
Selama dalam perjalanan kembali pulang ke desanya Adira senyum-senyum sendiri mengingat bagaimana posesifnya Rendra padanya padahal mereka belum memiliki hubungan apa pun.
" Mas Rendra, Mas Rendra ternyata kamu selucu itu kalau sudah jatuh cinta. " Batin Adira yang tersenyum sambil melihat ke arah luar jendela mobil.
" Ya Allah semoga untuk yang kali ini benar-benar jodoh hamba sampai ke Jannah. " Doa Adira di dalam hati.
Setelah menempuh waktu selama beberapa jam akhirnya mobil yang Adira naiki mulai memasuki kawasan desanya, sejak mobilnya masuk perbatasan desa dari dalam mobil Adira dapat melihat banyak pasang mata yang melihat ke arahnya apa lagi mobil yang Adira naiki saat ini merupakan sebuah mobil mewah yang sangat bagus, bersih dan mengkilap.
Banyak warga yang saling berbisik serta penasaran siapa gerangan orang yang ada di dalam mobil mewah tersebut, apa lagi baru kali ini ada mobil semewah ini masuk ke desa mereka.
" Rumahnya yang mana Mbak? " tanya Agus yang sekarang sudah resmi menjadi supir pribadi Adira.
" Sedikit lagi Pak itu rumahnya cat warna putih. " Ujar Adira menjawab.
Setelah itu Agus segera membelokkan mobilnya ke halaman rumah yang di tunjukkan oleh Adira tadi.
" Pak Agus mau istirahat dulu atau mau langsung kembali? " Adira bertanya sebelum dirinya keluar dari dalam mobil.
" Saya di perintahkan Mas Rendra untuk tetap berada di sini Mbak. " Agus menjawab dengan sopan.
" Ya sudah Pak kalau begitu Pak Agus ikut masuk saja istirahat di dalam? " ajak Adira sambil bersiap-siap untuk turun.
" Terima kasih Mbak tapi saya di luar saja enakan di sini adem Mbak. " Agus menyahut sambil tersenyum kecil.
" Ya sudah Pak kalau begitu saya masuk dulu. " Adira segera keluar dari dalam mobil sambil membawa tas pakaian miliknya.
Para tetangga yang penasaran sangat terkejut saat melihat Adira yang keluar dari dalam mobil mewah tersebut. Semua saling berbisik satu sama lainnya namun Adira tidak memperdulikan hal itu dan Adira terus melangkahkan kakinya menuju ke pintu rumah orangtuanya yang masih tertutup rapat.
Tok..
Tok...
__ADS_1
Tok...
" Assalamualaikum Ibu, Ayah. " Adira mengetuk pintu sambil mengucap salam.
" Wa'alaikumsalam salam. " Khadijah menjawab dari dalam rumahnya.
Ceklek...
Khadijah membuka pintu rumahnya dan betapa terkejutnya dia saat melihat putrinya yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.
" Ya Allah Adira kamu pulang kok gak ngabarin Ibu. " Khadijah berucap sambil memeluk putrinya karena dirinya selalu merindukannya.
" Iya Bu Adira kan mau buat kejutan. " Adira menjawab sambil mencium punggung tangan Ibunya.
Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam rumah sedangkan Agus duduk di kursi panjang yang ada di bawah pohon rambutan depan rumah orangtua Adira.
" Ayah mana Bu kok gak ada di rumah? " Adira bertanya sambil celingukan mencari keberadaan Ayahnya.
" Ayah lagi di rumah Pak kades ada urusan mendadak tadi, tapi kok tumben kamu tiba-tiba pulang sayang apa ada sesuatu yang penting? " Khadijah bertanya sambil tersenyum penuh arti ke arah putrinya.
" Oh iya Ibu hampir lupa, jadi apa jawaban kamu atas pinangan anaknya majikan kamu itu? " Khadijah bertanya dengan wajah yang penasaran.
Kedua pipi Adira langsung merona saat di beri pertanyaan seperti itu oleh Ibunya, melihat kedua pipi anaknya merona Khadijah sudah dapat menarik kesimpulan jawaban apa yang di berikan oleh putrinya.
" Kalau Ibu tebak pasti kamu menerima pinangannya kan? " celetuk Khadijah dan Adira pun mengangguk malu-malu.
" Alhamdulillah tapi boleh Ibu tau apa alasannya kamu menerima pinangan dari anak majikan kamu itu? " Khadijah bertanya sambil menatap wajah putrinya dalam-dalam.
Sebelum menjawab Adira memperbaiki posisi duduknya terlebih dahulu agar lebih nyaman saat berbicara nanti.
" Adira juga gak tau sih Bu sebenarnya alasan apa yang membuat Adira menerima pinangan Mas Rendra, tapi yang pasti Adira hanya mengikuti jawaban dari sholat istikharah yang Adira lakukan selama tujuh hari berturut-turut Bu. " jawab Adira dengan jujur.
__ADS_1
" Kalau Ibu boleh tau apa kamu mencintai nak Rendra? " Khadijah bertanya sembari menatap lekat wajah putrinya.
" Sejujurnya belum Bu, untuk sekarang Adira hanya menjalani apa yang sudah Allah SWT gariskan untuk Adira. " Adira menjawab dengan jujur.
Khadijah tersenyum lembut ke arah putrinya sambil mengusap lembut kepalanya yang masih tertutup hijab.
" Tidak apa-apa nanti seiring dengan berjalannya waktu dan seringnya kalian bersama cinta pasti akan tumbuh di hati kamu sayang. " Seru Khadijah sambil terus mengusap lembut kepala putrinya.
" Semoga saja Bu, oh Iya Bu Mas Rendra dan keluarganya akan datang ke rumah 3 hari lagi untuk meminang secara resmi. " Adira memberitahukan Ibunya selagi dirinya ingat.
" Astaghfirullah 3 hari lagi, kenapa dadakan sekali nak? Tapi ya sudahlah kamu istirahat saja dulu nanti biar Ibu yang membicarakan hal Ini dengan Ayah. " Khadijah menyahut dengan wajah yang sedikit panik.
Setalah itu Adira langsung masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, namun dirinya baru teringat akan ponselnya yang di letakkan di dalam tas selempang miliknya.
Saat menyalakan ponselnya Adira terkejut mendapati banyaknya pesan dan panggilan tak terjawab dari Rendra.
" Astaghfirullah banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab nya. " gumam Adira sambil membuka salah satu pesan terakhir yang di kirimkan oleh Rendra.
" Sayang kamu sudah sampai belum? Tolong kasi kabar jangan buat Mas khawatir seperti ini. " tulis Rendra pada pesan singkat yang di baca oleh Adira.
Adira tersenyum saat membaca pesan tersebut, lalu tidak lama dari itu ponselnya kembali berbunyi dan muncullah nama Rendra dilayar ponselnya. Karena tidak ingin membuat Rendra semakin khawatir Adira segera menjawab panggilan telepon dari calon suaminya itu.
" Assalamualaikum Mas. " Adira menyapa dengan suara lembutnya.
" Wa'alaikumsalam ya Allah sayang kamu dari mana saja sih? Kenapa baru angkat telpon Mas? kenapa pesan Mas gak ada yang kamu baca? Kamu bikin Mas khawatir tau gak? " Cerocos Rendra yang memang benar-benar mengkhawatirkan Adira.
" Maafin Adira ya Mas tadi ponselnya Adira silent jadi gak tahu kalau Mas menelpon. " Adira menjawab sambil tersenyum malu-malu walau pun Rendra tidak dapat melihat senyumannya.
" Astaga sayang, Mas hampir aja mau nyusulin kamu ke desa tau gak? Karena Mas takut terjadi apa-apa sama kamu. " Rendra menyahut dengan suara yang terdengar lega.
" Maafin Adira ya Mas udah buat Mas Rendra sekhawatir itu? " Tutur Adira yang merasa bersalah.
__ADS_1
" Tidak apa-apa sayang tapi yang terpenting kamu baik-baik saja di sana, ya sudah kamu istirahat dulu sana pasti capek habis perjalanan jauh, Assalamualaikum. " Seru Rendra yang meminta Adira untuk segera beristirahat.
" Iya Mas, terima kasih ya sudah mengkhawatirkan Adira, Wa'alaikumsalam. " Adira menjawab lalu penggilan telponnya pun terputus.