Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 86


__ADS_3

Jika di sini Adira dan keluarganya sedang berbahagia berbeda dengan Nuryati yang sedang uring-uringan karena nasibnya kian memburuk. Jangankan untuk belanja barang mewah seperti dahulu, untuk makan sehari-hari pun Nuryati sangat kesusahan karena Sinta semakin lama semakin sedikit mengirimkannya uang, sedangkan David sudah tidak bisa di harapkan lagi karena hidupnya sudah di setir oleh istrinya Aura.


Nuryati sangat stres melihat pantulan dirinya di cermin yang sudah seperti nenek-nenek karena dirinya sudah tak mampu untuk membeli skincare apa lagi perawatan di salon. Kulitnya yang putih sudah mulai berubah menjadi kecoklatan, rambutnya sudah banyak yang memutih karena sudah tak sanggup lagi mewarnai rambutnya. Wajahnya juga ikut menjadi kecoklatan dengan keriput yang sudah bertebaran dimana-mana.


" Aaaakkkhhh kenapa jadi begini sih? Aku sudah seperti nenek tua. " berang Nuryati yang masih belum bisa menerima keadaannya yang sekarang.


" Ini semua gara-gara Aura BERENGSEK dia sudah mengambil semua uangnya David jadi aku tidak bisa belanja dan perawatan lagi sialaaan. " teriak Nuryati sambil melempar bantal dan selimutnya ke sembarang arah.


Kruuukk...


Perut Nuryati berbunyi karena sejak pagi dia belum makan apa pun.


" Aaah punya menantu Aura bukannya makin hidup senang malah makin sengsara, masih mending Adira dulu aku masih bisa hidup mewah. " gumam Nuryati yang kembali teringat dengan Adira yang selalu mengalah dan menuruti semua yang dia inginkan.


" Aku jadi menyesal sudah membuat David bercerai darinya, sebenarnya dia anak yang baik, sopan santun dan selalu menghargai aku sebagai Ibu mertuanya tapi bodohnya aku malah membenci dia dan lebih memilih Aura yang ternyata sangat jahat. " gumam Nuryati lagi yang semakin menyesali perbuatannya.


" Sekarang dia ada di mana ya? Aku ingin minta maaf padanya dan aku juga ingin dia bisa kembali lagi bersama David. " ucap Nuryati yang mulai meneteskan air matanya.


Kruuukk...


Perutnya kembali berbunyi dan dengan terpaksa Nuryati keluar dari dalam kamar untuk meminta uang pada putranya David.


" David ibu minta uang mau beli makanan dari pagi Ibu belum makan, laper? " pinta Nuryati berbicara pada putranya yang sedang memijat kaki istrinya yang sedang nonton televisi sambil makan cemilan.


" Maaf Bu aku tidak punya uang. " David menjawab sambil menunjukkan raut wajah bersalahnya.


" Aura aku minta uang untuk Ibu kasihan belum makan? " David meminta uang pada istrinya sambil terus memijat kakinya.

__ADS_1


" Aku tidak punya uang. " jawab Aura sambil terus menonton televisi.


" Ayo lah Aura seratus ribu saja untuk Ibu. " pinta David lagi.


" Aku bilang tidak ada uang ya tidak ada uang, maksa banget sih. " bentak Aura sambil menarik kakinya secara paksa.


" Aku kan baru terima gaji semalam Aura, pasti uangnya masih ada sama kamu. " sahut David yang masih terus berusaha untuk membujuk istrinya.


Aura yang emosi langsung bangkit sambil berkacak pinggang di hadapan suaminya yang ikut berdiri juga.


" Dengarkan aku ya David uang yang kamu kasi ke aku itu semuanya aku gunakan untuk membiayai anak ini, jika kamu keberatan dan tidak suka bilang saja biar aku gugurkan bayi ini sekarang juga. " Bentak Aura sambil menunjuk-nunjuk wajah David.


" Gak sopan kamu Aura, David itu suami kamu tolong hargai dia. " berang Nuryati yang tidak terima putranya di perlakukan seperti itu.


" Kalau Ibu gak terima aku membentak suamiku makanya Ibu kerja cari uang sendiri jangan jadi benalu, dan untuk kamu David kalau kamu berani menentang ku akan aku bunuh anak ini. " Ancam Aura sambil berlalu pergi dari ruang keluarga.


" Jadi bagaimana David Ibu lapar sekali? " ucap Nuryati dengan tangan yang bergetar karena kelaparan.


David bingung harus berbuat apa, lalu dia memeriksa kantung celananya dan beruntung dirinya menemukan uang pecahan 20 ribu rupiah.


" Alhamdulillah ini ada uang Bu, tapi hanya 20 ribu. " ucap David sambil menunjukkan uang yang ada di tangannya.


" Ya sudah tidak apa-apa yang terpenting Ibu masih bisa makan. " Nuryati menerima uang tersebut lalu dia segera pergi ke kedai Susi untuk membeli mie instan.


" Susi mie instannya dua dong? " pinta Nuryati saat dirinya sudah tiba di depan kedai Susi.


" Mau yang mana Mbak? " Susi bertanya sambil menunjukkan deretan mie instan yang ada di kedainya.

__ADS_1


" Yang paling murah saja? " pinta Nuryati dan Susi pun langsung mengambilnya dua bungkus mie instan seharga 1500 rupiah per bungkusnya.


" Tumben Mbak beli mie instan biasanya beli makanan di restoran depan? " Susi bertanya sambil menyindir.


" Jangan banyak bicara kamu Susi cepetan mana kembaliannya. " pinta Nuryati dan Susi pun segera memberikan kembaliannya


Setelah mendapatkan kembaliannya Nuryati langsung pergi begitu saja dan tidak lagi menghiraukan ucapan Susi.


" Huuuu kualat kan, masih ada Adira aja semena-mena, sekarang rasakan kena karmanya kan? " Susi berbicara dengan suara yang sedikit di keraskan agar Nuryati mendengarnya.


Nuryati hanya bisa menahan emosinya di dalam hati karena untuk bertengkar dengan Susi, Nuryati tidak memiliki tenaga karena dia sedang kelaparan sekali. Setelah sampai di rumahnya Nuryati segera memasak dua bungkus mie instan tersebut dan langsung memakannya dengan deraian air mata.


Ingatannya langsung berputar saat dulu dirinya yang selalu makan dengan kenyang dan tidak pernah menyisakan sedikit pun makanan untuk Adira. Nuryati terus makan sambil menangis hingga mie tersebut habis bersama kuahnya.


" Ibu kenapa menangis? Maafin aku ya Bu tidak bisa membahagiakan Ibu? " ucap David yang sudah duduk di samping Ibunya.


" Tidak apa-apa nak, mungkin sudah nasib Ibu harus merasakan kepahitan seperti ini. " Jawab Nuryati yang masih enggan untuk mengakui semua kesalahan yang sudah dia lakukan pada Adira dulu.


Setelah itu Nuryati segera bangkit untuk mencuci piring bekas dia makan dan memasak, lagi-lagi Nuryati kembali teringat dengan Adira yang selalu membersihkan semua piring padahal dia yang sudah menghabiskan semua makanannya.


Lagi-lagi dan lagi rasa penyesalan kembali merasuk ke dalam hatinya dan Nuryati hanya bisa menangis karena untuk saat ini dirinya masih terlalu gengsi untuk mencari dan meminta maaf kepada Adira.


Selesai mencuci piring Nuryati pergi ke ruang keluarga untuk menonton televisi.


" Kamu mau kemana Aura? " tegur Nuryati saat melihat Aura yang sudah rapi sedang berjalan menuju ke pintu keluar.


" Bukan urusan Ibu. " jawab Aura dengan ketus sambil tetap melangkah menuju ke pintu keluar.

__ADS_1


__ADS_2