu jatuh ke aspal langsung tidak sadarkan diri dan darah segar mengalir dari kedua paha Adira hingga membasahi gamis berwarna pink muda yang sedang dia gunakan.
" Tolong ada yang tertabrak mobil. " teriak Susi yang kebetulan sedang berada di depan kedai (warung) miliknya dan dia melihat semua kejadian itu.
Susi dan warga sekitar yang melihat hal itu langsung menolong Adira dan membawanya ke rumah sakit dengan menggunakan mobil milik salah satu warga.
" Mbak Yati tolongin Adira dulu? " teriak Susi yang bicara pada Nuryati yang masih asik mengumpulkan uang tersebut.
" Kamu aja sama yang lain bawa Adira ke rumah sakit Mbak harus mengumpulkan uang-uang ini jangan sampai di ambil orang lain. " jawab Nuryati.
" Astaghfirullah Mbak Yati kok malah mikirin uang sih keselamatan Adira dulu ya lebih di utamakan. " teriak Susi lagi sementara warga yang lainnya sedang menggotong tubuh Adira.
" Gawat dia pendarahan sepertinya keguguran. " celetuk salah satu ibu-ibu saat melihat ada darah yang menetes dan kebetulan Ibu tersebut mengetahui prihal kehamilan Adira.
" Astaghfirullah iya bener ayo cepetan masukin ke dalam mobil. " teriak Ibu yang lainnya.
" Yati tinggalkan ajang itu keselamatan menantu kamu lebih di utamakan. " seru Tetangga Nuryati.
" Apa katamu tinggalkan aja, ooooh tidak bisa uang ini harus saya selamatkan terlebih dahulu dari pada nanti di ambil sama kalian-kalian ini. " bentak Nuryati yang lebih mementingkan uang dari pada nyawa menantunya.
__ADS_1
" Astaghfirullah. " semua yang ada di sana mengucap istighfar saat mendengar ucapan Nuryati yang sangat tidak berprikemanusiaan.
" Sudah dari pada menunggu Mbak Yati kita bawa saja duluan, nyawa Adira jauh lebih penting. " usul Susi yang ikut masuk ke dalam mobil.
Akhirnya Susi dan beberapa warga lainnya langsung membawa Adira menuju ke rumah sakit sedangkan Nuryati di tinggalkan begitu saja karena dia masih sibuk dengan uang-uang tersebut.
Sementara itu mobil yang menabrak tubuh Adira langsung melarikan diri dengan kecepatan penuh menuju ke arah kota.
Warga yang menolong Adira memacu laju roda empatnya menuju ke rumah sakit yang jaraknya lumayan jauh dari tempat mereka tinggal.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit akhirnya mobil tersebut tiba di rumah sakit dan tubuh lemah Adira langsung di bawa ke ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan.
" Ya Allah semoga Adira dan kandungannya baik-baik saja. " batin Susi berdoa di dalam hati.
Setelah Adira mendapatkan pertolongan warga yang lain langsung pamit pulang karena mereka memiliki urusan yang harus di selesaikan, satu-satunya yang masih menunggu di depan IGD adalah Susi.
Walaupun Adira bukan bagian dari keluarganya, namun Susi merasakan khawatir, gelisah dan ketakutan yang sama seperti saat anggota keluarganya mengalami kecelakaan juga.
Setelah 45 menit menunggu akhirnya Nuryati tiba juga di depan ruang IGD dengan kacamata hitamnya dan ekspresi wajahnya pun terlihat biasa saja seperti tidak ada kejadian apapun.
" Bagaimana Adira? " tanya Nuryati to the point saat dia sudah berdiri di samping Susi.
" Adira masih di dalam Mbak. " jawab Susi yang masih terlihat jelas wajah kekhawatirannya.
" Duduk saja Susi santai, Adira gak apa-apa paling cuma luka kecil doang. " ucap Nuryati yang selalu menggampangkan segalanya.
" Astaga Mbak Yati kenapa bisa sesantai itu sih padahal yang di dalam anak menantu Mbak Yati sendiri loh! Aku aja yang bukan siapa-siapanya sekhawatir ini. " tutur Susi.
" Ya ngapain Mbak harus khawatir? kan udah di bilang paling cuma luka kecil. " sahut Nuryati yang mendudukkan dirinya di kursi tunggu dengan posisi kaki yang di silang.
Baru saja Nuryati duduk dokter yang menangani Adira keluar dari dalam ruangan IGD.
__ADS_1
" Dengan keluarga pasien Adira? " ucap dokter memanggil.
" Mbak itu dipanggil. " ujar Susi memberitahu Nuryati.
Dengan bola mata yang diputar Nuryati dengan terpaksa bangkit dari duduknya walaupun sebenarnya dia sangat malas.
" Iya dok saya. " ucap Nuryati yang terlihat ogah-ogahan.
" Begini bu dengan berat hati saya harus menyampaikan bahwa bayi yang ada di dalam kandungan pasien tidak dapat kami selamatkan dan kami meminta persetujuan dari pihak keluarga untuk melakukan operasi pengangkatan janin. " tutur dokter tersebut.
" Oh gitu ya dok, ya udah di operasi saja. " jawab Nuryati dengan santainya.
" Baiklah Bu tapi di mohon pada pihak keluarga untuk segera menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu, saya permisi. " tutur dokter itu lagi yang kembali masuk ke dalam ruang IGD.
" Astaghfirullah. " ucap Susi yang sangat terkejut saat mendengar penuturan dokter tersebut.
Setelah dokter itu pergi bukannya segera menuju ke bagian administrasi Nuryati malah kembali duduk di ruang tunggu dengan kaki yang disilang.
" Mbak kok duduk di sini, Mbak nggak kebagian administrasi? " tanya Susi.
" Ngapain Saya harus ke bagian administrasi. " jawab Nuryati yang berpura-pura bodoh.
" Astagfirullah Mbak kok ngapain sih! ya Mbak harus membayar biaya operasinya dong Mbak kasihan Adira di dalam jika operasi tidak segera dilaksanakan. " seru Susi.
" Gak ada uang. " jawab Nuryati singkat.
" Ya Allah Mbak gunakanlah hati nuranimu sedikit saja Mbak, walaupun memang mbak tidak menyukai Adira tapi ayolah jangan seperti itu nyawa Adira yang jadi taruhannya Mbak, setidaknya Mbak hubungi orang tuanya atau siapa lah yang bisa membantu. "ucap Susi lagi.
Nuryati yang awalnya malas membayar biaya operasi Adira mendadak langsung bangkit dari duduknya dan segera menuju ke bagian administrasi karena Nuryati mempunyai sebuah rencana yang sangat bagus.
" Iya iya Mbak ke sana sekarang. " seru Nuryati yang mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruang IGD.
__ADS_1
Susi tersenyum lega karena akhirnya Nuryati mau membayar biaya operasi Adira, setelah mengurus semua administrasinya Nuryati kembali ke depan ruang IGD dan operasi pengangkatan bayi yang di dalam kandungan Adira pun segera dilaksanakan.