
" Astaghfirullah Mas, Adira gak nyangka ibu bisa mengalami hal seperti itu? " ucap Adira terkejut.
" Itu salah satu alasan kenapa Mas gak mau nyakitin Ibu, Ibu udah terlalu sakit karena Ayah jadi Mas gak mau ibu semakin bertambah sakit karena Mas juga. " tutur David menjelaskan.
" Apa ini juga yang menjadi alasan kenapa bulek Laila berkata Ibu yang sekarang sudah banyak berubah Mas? " tanya Adira.
" Iya sayang, kalau begitu kita tidur saja yuk gak usah di bahas lagi. " sahut David yang melanjutkan langkah kakinya menuju ke dalam kamar.
Sebelum ikut ke kamar, Adira mematikan televisi lalu memastikan pintu dan jendela sudah tertutup dengan rapat barulah Adira masuk ke kamar menyusul suaminya.
Sementara itu....
Di dalam kamarnya Nuryati sedang menangis sambil menatap foto pernikahannya dengan sang suami dan sejak tadi pula air matanya tak berhenti menetes.
Di balik rasa sakitnya, masih terselip sedikit rasa rindu untuk laki-laki yang pernah mengisi hatinya dan menemani hari-harinya selama puluhan tahun.
" Kenapa kamu melakukan hal ini padaku bang? Apa salahku? Padahal aku sangat mencintai kamu? " gumam Nuryati dengan pelan.
" Karena kamu hidupku jadi berantakan bang, setiap hari aku harus hidup dalam ketakutan. Aku takut anak-anakku akan mengalami nasib yang sama sepertiku, aku takut anak-anakku dikhianati oleh pasangannya sama seperti kamu menghianati aku. "
" Tapi aku gak akan biarkan anak-anakku di sakiti oleh pasangannya, jika perlu aku akan membuat merekalah yang akan menyakiti pasangannya. " gumam Nuryati yang sekarang sudah terlihat kilatan api dendam lewat sorot matanya.
" Dan akan aku pastikan anak-anakku tidak akan pernah meninggalkan aku sama seperti kamu yang meninggalkan aku bang. "
Praaangg...
Nuryati melempar foto tersebut ke dinding hingga pecah berantakan, Nuryati langsung tersenyum smirk saat melihat figura yang sudah hancur tersebut. Setelah itu Nuryati langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya.
Keesokan harinya...
Rutinitas yang Adira lakukan masihlah seperti biasanya, untuk hari ini Adira menyisakan sedikit nasi dan lauk untuk dirinya sendiri tanpa sepengetahuan dari Ibu mertuanya.
" Beresin kamar Ibu sekarang. " titah Nuryati yang baru saja bangun tidur sudah langsung menuju ke dapur.
__ADS_1
" Iya Bu. " jawab Adira yang langsung meninggalkan dapur menuju ke kamar Ibu mertuanya.
Sampai di dalam kamar seperti biasa suasana sangat gelap karena Nuryati tidur harus dalam keadaan gelap gulita.
Adira yang tidak tahu jika di dalam kamar Ibu mertuanya terdapat banyak pecahan kaca berjalan seperti biasanya menuju ke arah jendela.
Tapi beberapa langkah lagi dia sampai di dekat jendela, kaki kirinya menginjak salah satu pecahan kaca tersebut hingga kakinya berdarah.
" Astaghfirullah. " ucap Adira yang terkejut saat merasakan ada yang menusuk di kaki kirinya. Secara spontan Adira jatuh terduduk dan beruntung tidak ada pecahan kaca di tempat Adira terjatuh.
" Astaghfirullah sakit sekali. " ucap Adira lagi sambil memegang kaki kirinya.
Namun saat menyentuh telapak kakinya Adira merasakan seperti ada cairan yang basah.
" Kok telapak kaki Adira basah. " ucap Adira dan dia langsung mencium tangannya yang ternyata itu adalah darah.
" Astaghfirullah darah. " ucap Adira yang sangat terkejut.
Dengan perlahan Adira bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan keluar dari dalam kamar Ibu mertuanya.
" Ibu tolong. " ucap Adira lagi yang masih berjalan tertatih-tatih dan perlahan-lahan.
Saat berjalan sakit di kakinya semakin bertambah nyeri, ngilu dan rasanya sangat luar biasa sakitnya.
Sementara Nuryati yang sedang makan hanya diam saja dan tidak peduli dengan suara minta tolong dari menantunya Adira.
Adira masih berjalan tertatih-tatih menuju ke ruang keluarga untuk mengambil kotak p3k. Setelah mendapatkan apa yang di cari, Adira segera mengobati kakinya yang ternyata masih terdapat pecahan kaca kecil yang menancap di telapak kakinya.
" Sssttt aaww sakit banget, Astaghfirullah. " gumam Adira saat mencabut pecahan kaca tersebut.
Adira segera mengobati lukanya agar jangan sampai terjadi infeksi.
" Kenapa kamu? " tanya Nuryati yang ingin menonton televisi.
__ADS_1
" Kena pecahan kaca Bu, Ibu kok gak bilang sama Adira jika di dalam kamar Ibu ada pecahan kaca, kalau Ibu bilang kan Adira bisa lebih berhati-hati dan tidak sampai terkena pecahan kaca seperti ini. " sahut Adira.
" Makanya kalau jalan itu hati-hati jangan sembarangan, lagi pula kamu sendiri yang salah jalan nggak lihat-lihat. " ujar Nuryati dengan cuek.
" Adira bukannya nggak hati-hati Bu tapi kamar Ibu kan sangat gelap jadi Adira mana kelihatan jika di lantai ada pecahan kaca. " ucap Adira lagi.
" Kalau itu sih bukan urusan ibu, udah sana beresin kamar Ibu dan ingat jangan sampai ada pecahan kaca yang tertinggal Ibu nggak mau ya sampai kaki Ibu kena pecahan kaca sama seperti kamu. " titah Nuryati yang sama sekali tidak iba dengan kejadian yang Adira alami.
Adira yang masih fokus mengobati lukanya hanya diam saja dan tidak menjawab ucapan dari ibu mertuanya.
" Udah sana beresin kamar Ibu ngapain diem aja, setelah ini Ibu mau mandi udah sana beresin. " titah Nuryati dengan suara yang lebih meninggi.
Adira yang sudah selesai mengobati lukanya secara perlahan bangkit berdiri dan kembali berjalan tertatih-tatih menuju ke kamar ibu mertuanya.
" Astagfirullah ibu nggak ada rasa kasihan dan ibanya sedikitpun sama Adira. " gumam Adira dengan pelan.
Kali ini sampai di dalam kamar Ibu mertuanya Adira langsung menekan tombol saklar lampu agar dirinya dapat melihat di mana saja yang terdapat pecahan kaca.
Setelah lampunya menyala dengan hati-hati Adira membereskan dan membersihkan kembali kamar Ibu mertuanya hingga semuanya rapi dan tidak ada lagi pecahan kaca yang tertinggal.
Karena kakinya yang masih terasa sangat sakit Adira membereskan kamar Ibu mertuanya membutuhkan waktu yang lebih lama daripada biasanya.
" Ngapain aja kamu sih di dalam lama banget? tidur kamu di kamar ibu? " gerutu Nuryati yang ternyata sedang menunggu di kursi yang ada di dekat pintu kamarnya.
" Tidak Bu, kaki Adira kan sedang sakit jadi Adira membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membersihkan kamar ibu. " jawab Adira yang masih bisa bersabar.
" Alah kamu ini pintarnya alasan aja, udah sana minggir Ibu mau mandi. " sahut Nuryati yang langsung menutup pintu kamarnya.
Braaakkk...
Nuryati menutup pintu kamarnya dengan keras hingga membuat Adira terlonjak kaget.
"Astagfirullah ibu. " ucap Adira sambil mengelus dadanya sendiri.
__ADS_1
Adira berlalu dari depan kamar Ibu mertuanya sambil membawa kantong plastik yang berisi sampah sekaligus pecahan kaca menuju ke depan rumah untuk dibuang ke tong sampah.
Selesai membuang sampah Adira langsung menuju ke meja makan dan ternyata dugaannya benar ibu mertuanya menghabiskan seluruh makanan dan tidak menyisakan sedikitpun untuknya. Beruntung Adira sudah menyisakan makanan untuk dirinya sendiri hingga siang ini Adira masih bisa makan dengan enak.