
Melihat Adira menangis Hani lantas berdiri lalu memeluk tubuh Adira dengan sayang seperti seorang Ibu yang sedang memeluk buah hatinya.
" Menangislah jika kamu ingin menangis Adira? " ucap Hani sembari mengusap lembut punggungnya.
Dalam dekapan Hani, Adira menumpahkan seluruh air matanya. Adira luapkan semua emosi, kesal, marah, sedih, hancur melalui air mata yang menetes di pipinya.
Rasa sesak yang tadi sempat sedikit berkurang sekarang kembali muncul bahkan rasanya lebih sesak hingga Adira merasa dia seperti kesulitan untuk bernapas.
Selama mengenal Adira baru kali ini Hani melihat sisi lemahnya dari seorang Adira, di mata Hani Adira merupakan seorang wanita yang penuh senyum, lemah lembut, dan positive vibes. Tidak pernah sekali pun Hani melihat Adira menangis, jangankan menangis melihatnya bersedih pun Hani sama sekali tidak pernah.
Hani menduga masalah yang sedang Adira hadapi adalah masalah yang besar karena melihat dari tubuhnya yang bergetar hebat dan suara tangisnya yang sangat menyayat hati.
" Teruslah menangis Adira luapkan semua emosi dan rasa sesak yang ada di dalam hati lewat air matamu. " ucap Hani lagi.
Cukup lama Adira menangis di dalam pelukan Hani hingga bajunya basah, namun Hani sama sekali tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Hingga beberapa saat kemudian tangis Adira mereda, lalu Adira pun melerai pelukan mereka.
" Ma-maaf Bu sudah membuat baju Ibu basah. " ucap Adira dengan suara yang terbata sambil menghapus sisa air mata yang mengalir di pipinya.
" Tidak apa-apa Adira, ini minum dulu supaya lebih enakan? " sahut Hani sembari memberikan segelas air untuk Adira.
" Terima kasih Bu. " Adira menerima gelas yang di berikan oleh Hani lalu meminumnya hingga kandas. Setelah Adira selesai minum Hani meletakkan gelasnya lagi di atas meja.
Hani menatap iba wajah Adira yang terlihat lesu, sedikit pucat, dan juga sembab karena kebanyakan menangis.
" Sebenarnya apa yang terjadi padamu Adira, kenapa kamu bisa sampai di rawat di rumah sakit seperti ini? " Hani bertanya sembari menatap wajah Adira dan memegang lembut punggung tangannya.
__ADS_1
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, Adira menarik napasnya dengan dalam lalu menghembuskannya lewat mulut secara perlahan-lahan.
" Sewaktu pulang dari rumah Ibu semalam Adira tertabrak mobil Bu. " ucap Adira yang memulai membuka ceritanya.
" Astaghfirullah, lalu bagaimana dengan kandungan kamu Adira? Dia tidak apa-apa kan? " seru Hani yang terkejut sampai membulatkan kedua matanya.
" Anak yang ada di dalam kandungan Adira meninggal dunia, Bu bahkan rahim Adira pun juga di angkat. " jawab Adira yang kembali meneteskan air matanya mengingat dia sudah kehilangan dua hal yang paling berharga di dalam hidupnya.
" Ya Allah. " seru Hani lagi yang benar-benar sangat terkejut sampai menutup mulutnya dengan tangan.
" Kamu yang Ikhlas, sabar dan kuat ya Adira? " ucap Hani yang semakin mengeratkan pegangan tangannya.
" Semuanya berputar dengan begitu cepatnya Bu, rasanya baru kemarin Adira merasakan kebahagiaan yang tiada tara, tapi sekarang dalam sekejap Allah mengambil semuanya bahkan sekarang Adira sudah tidak akan pernah bisa menjadi seorang Ibu lagi. " tutur Adira menjelaskan.
Hani yang sedari awal sudah iba semakin bertambah iba mendengar cerita Adira, tanpa sadar Hani ikut meneteskan air matanya. Hani tau bagaimana hancurnya hati seorang wanita saat kehilangan buah hatinya, apa lagi dengan kehilangan rahim sama saja dengan kehilangan separuh jiwanya.
" Tapi sayangnya tidak Bu, jangankan mendukung, mereka sama sekali tidak peduli. Bahkan Adira sudah di talak oleh Mas David sesaat setelah Adira baru saja sadar. " jawaban yang keluar dari mulut Adira membuat Hani semakin bertambah terkejut saja, sampai Hani merasa saat ini dia seperti sedang senam jantung.
" Astaghfirullah, tega sekali mereka Adira! lalu mereka tidak membayarkan biaya rumah sakit kamu juga? " tanya Hani lagi.
" Mereka hanya menanggung biaya operasinya saja Bu, sedangkan biaya perawatannya mereka meminta Adira untuk membayarnya sendiri tapi uang simpanan Adira di dompet hilang semua Bu. " jawab Adira dengan jujur.
" Ya Allah tega sekali mereka tapi ngomong-ngomong saya tidak pernah tau siapa suami dan Ibu mertua kamu Adira. " ujar Hani yang baru menyadari jika selama mereka kenal Hani sama sekali tidak mengetahui siapa suami dan juga ibu mertua Adira.
" Nama mantan suami David Aditya dan nama mantan Ibu mertua Nuryati Bu. " tutur Adira menjawab pertanyaan dari Hani.
__ADS_1
Hani mengerutkan dahinya merasa tidak asing dengan nama tersebut, namun tiba-tiba Hani teringat dengan nama teman arisannya.
" Apa maksud kamu Nuryati yang ini? " ucap Hani yang mengambil ponsel miliknya lalu menunjukkan foto Nuryati yang ada di dalam galeri ponselnya.
" Iya Bu, Ibu Hani kenal sama mantan Ibu mertua Adira? " tanya Adira yang terkejut.
" Bukan hanya kenal Adira tapi kenal banget karena Nuryati itu teman arisan saya, dan setau saya Yati sedang berencana untuk menjodohkan anaknya dengan anak salah satu teman arisan kami juga namanya. " jawab Hani menggantung karena ucapannya sudah di potong oleh Adira.
" Namanya Aura benar kan Bu? " celetuk Adira tiba-tiba.
" Iya Aura kamu kok tau Adira? Apa jangan-jangan Yati sudah mengatakannya padamu tentang rencananya? " sahut Hani.
" Iya Bu, bahkan Adira mengetahui hal itu sebelum Adira tau jika Adira sudah mengandung, tapi semenjak Adira mengandung Aura jadi jarang sekali datang ke rumah. " ujar Adira memberitahu Hani.
" Astaga Yati, saya sama sekali gak menyangka jika Yati bisa setega itu sama kamu Adira. " celetuk Hani sembari menggelengkan kepalanya.
" Tapi itu belum ada apa-apanya Bu, masih banyak rasa sakit dan kesedihan yang Ibu Nuryati berikan untuk Adira bahkan sejak awal Adira menikah dengan Mas David. " ucap Adira.
Setelah itu Adira menceritakan semua yang dia alami selamat tinggal di rumah Nuryati bahkan sejak hari pertama mereka menikah. Adira menceritakannya secara lengkap tanpa ada yang dikurangi ataupun yang dilebih-lebihkan dan hanya kepada Hani, Adira menceritakan semua kisahnya baik kisah yang menyenangkan ataupun kisah yang paling menyakitkan sekalipun.
Selama ini tidak ada yang tau, apa yang Adira alami selama tinggal di rumah Ibu mertuanya, bahkan kedua orang tuanya sekalipun tidak mengetahui apa yang sudah dialami oleh Putri mereka satu-satunya. Adira menutup rapat-rapat kisahnya dari siapapun.
Yang orang lain tahu Adira hidup bahagia bersama suami dan juga ibu mertuanya, padahal yang mereka tidak ketahui adalah Adira hidup tertekan dan juga menderita. Tapi Adira tidak ingin menceritakannya pada siapapun karena hal itu adalah aib suaminya dan sebagai seorang istri Adira harus menutup rapat-rapat aib suaminya jangan sampai ada satu orang pun yang tahu.
Tapi sekarang semuanya sudah berubah, tidak ada lagi yang harus Adira tutup-tutupi karena David bukanlah suaminya lagi. Lagi pula Adira percaya jika Hani adalah orang yang baik dan tidak akan mungkin menceritakan kisahnya pada orang lain.
__ADS_1
Selama mendengar cerita dari Adira perasaan Hani dibuat campur aduk antara sedih melihat nasib Adira yang dizalimi oleh ibu mertua dan juga suaminya, dan juga geram serta emosi melihat kelakuan mereka yang sudah sangat keterlaluan.