
Selesai makan David segera meninggalkan rumahnya menuju ke rumah sakit untuk mengantarkan pakaian Adira. Sampai di rumah sakit, David segera melangkah menuju ke ruang perawatan Adira.
Ceklek...
David membuka pintu tersebut lalu terlihatlah Adira yang sedang terlelap, dengan langkah yang pelan David meletakkan tas pakaiannya di atas meja dan dia lanjut melangkah mendekat ke ranjang.
David memandang wajah Adira yang tertidur lelap dengan mata yang sembab dan bekas tetesan air mata yang masih terlihat jelas di pipinya.
" Maafin Mas Adira, semoga ini jadi yang terbaik untuk kita? Jujur Mas masih sangat mencintai kamu, tapi Mas juga menginginkan hadirnya seorang anak. Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri Adira Farhana. " ucap David dengan pelan, lalu dia segera meletakkan tas selempang milik Adira di atas meja samping ranjang.
Setelah itu David buru-buru keluar dari ruang perawatan Adira menuju ke parkiran untuk mengambil motor miliknya. David melajukan kendaraan roda duanya dengan kecepatan lambat.
Entah apa yang David rasakan saat ini, tapi yang pasti dirinya berat untuk melepaskan wanita yang masih sangat dia cintai, namun disisi lain dirinya juga menginginkan hadirnya seorang anak yang akan menemani hari-harinya. Dan jika dirinya tetap bertahan dengan Adira sampai kapan pun dia tidak akan pernah memiliki buah hati.
Begitu sampai di rumahnya David sudah di sambut oleh Nuryati dan juga Aura yang sudah menunggunya di ruang tamu. Tanpa mengucapkan salam David langsung masuk begitu saja ke dalam rumahnya.
" David sini dulu nak? " Ibunya memanggil dari ruang tamu sembari melambaikan tangan ke arahnya.
Dengan langkah pelan David mendekat ke arah Ibunya lalu dirinya duduk di sofa single yang ada di ruang tamunya.
" David aku turut berduka cita atas meninggalnya calon anak kamu? " tutur Aura yang menyampaikan rasa belasungkawanya pada David.
" Terima kasih Aura. " jawab David sembari menarik sedikit garis senyumnya.
__ADS_1
" David sekarang kamu dan Adira kan sudah berpisah, jadi bagaimana kalau kalian berdua menikah saja? " usul Nuryati menyampaikan keinginannya pada David.
" Bu bisa tidak kita jangan membahas soal itu dulu, aku baru saja kehilangan calon anakku dan aku juga baru berpisah dari Adira. gugatan ke pengadilan saja belum aku urus, bagaimana mungkin aku bisa menikah lagi Bu. " jawab David yang terdengar keberatan dan tidak setuju dengan usul ibunya.
" Ibu tahu David, tapi sudah cukup lama dan sudah cukup sabar Aura menunggu kamu selama ini, lagi pula semakin cepat kamu dan Aura menikah maka akan semakin cepat pula kalian akan memiliki buah hati. Ibu yakin Aura pasti bisa memberikan kamu anak bukan hanya satu tapi banyak benar kan Aura? " tutur Nuryati menjelaskan sembari meminta dukungan pada Aura.
" Iya David kamu jangan khawatir, begitu kita menikah aku bersedia untuk langsung mengandung anak kamu dan aku juga sudah memeriksakan diri ke dokter kandungan dan beliau berkata bahwa aku sehat, subur dan kandunganku pun kuat, Jadi aku yakin jika kita menikah bulan depannya aku pasti sudah hamil David, percayalah padaku? " ucap Aura yang sedang merayu dan meyakinkan David untuk mau menikah dengannya.
David yang begitu terpukul karena kehilangan calon buah hatinya, nampak tertarik dengan ucapan Aura karena sejak awal dirinya menikah dengan Adira, David sudah sangat mendambakan hadirnya buah hati.
" Tapi aku dan Adira belum bercerai secara resmi. " ujar David yang masih memikirkan tentang statusnya.
" Kamu jangan khawatir David, Ibu sudah membicarakannya dengan Aura dan Aura tidak masalah jika kalian menikah secara agama dulu, nanti setelah kamu dan Adira resmi bercerai barulah pernikahanmu dan Aura langsung disahkan secara negara juga. " tutur Nuryati menjelaskan.
David nampak terdiam memikirkan semua ucapan yang dilontarkan oleh Ibunya dan juga Aura, hatinya menolak untuk menikah dengan Aura, tetapi egonya memaksa agar David mau menikah dengan Aura. Setelah cukup lama berperang antara hati dan egonya akhirnya David mengambil sebuah keputusan besar.
" Bagaimana David Kamu mau tidak menikah denganku? " Aura mengulang pertanyaannya dengan jantung yang berdetak dengan sangat kencang, begitu juga dengan Nuryati yang sudah sangat tidak sabar menanti jawaban putranya. Dan Nuryati berharap semoga putranya mau menikah dengan Aura wanita pilihannya yang menurut dia sangat pantas dan sangat cocok mendampingi putranya yang mapan dan juga tampan.
" Baiklah aku mau menikah dengan kamu. " jawab David yang setuju untuk menikah dengan Aura, walaupun dirinya tidak mencintai Aura, tetapi dengan menikah dengan Aura dia akan segera memiliki buah hati yang sudah sangat dia idamkan dan juga impikan.
Nuryati dan Aura langsung tersenyum lebar dan merasa lega saat David menyatakan setuju untuk menikah dengan Aura.
" Bagus David, kalau begitu kapan kamu mau menikah dengan Aura? "ujar Nuryati bertanya dengan wajah berseri bahagia.
__ADS_1
" Terserah Ibu dan Aura saja kapan pernikahan itu akan dilaksanakan, sudah ya Bu aku mau ke kamar dulu, aku mau istirahat, aku capek. " jawab David yang mulai bangkit dari duduknya lalu melangkah meninggalkan ruang tamu menuju ke kamarnya.
" Iya David kamu istirahatlah, Ibu akan mendiskusikannya dengan Aura. " sahut Nuryati sembari menatap putranya yang berjalan semakin menjauh lalu menghilang masuk ke dalam kamarnya.
Setelah David pergi, baik Nuryati maupun Aura mereka tertawa dengan lebar karena semua yang mereka rencanakan sebentar lagi akan segera terwujud.
" Akhirnya ya Tante penantian kita selama ini tidak sia-sia. " ucap Aura yang masih menyunggingkan senyum bahagianya.
" Iya Aura kita tidak perlu capek-capek memisahkan mereka, malah takdir sendiri yang memisahkan mereka dengan caranya, dan sebentar lagi kamu akan resmi menjadi istrinya David. " sahut Nuryati yang sama bahagianya.
" Aku jadi gak sabar pengen cepat-cepat menikah dengan David Tante, jadi kapan akad nikah kami akan dilaksanakan Tante? " seru Aura yang bertanya dengan semangat.
" Hmm bagaimana kalau besok? " usul Nuryati yang sudah tidak sabar menjadikan Aura menantunya.
" Boleh juga Tante semakin cepat semakin baik, kalau begitu aku pulang dulu ya Tante mau memberikan kabar bahagia ini ke Ibu, Ibu pasti seneng banget. " jawab Aura yang menyetujui usul dari Nuryati.
" Ya sudah kamu hati-hati ya Aura Tante titip salam untuk Ibu kamu? " sahut Nuryati yang mengantarkan Aura sampai ke teras rumahnya.
" Iya Tante aku pulang dulu ya? " pamit Aura yang segera masuk ke dalam mobilnya, lalu mulai melajukan nya meninggalkan rumah Nuryati.
Aura terus melajukan roda empatnya dengan kecepatan sedang menuju ke rumahnya.
" Hahahaha gak sia-sia aku nabrak tu cewek bodoh, akhirnya aku gak perlu menunggu lama untuk bisa menjadi istrinya David. " ucap Aura yang tertawa dengan lebar di dalam mobilnya.
__ADS_1