Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 57


__ADS_3

David menambah laju kecepatan motornya hingga dia tiba di depan praktek dokter kandungan tersebut.


" Ayo sayang kita masuk? " ajak David saat mereka berdua sudah turun dari atas motornya.


Mereka berdua bergandengan tangan masuk ke dalam lalu mendaftar di bagian administrasi, selesai mendaftar mereka menunggu di kursi yang ada di depan ruang tunggu.


" Kok lama sekali ya sayang? " seru David yang tidak sabaran.


" Sabar Mas masih ada pasien lain di dalam. " jawab Adira tersenyum.


" Iya Mas tau sayang tapi Mas udah gak sabar pengen cepet-cepet memeriksakan kandungan kamu sayang. " ujar David lagi.


Adira tersenyum bahagia saat melihat antusiasme suaminya dalam menyambut kehamilannya ini.


" Ibu Adira Farhana? " ucap seorang suster memanggil nama Adira setelah mereka menunggu 45 menit lamanya.


" Ayo sayang kita masuk? " ajak David dengan semangat saat nama istrinya sudah di panggil.


Mereka berdua segera masuk ke dalam dan bertemu dengan seorang dokter wanita paruh baya.


" Selamat sore Ibu bapak, ada yang bisa saya bantu? " sapa dokter wanita yang bernama Dewi.


" Sore juga dokter saya mau memeriksakan kandungan istri saya. " jawab David dengan semangat.


" Waah Ayahnya antusias sekali ya? " ucap dokter Dewi lagi.


" Iya dong dok anak pertama saya ini. " sahut David.


" Baiklah kalau begitu Ibu Adira ayo naik ke atas ranjang biar kita periksa sekaligus USG. " ujar dokter Dewi.


GG aji


" Suster tolong di bantu ya? " titah dokter Dewi.

__ADS_1


" Baik dok. " jawab suster yang membantu dokter Dewi.


Adira segera naik ke atas ranjang lalu Adira pun berbaring dan suster tersebut menyingkap gamis yang Adira gunakan lalu mengoleskan sedikit gel yang terasa dingin saat mengenai permukaan kulit.


Setelah itu dokter Dewi segera menempelkan alat USG dan alat tersebut bergerak perlahan mencari di mana letak rahim Adira.


" Nah ini dia kantung kehamilannya dan yang kecil ini adalah janinnya, usianya saat ini sudah genap 8 minggu untuk ukurannya masih sebesar biji kacang tanah dengan panjang sekitar 1,6 cm dan berat 1 gram. Dan di minggu ke-8 ini, janin akan mengalami berbagai perkembangan, di antaranya tampilan wajah mulai terbentuk, dengan hidung dan kelopak mata yang mulai nampak, untuk kondisinya semuanya sehat dan normal. " tutur dokter Dewi menjelaskan.


Selama dokter Dewi menjelaskan Adira dan David mendengarkan dengan seksama sembari kedua netra mereka berkaca-kaca karena terharu mereka bisa melihat calon anak mereka untuk yang pertama kalinya apalagi saat mendengar detak jantungnya membuat Adira maupun David sama-sama meneteskan air matanya.


" Terimakasih ya Allah karena engkau telah menitipkan zuriatmu padaku. " Batin Adira sembari mengeluarkan air matanya.


Setelah USG Adira kembali turun dari atas ranjang dan mereka kembali duduk di depan dokter Dewi.


" Kondisi kandungan Ibu Adira sehat semuanya normal dan untuk di trimester awal ini di usahakan jangan melakukan aktifitas yang berat, jangan mengkonsumsi makanan mentah seperti sashimi, dan jangan mengkonsumsi nanas secara berlebihan. " tutur dokter Dewi menasehati.


Setelah itu David dan Adira mengajukan beberapa pertanyaan seputar kehamilan dan dokter Dewi selalu menjawab dan menjelaskannya secara rinci hingga mereka berdua paham dan mengerti.


Setelah itu mereka lanjut menebus vitamin yang sudah di resepkan oleh dokter Dewi.


" Kamu dengarkan penjelasan dari dokter Dewi tadi sayang jadi Mas minta sebaiknya kamu berhenti bekerja di rumah Ibu Hani dan untuk pekerjaan rumah, biar nanti Mas minta Ibu yang mengerjakannya untuk sementara waktu selama kamu sedang mengandung karena Mas tidak mau terjadi apapun dengan calon anak kita. " ucap David saat mereka baru saja selesai menebus obat.


" Iya Mas. " jawab Adira dengan patuh karena Adira pun tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk menimpa calon anak mereka.


" Pokoknya kamu harus banyak-banyak istirahat dan jangan sampai kelelahan. " ucap David lagi yang mendadak berubah menjadi over protektif.


" Iya Mas terimakasih ya sudah sepeduli itu dengan kehamilan Adira. " seru Adira sembari tersenyum bahagia.


" Sama-sama sayang yang kamu kandung kan anak Mas juga jadi sudah seharusnya Mas harus peduli dengan calon anak kita. " jawab David.


" Ya udah ayo naik Mas udah gak sabar ingin cepat-cepat memberitahukan kabar bahagia ini ke Ibu Daan yang lainnya. " ucap David lagi sembari mengeluarkan motornya dari parkiran.


" Hati-hati sayang. " tutur David saat Adira baru saja akan naik ke atas motor.

__ADS_1


Setelah Adira duduk dengan nyaman David segera melajukan motornya dengan kecepatan yang sangat pelan untuk kembali ke rumahnya.


" Mas kok lama banget sih bawa motornya? " protes Adira.


" Sayang kamu kan sedang mengandung kalau Mas bawa motornya kencang-kencang Mas takut terjadi sesuatu hal yang buruk dengan kandungan kamu sayang. " jawab David.


" Iya Adira tahu Mas tapi ya tidak selambat ini juga dong masak sama anak kecil yang naik sepeda lebih cepat dan anak kecil itu sih. " protes Adira saat melihat seorang anak SD yang sedang mengayuh sepeda lebih cepat daripada mereka yang sedang naik motor.


" Udah biarin aja sayang biar lambat asal selamat. " sahut David yang tetap melajukan motornya dengan sangat lambat.


Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu 45 menit sekarang berubah menjadi 1 jam 30 menit karena David melajukan motornya dengan sangat lambat sehingga mereka sampai di rumah pada pukul 09.00 malam.


Sepanjangan jalan Adira terus melayangkan protes pada suaminya namun David sama sekali tidak mendengarkan ocehan istrinya dan dia tetap melajukan motornya dengan sangat lambat, karena sudah lelah protes akhirnya Adira hanya diam saja sembari menikmati dinginnya angin malam.


" Hati-hati turunnya sayang pelan-pelan. " ucap David di saat mereka sudah sampai di rumah.


" Iya Mas. " jawab Adira, namun Adira yang sudah lelah langsung turun begitu saja dan hal itu membuat David khawatir.


" Sayang kan sudah mas bilang hati-hati nanti kalau jadi apa-apa dengan nama kita gimana? " omel David.


" Iya Mas maaf ya? " ucap Adira sembari memaksakan senyumnya.


" Iya udah tapi kamu hati-hati jangan seperti itu lagi Kamu bikin Mas jantungan aja. " Omel David lagi.


" Astagfirullah Mas Adira itu sedang hamil Mas bukan sedang patah tulang, jadi tidak perlu sampai segitunya sayang selagi tidak membahayakan anak kita Adira rasa itu tidak masalah Mas yang penting kan selalu berhati-hati tapi jangan sampai berlebihan juga. " ujar Adira.


" Iya Mas tahu sayang makanya Mas ingatkan kamu supaya kamu lebih berhati-hati lagi karena kamu orangnya sembrono sekali. " tutur David.


" Iya udah iya ni Adira jalannya pelan. " ucap Adira yang melangkahkan kakinya seperti pengantin Jawa.


" Nah begitu baru benar sayang. " seru David.


" Aaah kelamaan Mas Adira sudah ketinggalan sholat Isya. " ucap Adira yang melangkahkan kakinya dengan cepat dan hal itu membuat David kembali jantungan.

__ADS_1


__ADS_2